JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

PESTISIDA NABATI RAWA

PESTISIDA NABATI RAWA

 

  

 

Untuk anda yang berada di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Palembang, Riau, Jambi dan beberapa daerah rawa lainnya di Indonesia tentunya sudah tidak asing dengan tanaman dan gulma seperti Cambai karuk, Bintaro, Kepayang/Kluwak, Galam, Jingah, Jengkol, Krinyu, Kipahit dan Babandotan/Bandotan. Tanaman-tanaman tersebut sangat mudah dijumpai karena beberapa diantaranya merupakan flora khas daerah rawa. Namun tahukah anda jika tumbuhan tersebut bisa diolah menjadi pestisida nabati?.

 

   

 

Selama ini sudah terlalu banyak zat kimia yang meracuni bumi ini. Sumbangan terbesar adalah dari sektor pertanian. Sudah saatnya kita mengembalikan alam dengan teknologi yang berbasis ramah lingkungan dengan memanfaatkan bahan-bahan nabati yang ada di lahan rawa. Di Lahan rawa ditemukan ribuan jenis spesies tumbuhan asal rawa yang mempunyai manfaat sebagai bahan pupuk, pestisida, obat-obatan, penyaring alami (biofilter), kosmetik dan sebagai tanaman pemulih alami (fitoremediasi ), serta bahan makanan (buah-buahan).  Menurut Asikin (2016), sudah terkoleksi sekitar 300 jenis tumbuhan rawa terdiri dari mulai tumbuhan gulma, semak hingga pepohonan. Jenis tumbuhan rawa yang berpotensi diolah menjadi pestisida nabati didapatkan sekitar 80 jenis terutama untuk hama ulat grayak, ulat jengkal, ulat plutella, ulat krop kubis, hama penggerek batang padi, hama putih dan hama putih palsu dan hama wereng coklat.

 

                                              Tabel 1. Rerata tingkat kematian larva beberapa hama terhadap pestisida nabati rawa

Jenis Ekstrak

Jenis hama/Mortalitas hama (%)

Grayak

Jengkal

Plutella

Krop Kubis

Ulat Buah

P.Batang

Wereng

Bintaro

81,5

80,0

81,0

81,5

80.0

80,0

100,0

Galam

80,0

90,0

82,5

80,0

81,0

80,0

100,0

Jingah

80,0

82,0

82,0

80,0

82,0

80,0

100,0

Jengkol

82,0

81,0

82,0

81,5

81,0

81,0

100,0

Kepayang/Keluak

85,0

82,5

83,0

81,5

81,0

82,0

100,0

Krinyu

83,0

81,5

81,0

81,0

80,0

82,0

100,0

Bandotan

81,0

80,5

80,0

80,0

80,0

80,0

95,0

Kipahit

81,0

80,0

80,0

80,0

80,0

80,0

95,0

                                                               Sumber : Asikin (2012 dan 2015)

 

Mumford dan Norton (1984) dalam Utami (2010), menjelaskan bahwa suatu insektisida dapat dikatakan efektif apabila mampu mematikan minimal 80% serangga uji. Tumbuhan  Cambai karuk, Bintaro, Galam, Jingah, Jengkol, dan Kepayang dapat digunakan untuk mengendalikan hama-hama sayuran dan beberapa hama padi (Penggerek batang dan hama wereng coklat).  Tumbuhan Krinyu, Babandotan/Bandotan, dan Kipahit juga dapat digunakan sebagai pengendali hama sayuran dan beberapa hama padi seperti penggerek batang, dan hama wereng coklat.  Selain itu menurut Rachman Sutanto (2002) dalam bukunya “Penerapan pertanian Organik”, mengatakan bahwa sesungguhnya penggunaan biopestisida ini telah lama dikenal dan diterapkan oleh nenek moyang kita sebagai salah satu kearifan lokal. Sangat disayangkan  bahwa kearifan lokal ini sudah banyak dilupakan oleh masyarakat kita, padahal keuntungan dari penerapannya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Bahan-bahan pembuatannya pun mudah dan relatif murah, bahkan terkadang melimpah di alam. Dalam kaitannya dengan program penerapan Sistem Pertanian Berkelanjutan, biopestisida merupakan salah satu komponen teknologi yang direkomendasikan oleh banyak ahli.

