Senin, 14 Jun 2021

Inovasi Pengelolaan Lahan Rawa

Pengembangan lahan rawa untuk pertanian tercatat diawali pada tahun 1920-an melalui penempatan warga transmigrasi di kawasan lahan rawa, yang merupakan bagian dari pengembangan wilayah. Pembukaan lahan rawa pasang surut secara besar-besaran oleh Pemerintah RI dilakukan selama periode tahun 1979-1984, melalui Proyek Pembukaan Persawahan Pasang Surut (P4S) dibawah koordinasi Departemen Pekerjaan Umum (PU), yang direncanakan akan direklamasi seluas 5,25 juta hektar namun hanya sekitar 17% saja yang terealisasi. Lebih lanjut pada tahun 1996 dilakukan pembukaan lahan sejuta hektar yang dikenal dengan Proyek Pembukaan Lahan Gambut Sejuta Hektar (PLG) di Kalimantan Tengah, yang disebabkan oleh banyak faktor sehingga proyek PLG ini belum berhasil sesuai dengan konsep yang direncanakan sebelumnya.

Pemanfaatan lahan rawa pasang surut untuk pertanian sudah dilakukan ratusan tahun lamanya oleh masyarakat lokal (suku Banjar, Bugis dan Melayu) untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keperluan lainnya. Pengelolaan lahan rawa pasang surut ini masih dilakukan dengan bermodalkan pengetahuan yang sederhana (indigenous knowledge) dan dengan teknologi kearifan lokal (local wisdom) sehingga produktivitasnya sangat rendah dan hanya dapat memenuhi kebutuhan petani semata. Memang petani dalam mengelola lahan rawa pasang surut masih berorientasi hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, dan belum berorientasi untuk peningkatan produksi pangan nasional.

Meningkatnya kebutuhan pangan nasional sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk sekitar tiga persen per tahun, maka tidak ada pilihan lain bagi pemerintah untuk menyediakan pangan yang cukup, merata dan berkesinambungan untuk rakyatnya yang sudah 265 juta lebih jumlahnya. Oleh karena itu, pemerintah mengupayakan meningkatkan produksi pangan nasional setiap tahunnya. Berbagai Program untuk meningkatkan produksi pangan nasional sudah dilaksanakan oleh Pemerintah, antara lain: INMAS, INSUS, SUTPA, GEMAPALGUNG, P2BN, UPSUS PAJALE, terakhir Program #Serasi khusus untuk lahan rawa, yang semuanya bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan nasional agar tercapai Swasembada, Ketahanan, Kemandirian dan Kedaulatan Pangan Nasional, bahkan untuk mewujudkan cita-cita menjadi lumbung pangan (LPD) dunia tahun 2045.

Peringatan (warning) Organisasi Pangan Dunia (Food Agriculture Organization /FAO) bahwa pandemi Covid-19 akan berdampak pada ketersediaan pangan dunia dan pada gilirannya akan terjadi krisis pangan di beberapa negara, termasuk Indonesia. Untuk mengantisipasi krisis panganl tersebut, pemerintah Indonesia akan membangun food estate dalam bentuk korporasi di kawasan lahan rawa di Kalimantan Tengah. Pengembangan food estate di lahan rawa di atas merupakan suatu kebijakan yang tepat dan sangat strategis untuk mengantisipasi krisis pangan dan memperkokoh swasembada dan ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu, pengembangan food estate diperlukan inovasi teknologi pengelolaan lahan rawa pasang surut agar food estate tersebut dapat diwujudkan, sehingga krisis pangan dapat teratasi dengan baik. Di era Pemerintahan Kabinet Indonesia Maju, yang dimulai dari tahun 2019, motto pembangunan pertanian nasional adalah “Pertanian Maju, Mandiri dan Modern”. Tiga kata kunci, yaitu: maju, mandiri, modern melandasi pembangunan pertanian nasional saat ini, dan menjadi sumber motivasi dan inspirasi pembangunan pertanian nasional yakni menjadikan lahan rawa sebagai lumbung pangan nasional sehingga swasembada dan ketahanan pangan nasional tercapai, bahkan menjadikan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia tahun 2045. Penulisan buku ini bertujuan untuk mendokumentasikan inovasi teknologi terkini sebagai bahan acuan bagi semua yang berkepentingan. Buku ini diberi judul INOVASI TEKNOLOGI LAHAN RAWA: Menuju Pertanian Maju, Mandiri, dan Modern yang menyajikan hasil-hasil penelitian yang sudah dikemas sebagai inovasi teknologi di lahan rawa pasang surut yang siap didiseminasikan maupun diimplementasikan ke lapangan untuk mendukung pemanfaatan dan pengembangan lahan rawa pasang surut untuk pertanian, termasuk mendukung pengembangan food estate. Isi buku ini terdiri atas: Bab I: Pendahuluan, Bab II: Karakteristik Sumberdaya Lahan Rawa, Bab III: Pengelolaan dan Konservasi Lahan Rawa, Bab IV: Budidaya Tanaman Pertanian, Bab V: Sosial Ekonomi, Kelembagaan dan Kebijakan, dan bagian Penutup. Buku ini dapat menjadi acuan bagi peneliti untuk pengembangan teknologi ke depan menyesuaikan dengan perkembangan teknologi pendukung, masalah dan tantangan, dan dinamika permintaan pengguna masa mendatang. Para akademisi dan mahasiswa dapat memanfaatkan buku ini sebagai bahan referensi dan bahan ajar karena subtansi tulisan mencerminkan kemajuan-kemajuan terkini dalam teknologi pengelolaan lahan rawa. Para penyuluh juga dapat menjadikan tulisan dalam buku ini sebagai referensi utama dalam memperbaharui teknologi pengelolaan lahan dan tanaman di lahan rawa. Selain itu, buku ini juga dapat bermanfaat bagi petani, para pengambil kebijakan dan pemerhati dan pemangku kepentingan pengembangan pertanian dan ekonomi di wilayah lahan rawa. 

 

Attachments:
FileDescriptionFile sizeCreated
Download this file (Inovasi Lahan Rawa 16 Desember 2020 (1)-min.pdf)Download Buku 7194 kB2020-12-29 12:41

Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

Jl. Kebun Karet, Loktabat Utara
PO BOX 31, Banjarbaru 70712
Kalimantan Selatan

Telp/Fax : (0511) 4772534, 4773034
Email : balittra@pertanian.go.id

KAN

Statistik Website

Hari Ini : 884
Kemarin : 899
Minggu Ini : 884
Bulan Ini : 17082
Total : 163312

  • Alamat IP Anda : 3.238.249.157

Sedang Online :

12
Online

Agro
Institusi Litbang