JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Gladiol Si Bunga Potong

Gladiol Si Bunga Potong yang Adaptif

Di Dataran Rendah

 

Bunga Gladiol tumbuh baik pada ketinggian 600-1400 m di atas permukaan laut. Gladiol merupakan bunga potong yang telah lama dikenal di Indonesia, dan sangat diminati masyarakat karena warna dan bentuknya yang indah. Bunga ini bernilai ekonomis karena banyak digunakan dalam acara perkawinan, seminar dan pertemuan resmi lainnya.

 

Masyarakat di Kalimantan Selatan juga sudah lama mengenal dan menggemari serta menggunakan bunga gladiol ini  dalam berbagai acara. Selama ini, bunga gladiol didatangkan dari  pulau Jawa. Sentra produksi bunga gladiol di Kabupaten Malang (Jawa Timur) dan Cipanas (Jawa Barat). Beberapa varietas unggul gladiol yang telah dilepas oleh Badan Litbang Pertanian diantararanya Clara, Fatimah, Nabila dan Kaifa. Peneliti Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa telah mencoba menanam tiga varietas gladiol yaitu Nabilla, Clara dan Fatimah di Banjarbaru, ternyata dapat tumbuh subur dan berbunga dengan indah.

 

Bunga gladiol dapat ditanam di dalam pot dengan cara seperti berikut: (1) tiap pot diisi tanah sebanyak 5 kg dan pupuk kandang 0,5 kg, (2) tiap pot ditanam dua umbi gladiol, (3) tanah selalu disiram agar kelembabannya terjaga, (4) setelah umbi tumbuh, pelihara dengan baik, diantaranya dibersihkan dari gulma (5) setiap minggu tanah di sekitar tanaman digemburkan dan dibumbun, agar udara dapat masuk ke dalam tanah sehingga akar dapat berkembang dengan baik, (6) beri ajir/tiang penyangga, untuk menyangga tangkai bunga, agar bunga tidak patah, dan (7) pot diletakkan pada halaman yang terkena langsung sinar matahari, karena tanaman ini kurang baik ditanam pada tempat yang ternaungi.

  

Penanaman tiga varietas  bunga gladiol di Kebun Percobaan Banjarbaru, menunjukkan bahwa jumlah bunga pertandan untuk varietas Nabila, Clara dan Fatimah masing masing sebesar 7,2;  10,0 dan 8,0 buah, sedangkan panjang tandan bunga masing-masing sebesar  46,0;  51,0 dan 49,5 cm. Hasil penelitian ini tidak  berbeda dengan hasil penelitian di dataran tinggi Malang dan Cipanas. Hal ini menunjukkan bahwa bunga galadiol adaptif di dataran rendah. (Rusmila Agustina - Balittra)