 

 

Respon positif pun datang dari Ir. Nurita (Peneliti Budidaya Tanaman di Balittra) ketika mencoba ekstra krinyu untuk disemprotkan ke tanaman anggrek yang terkena hama kutu putih. Menurut beliau, hama kutu putih yang menyerang bunga anggrek hilang hanya selang beberapa hari setelah disemprot ekstra krinyu. Pendapat lain datang dari Dr. Maulia Aries (Peneliti Hama Penyakit Tanaman (HPT) di Balittra), beliau mengatakan bahwa pestisida nabati sudah dipergunakan oleh petani cabai di Babirik, Kab. Hulu Sungai Utara. Petani ini murni menggunakan pestisida nabati tanpa tambahan pestisida kimia sama sekali. Didalam pestisida nabati terkandung bahan-bahan aktif seperti senyawa antifitopotogenik (antibiotika pertanian), senyawa bersifat fitotoksik atau mengatur tumbuh tanaman, hormon serangga, feromon, antifidan, repelen, atraktan dan insektisida, dan masih banyak lagi bahan aktif yang mampu bertindak layaknya pestisida kimia. Keuntungan yang dapat diperoleh dengan menggunakan pestisida nabati adalah sebagai berikut : 1.) Selama periode tanam hingga panen, tanaman terbebas dari serangan HPT namun musuh alami hama masih tergantikan sehingga rantai makanan tidak terputus begitu saja, 2.) Biaya produksi lebih bisa ditekan karena pestisida dibuat dari bahan-bahan alami yang ada di lokasi setempat, 3.) Cabai yang dibudidayakan berkualitas tinggi, 4.) Pendapatan petani meningkat. Namun demikian, aplikasi yang hanya mengandalkan ekstrak tanaman akan menghasilkan efektifitas yang kurang optimal. Aplikasi ke tanaman harus dilakukan berulang-ulang selama periode sebulan setelah tanam hingga mendekati masa panen (seminggu sekali). Untuk itu perlu dikembangkan formulasi insektisida nabati melalui beberapa penambahan bahan pembantu dan juga teknik formulasi secara tepat sehingga bisa melumpuhkan hama penyakit tanaman, namun aman untuk manusia dan lingkungan (lolos uji toksisitas). Dilain kesempatan, Basri petani di Desa Babirik, Kabupaten Hulu Sungai Utara mengatakan bahwa di desa nya bahan pembuat pestisida nabati sangat banyak, apabila ada yang memfasilitasi para petani sanggup menyediakan bahan dasarnya, bahkan kalau perlu bahan dasar tersebut bisa diproduksi dengan cara membudidayakan tanaman nya. Begitu besar semangat mereka dalam mengapresiasi pestisida nabati ini.

 

Selain untuk mengendalikan hama sayuran, ekstrak gulma tersebut mempunyai fungsi atau efek lain yaitu sebagai pupuk. Anggapan itu muncul dikarenakan tanaman yang diberi pestisida nabati memperlihatkan bentuk tanamannya lebih besar dan sehat. Fantastis bukan. Ternyata alam ini kaya akan bahan pestisida alami. Tinggal kita sebagai manusia mampu dan mau memanfaatkannya atau tidak. Salam hijau rawa Indonesia. (Oleh: Ir. Syaiful Asikin, Editor: Vika Mayasari)

 

 

 

 

Olah Tanah Sempurna Bersyarat Menekan Keracunan Besi

OLAH TANAH SEMPURNA BERSYARAT MENEKAN KERACUNAN BESI

PADA LAHAN SULFAT MASAM

 

 

Bukan hanya manusia, lahan juga bisa keracunan. Inilah fenomena yang terjadi pada rawa pasang surut dengan tipologi lahan sulfat masam dimana keracunan besi menjadi salah satu permasalahan. Lahan sulfat masam merupakan salah satu tipologi yang terdapat di kawasan lahan rawa pasang surut, luasnya mencapai 6,72 juta hektar atau sekitar 33,39% dari total luasnyaSangat potensial dimanfaatkan sebagai areal budidaya padi, namun memiliki karakteristik yang dapat dikatakan kurang menguntungkan, antara lain : produktivitas rendah, ditemukannya lapisan sulfida/pirit (FeS2) di dalam tanah, dan sering munculnya keracunan besi pada tanaman padi disebabkan terjadinya lapisan pirit yang terangkat keatas (mengalami oksidasi) dan menghasilkan besi dua (ferro). Untuk menekan oksidasi pirit ini, digunakanlah sistem Olah Tanah Sempurna Bersyarat (OTSB).

