JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Monograf
ISBN : 979/82253/61/1
2006

 

Usahatani Jeruk Siam di Lahan Rawa Pasang Surut

Yanti Rina dan Noorginayuwati
Balal Penelitian Pertanian Lahan Rawa


Pendahuluan


Jeruk merupakan salah satu komoditas unggulan pertanian setelah rambutan dan jagung dalam pengembangan pertanian berwawasan agribisnis di propinsi Kalimantan Selatan. Oleh karena itu komoditas ini ditetapkan sebagai komoditas andalan karena sesuai dengan potensi sumber daya lahan, manusia (petani) dan sosial ekonomi masyarakat setempat.

Penanaman jeruk di Kalimantan Selatan sebagian besar dilakukan di lahan rawa pasang surut. Potensi lahan rawa pasang surut cukup besar untuk pengembangan usaha pertanian yang luasnya diperkirakan 20,1 juta dan sekitar 9 juta hektar diantaranya cocok untuk pertanian (Widjaya-Adhi eta!., 1992).

Jeruk merupakan tanaman yang telah lama dibudidyakan oleh petani lokal di lahan pasang surut. Dari segi penawaran buah domestik, jeruk menduduki peringkat kedua setelah pisang dan 12 jenis buah domestik utama di Indonesia (Amir, 1990).

Jeruk siam adalah salah satu tanaman hortikultura yang sifatnya tahunan dan produksinya sangat tergantung pada musim /iklim. Keadaan ini salah satu penyebab terjadinya fluktuasi jumlah dan harga jeruk yang dipasarkan. Produksi jeruk di Indonesia pada tahun 1999 sebanyak 664.052 ton meningkat tajam dalam 4- 5 tahun menjadi 1.529.824 ton pada tahun 2003. Produksi jeruk .Kalimantan Selatan sebanyak 75787 ton atau 4,95 % dan total nasional Indonesia. Namun demikian kenaikan produksi di Kalimantan Selatan cukup signifikan yaitu dari tahun 1999 sebesar 17.394 ton menjadi sebesar 75.787 ton pada tahun 2003 sehingga meningkat sebesar 58.393 ton atau 83,75 % (Pusat Data Informasi Pertanian, Deptan, 2004). Seiring dengan pertambahan penduduk dan meningkatnya kesadaran akan gizi untuk kesehatan. maka perluasan areal tanam jeruk terus ditingkatkan. Pengembangan jeruk di Kalimantan Selatan juga didukung kenyataan bahwa daerah Kalimantan selatan merupakan daerah bebas dan penyakit jeruk CVPD (Citrus Vien Ph/oem Degenaration),dengan Surat keputusan Menteri Pertanian No. 129/KPTSNm/1982 tentang larangan pengangkutan tanaman atau bibit jeruk yang terkena CVPD dan daerah lain yang terkena penyakit tersebut ke daerah yang masih bebas termasuk Kalimantan Selatan. (Anshori, 1992).