JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Tumbuhan Liar/Gulma Kembang Bulan atau Kipahit Sebagai Pestisida

Tumbuhan Liar/Gulma Kembang Bulan atau Kipahit Sebagai Pestisida

 

Penyakit myiasis atau belatungan adalah infestasi larva lalat (Diptera) pada. Jaringan hidup. Penyakit ini bersifat zoonosis,menyerang semua jenis hewan vertebrata yang berdarah panas dan manusia.Infestasi larva diawali pada daerah kulit yang terluka, selanjutnya larva bergerak lebih dalam sampai kejaringan otot dan membuat terowongan sehingga menyebabkan daerah luka tersebut bengkak dan semakin lebar (Wardhana 2006).Kondisi ini mengakibatkan penderita mengalami demam karena reaksi radang, suhu tubuh meningkat, nafsu makan berkurang dan anemia (Humphrey et al.1980; Barhoom et al. 1998;Talari et al . 2002)

Umumnya Upaya pengendalian myasis selama ini menggunakan insektisida sintetik melalui pengobatan topikal (efek cerna) dan perendaman (dipping-efek kontak) (Wardhana 2006).  Namun penggunaan Insektisida sintetik terbukti menimbulkan dampak negatif seperti berkembangnya ras resisten, terbunuhnya musuh alami hama, keracunan pada manusia dan ternak peliharaan, kanker, residu pada daging dan susu, dan pencemaran lingkungan (De Roos et al. 2003). Oleh karena itu, perlu suatu alternatif pengendalian yang ramah lingkungan, dapat disiapkan sendiri oleh petani dengan bahan yang  tersedia di alam dan biaya yang terjangkau. Salah satu alternatifnya adalah dengan menggunakan insektisida asal tumbuhan yang biasa disebut insektisida nabati.

Kajian sebelumnya membuktikan bahwa keluarga tanaman yang bersifat sebagai insektisida nabati adalah Meliaceae, Annonaceae, Asteraceae, Piperaceae, dan Rutaceae.  Adapun diantara keluarga Asteraceae yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi insektisida nabati adalah tanaman Kipahit (Tithonia diversifolia A Gray).  Tanaman ini mengandung Senyawa golongan pestisida nabati dari ekstrak daun kembang bulan menunjukkan, semakin tinggi dosis pestisida nabati daun kembang bulan yang diberikan, maka semakin tinggi juga mortalitas larva Crocidolomia binotalis. Hal ini berkaitan dengan banyaknya jumlahkandungan bahan aktif dalam ekstrak daun kembang bulan. Persentase mortalitas larva instar III Crocidolomia binotalis mulai dari senyawa bio aktif yang terkandung dalam tanaman Kipahit dan bersifat larvasidal adalah seskuiterpenoid lakton (Pereira et al.1997; Goffin et al.2003). Senyawa ini termasuk monoterpen yang berperan penting dalam pertahanan tumbuhan terhadap serangan serangga atau pathogen lainnya. Sulistijowati & Gunawan (2001) berhasil mengidentifikasi 12 senyawa terpenoid, 14 senyawa flavonoid dan gula dengan metode kromatografi lapis tipis. Senyawa Monoterpen (a-pinine), sesquiterepen, falvonoid, triophenes dan senyawa yang bersifat minyak lainnya mampu membuka lapisan lipid bilayer yang terdapat di kutikula sehingga mengakibatkan cairan membran meningkat dan permeabilitas sel otot terganggu. Kondisi ini akan melemahkan gerakan serangga dan berakhir dengan kematian (Ivanice et al.2004). Menurut Ibrahim et al. (2001) senyawa monoterpen bersifat toksik dan masuk melalui lapisan kutikula (racun kontak), saluran pernafasan dan saluran pencernaan (racun cerna). Asam palmitat yang terkandung dalam daun Kipahit dilaporkan bersifat antifeedant sehingga serangga kehilangan nafsu makannya (Prarifitriya 2006)  (Syaiful Asikin)

 

Insektisida Nabati Berbahan Sirih Merah (Piper crocatum) Untuk Mengendalikan Hama Wereng Coklat (Nilavarpata lugen Stal.)

Insektisida Nabati Berbahan Sirih Merah (Piper crocatum) Untuk Mengendalikan Hama Wereng Coklat (Nilavarpata lugen Stal.)

 

 

Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

Wereng batang coklat Nilaparvata lugens Stal (Homoptera: Delphacidae) menyebabkan kerusakan yang serius pada tanaman padi di wilayah Asia (Kuno, 1979; Liu, 1983). Dalam upaya pengendalian wereng batang coklat (WBC), teknologi pengelolaan hama terpadu (PHT) dianggap sebagai teknologi yang tepat dan potensial untuk mengendalikan hama sekaligus mengurangi risiko penggunaan pestisida yang berbahaya bagi lingkungan (Gurr, 2009;  Arif Hermanto et al., 2014)

 Salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai pengendali hama wereng coklat adalah tanaman sirih merah. Daun sirih merah yang mengandung senyawa bioaktif yang diduga daya racunnya mampu menyebabkan kematian wereng coklat sebesar 79,4% yang dilihat dari hasil penelitian Riyadi (2013) aplikasi pestisida daun sirih merah 50 ml mampu mematikan hama Aphis glycines dengan kemampuan mematikan sebesar (91,37%) hal ini dikarenakan daun sirih merah memiliki kandungan senyawa fitokimia yakni alkaloid, saponin, tanin dan flavonoid (Manoi, 2007). selanjutnya Riady (2013) mengatakan aplikasi sebanyak 50 ml larutan daun sirih hijau mampu mematikan hama Aphis glycines sebesar (90,67%), dikarenakan adanya senyawa antifeedant yang terkandung dalam sirih sehingga A. Glycines kehilangan nafsu makan.  (Syaiful Asikin)