 

OTSB merupakan sistem penyiapan lahan yang dilakukan dengan cara melakukan pengolahan tanah dengan beberapa persyaratan. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal maka diberlakukan syarat sebagai berikut: (1) Kedalaman olah tanah kurang dari 20 cm, idealnya kedalaman olah tanah berkisar 12 -15 cm, (2) Saat mengolah tanah lahan/sawah dalam kondisi berair (tergenang) sampai keadaan macak-macak, dan (3) Mempertahankan kondisi lahan/sawah tetap berair. Oleh karena itu, dukungan sistem pengelolaan air merupakan salah satu syarat pada sistem OTSB untuk mendapatkan hasil padi yang tinggi di lahan sulfat masam.

 

 

Karakteristik pirit itu sendiri diantaranya adalah : (1) Akan tetap stabil di dalam tanah apabila tanah pada kondisi tergenang (anaerob/saturated), (2) Akan teroksidasi apabila pirit terangkat/ tereskpose ke permukaan tanah dan bereaksi dengan udara, dan/atau pirit berada di dalam tanah dimana permukaan air tanah sudah turun melampaui batas keberadaannya sehingga kondisi tanah menjadi kering (aerob). Mengapa bisa terjadi oksidasi pirit? Hal ini terjadi karena kesalahan ketika melakukan penyiapan lahan dan/atau pengolahan tanah, atau sistem penyiapan lahannya tidak benar. Keracunan besi pada tanaman padi sering muncul pada tanah-tanah dimana pirit sudah mengalami oksidasi (parah). Pada tanaman padi berlangsung apabila : (1)  mengolah tanah terlalu dalam (>20 cm), (2) mengolah tanah saat tanah dalam keadaan kering, (3) pirit terangkat ke permukaan tanah, dan (4) pirit mengalami oksidasi. Tanaman padi yang keracunan besi pertumbuhannya akan terhambat pada satu waktu, tumbuh kerdil dan anakannya sangat sedikit. Biasanya ditandai dengan gejala pada daun padi berwarna kecoklatan. Keracunan besi biasanya terjadi pada saat tanaman padi berumur 6 – 8 minggu setelah tanam. Untuk menghindari terjadinya oksidasi pirit, maka sistem penyiapan lahan/pengolahan tanah yang diterapkan harus memperhatikan kaidah konservasi lahan.

 

 

Menurut Ir. R. Smith Simatupang, MP pada penelitian sistem usahatani di Desa Karang Bunga Kecamatan Mandastana Kabuparen Barito Kuala, telah terbukti bahwa lahan sawah yang diolah sempurna dengan bajak atau rotari saat sawah berair tanaman padi terhindar dari keracunan besi dan hasil padi berkisar 4,5 t/ha gabah kering giling. Sebaliknya pada lahan yang diolah saat kering, tanaman padi mengalami keracunan besi dan hanya berkisar 30-40% tanaman yang dapat dipanen dengan hasil sangat rendah (< 3,0 t/ha). Penerapan sistem ini dapat meningkatkan hasil padi rata-rata berkisar 12,2% dibanding dengan pertanaman padi dimana tanahnya diolah saat sawah keadaan kering. Namun harus didukung penuh dengan sistem pengelolaan air yang baik pula, pungkasnya. Hal ini diakui oleh petani kooperator yakni Bapak Wagino dan Bapak Samingun yang melaksanakan kegiatan penelitian sistem usahatani, mengatakan bahwa OTSB adalah salah satu teknologi sistem penyiapan lahan yang cocok di lahan sulfat masam, mengolah tanah dengan sistem ini mereka bisa panen padi dengan hasil yang tinggi.

 

Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa keracunan besi di lahan sulfat masam bisa diatasi dengan perpaduan OTSB dan Pengelolaan Air yang baik. Tinggal bagaimana mensiasati kerjasama dalam pelaksanaan, monitoring, hingga pemeliharaan antara petani kooperator dengan Instansi terkait baik itu petugas penyuluh lapang, mantri tani, maupun Dinas Pertanian dan UPT Kementerian Pertanian yang ada. Salam Hijau Lestari.(Oleh: R. Smith Simatupang, Editor: Vika Mayasari)