JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Teknik Persemaian Padi Lahan Lebak Dangkal

Teknik Persemaian Padi Lahan Lebak Dangkal

 

Beras/padi merupakan pangan utama sebagian besar penduduk indonesia. Lahan rawa lebak merupakan lumbung padi/beras nasional yang mampu mendukung dan mengamankan program ketahanan pangan. Oleh karena itu, maka kegiatan budidaya padi perlu lebih mendapatkan fokus perhatian lebih besar. Salah satu teknologi yang masih kurang mendapat perhatian diantaranya sistem persemaian. Komponen teknologi ini masih dianggap sepele padahal akan menyangkut pertumbuhan dan kesehatan bibit.  Pada fase awal pertumbuhan (bibit) akan menentukan fase-fase pertumbuhan selanjutnya. Untuk mendapatkan hasil yang tinggi, diperlukan penerapan teknologi inovatif yang sesuai karakteristiknya dan bersifat sinergis. Di antara teknologi tersebut, teknologi sistem persemaian (bibit sehat bervigor) bisa mempengaruhi hasil yang bisa diperoleh.  Yang dimaksud dengan persemaian sehat disini adalah sistem persemaian padi yang dapat menghasilkan bibit yang siap ditanam pada saatnya, bervigor, bebas dari penyakit fisiologis maupun non fisiologis. Untuk pembuatan persemaian padi di lahan lebak kita perlu memilih tempat persemaian yang agak tinggi supaya tidak kebanjiran dan kita perlu tempat untuk persemaian yang setengah kering.

 

Berikut cara pembuatan persemaian padi lahan lebak dangkal : pertama penyiapan lahan yaitu pembersihan lahan dari rerumputan, kemudian tanah digemburkan dan dibuat bedengan tinggi 10-15 cm lebar 150 cm dan parit 30-50 cm panjang menyesuaikan keadaan lahan, selanjutnya dikapur, kapur di campur dengan tanah kemudian bibit padi ditebar dengan kepadatan 5 kg bibit/luas 1,5 m x 10 m. Setelah itu disebar furadan dan pupuk kandang kemudian dilakukan pengairan secara merata baru ditutup dengan terpal agar bibit yang ada pertumbuhannya cepat dan merata, penutupan terpal juga untuk menanggulangi hama burung dll. Setelah 4-5 hari terpal bisa dibuka kemudian dilakukan pengairan. Pengairan selanjutnya dilakukan 2-3 hari sekali sampai padi siap tanam umur 20 hari di bisa dipindah di lahan lebak dangkal. Keperluan bibit dalam 1 hektar 30-35kg.(Ani Susilawati)

 

 

Irigasi Tetes untuk Sayuran di Lahan Rawa

Irigasi Tetes untuk Sayuran di Lahan Rawa

 

Berdasarkan pola pemanfaatan lahan rawa pasang surut, selain padi tanaman hortikultura dapat pula dikembangkan di lahan pasang surut tipe B dan C. Tanaman sayuran memberikan tambahan pendapatan bagi petani karena dapat dipanen mingguan. Budidaya tanaman sayuran pada musim kemarau periode kedua, Juni – September, akan dapat meningkatkan intensitas tanam dan menghasilkan tanaman di luar musim sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi.

 

Tanaman sayuran memerlukan ketersediaan air yang lebih banyak di musim kemarau sehingga perlu dilakukan penyiraman yang intensif agar dapat berproduksi dengan baik. Tanaman sayuran yang ditanam (kubis, cabai, tomat, terong, dan mentimun) rata-rata memerlukan air sebanyak 400–600 mm/tahapan pertumbuhannya.  Di lahan pasang surut, air yang tersedia di musim kemarau mempunyai kualitas yang rendah dengan pH < 3,0. Kualitas air yang tergolong baik (pH = 4,0) di musim kemarau hanya tersedia selama  2 – 3 jam dari masa pasang selama 5 – 6 jam  Untuk itu diperlukan cara perbaikan kualitas air dan cara pemberian yang efisien untuk mencukupi keperluan tanaman.

 

Mengingat terbatasnya ketersediaan air yang berkualitas, maka selanjutnya penggunaan air harus dilakukan secara hemat dan sekaligus “kena sasaran” di areal perakaran. Oleh karena itu sistem irigasi tetes sederhana merupakan salah satu solusinya (Gambar 1).

 

 

Gambar 1. sistem irigasi tetes sederhana di lahan sulfat masam aktual.

 

Pembuatan rangkaian irigasi tetes dari bahan yang mudah didapat dan dapat dirakit sendiri oleh petani mampu memberikan keperluan air yang efisien bagi tanaman sayuran selama pertumbuhannya. Selain mengefisienkan penggunaan air, penerapan irigasi tetes juga mengurangi kebutuhan akan tenaga kerja untuk penyiraman.  Pada musim kemarau, penyiraman merupakan komponen yang memerlukan biaya besar dalam budidaya sayuran. Berdasarkan hasil analisa usahatani sayuran (Balittra dan SPFS–FAO, 2004), penerapan irigasi tetes sederhana dapat mengurangi tenaga kerja untuk penyiraman sebesar 39 HOK atau senilai Rp 585.000,- dibandingkan dengan sistem petani/konvensional (penyiraman dengan gembor).

 

Hasil sayuran (Balittra dan SPFS–FAO, 2004) yang diperoleh pada penggunaan irigasi tetes sederhana dengan kualitas air yang diperbaiki  ditunjukkan oleh Gambar 2.  Konsistensi hasil yang lebih baik pada sistem irigasi tetes sederhana dibanding sistem petani/konvensional juga ditunjukkan pada percobaan yang dilakukan pada MK. 2005 ditunjukkan oleh Gambar 3 (Hairani dan Izzuddin, 2005). (Ani Susilawati).

 

Gambar 2.  Hasil tanaman sayuran di lahan sulfat masam aktual, tipologi C, Desa Barambai Kolam Kiri Dalam,

Kecamatan Barambai, Batola pada MK. 2004.

 

Gambar 3.    Hasil tanaman sayuran di lahan sulfat masam aktual, tipologi C, Desa Barambai Kolam Kiri Dalam,

Kecamatan Barambai, Batola pada MK. 2005