JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Olah Tanah Sempurna Bersyarat Menekan Keracunan Besi

OLAH TANAH SEMPURNA BERSYARAT MENEKAN KERACUNAN BESI

PADA LAHAN SULFAT MASAM

 

 

Bukan hanya manusia, lahan juga bisa keracunan. Inilah fenomena yang terjadi pada rawa pasang surut dengan tipologi lahan sulfat masam dimana keracunan besi menjadi salah satu permasalahan. Lahan sulfat masam merupakan salah satu tipologi yang terdapat di kawasan lahan rawa pasang surut, luasnya mencapai 6,72 juta hektar atau sekitar 33,39% dari total luasnyaSangat potensial dimanfaatkan sebagai areal budidaya padi, namun memiliki karakteristik yang dapat dikatakan kurang menguntungkan, antara lain : produktivitas rendah, ditemukannya lapisan sulfida/pirit (FeS2) di dalam tanah, dan sering munculnya keracunan besi pada tanaman padi disebabkan terjadinya lapisan pirit yang terangkat keatas (mengalami oksidasi) dan menghasilkan besi dua (ferro). Untuk menekan oksidasi pirit ini, digunakanlah sistem Olah Tanah Sempurna Bersyarat (OTSB).

 

OTSB merupakan sistem penyiapan lahan yang dilakukan dengan cara melakukan pengolahan tanah dengan beberapa persyaratan. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal maka diberlakukan syarat sebagai berikut: (1) Kedalaman olah tanah kurang dari 20 cm, idealnya kedalaman olah tanah berkisar 12 -15 cm, (2) Saat mengolah tanah lahan/sawah dalam kondisi berair (tergenang) sampai keadaan macak-macak, dan (3) Mempertahankan kondisi lahan/sawah tetap berair. Oleh karena itu, dukungan sistem pengelolaan air merupakan salah satu syarat pada sistem OTSB untuk mendapatkan hasil padi yang tinggi di lahan sulfat masam.

 

 

Karakteristik pirit itu sendiri diantaranya adalah : (1) Akan tetap stabil di dalam tanah apabila tanah pada kondisi tergenang (anaerob/saturated), (2) Akan teroksidasi apabila pirit terangkat/ tereskpose ke permukaan tanah dan bereaksi dengan udara, dan/atau pirit berada di dalam tanah dimana permukaan air tanah sudah turun melampaui batas keberadaannya sehingga kondisi tanah menjadi kering (aerob). Mengapa bisa terjadi oksidasi pirit? Hal ini terjadi karena kesalahan ketika melakukan penyiapan lahan dan/atau pengolahan tanah, atau sistem penyiapan lahannya tidak benar. Keracunan besi pada tanaman padi sering muncul pada tanah-tanah dimana pirit sudah mengalami oksidasi (parah). Pada tanaman padi berlangsung apabila : (1)  mengolah tanah terlalu dalam (>20 cm), (2) mengolah tanah saat tanah dalam keadaan kering, (3) pirit terangkat ke permukaan tanah, dan (4) pirit mengalami oksidasi. Tanaman padi yang keracunan besi pertumbuhannya akan terhambat pada satu waktu, tumbuh kerdil dan anakannya sangat sedikit. Biasanya ditandai dengan gejala pada daun padi berwarna kecoklatan. Keracunan besi biasanya terjadi pada saat tanaman padi berumur 6 – 8 minggu setelah tanam. Untuk menghindari terjadinya oksidasi pirit, maka sistem penyiapan lahan/pengolahan tanah yang diterapkan harus memperhatikan kaidah konservasi lahan.

 

 

Menurut Ir. R. Smith Simatupang, MP pada penelitian sistem usahatani di Desa Karang Bunga Kecamatan Mandastana Kabuparen Barito Kuala, telah terbukti bahwa lahan sawah yang diolah sempurna dengan bajak atau rotari saat sawah berair tanaman padi terhindar dari keracunan besi dan hasil padi berkisar 4,5 t/ha gabah kering giling. Sebaliknya pada lahan yang diolah saat kering, tanaman padi mengalami keracunan besi dan hanya berkisar 30-40% tanaman yang dapat dipanen dengan hasil sangat rendah (< 3,0 t/ha). Penerapan sistem ini dapat meningkatkan hasil padi rata-rata berkisar 12,2% dibanding dengan pertanaman padi dimana tanahnya diolah saat sawah keadaan kering. Namun harus didukung penuh dengan sistem pengelolaan air yang baik pula, pungkasnya. Hal ini diakui oleh petani kooperator yakni Bapak Wagino dan Bapak Samingun yang melaksanakan kegiatan penelitian sistem usahatani, mengatakan bahwa OTSB adalah salah satu teknologi sistem penyiapan lahan yang cocok di lahan sulfat masam, mengolah tanah dengan sistem ini mereka bisa panen padi dengan hasil yang tinggi.

 

Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa keracunan besi di lahan sulfat masam bisa diatasi dengan perpaduan OTSB dan Pengelolaan Air yang baik. Tinggal bagaimana mensiasati kerjasama dalam pelaksanaan, monitoring, hingga pemeliharaan antara petani kooperator dengan Instansi terkait baik itu petugas penyuluh lapang, mantri tani, maupun Dinas Pertanian dan UPT Kementerian Pertanian yang ada. Salam Hijau Lestari.(Oleh: R. Smith Simatupang, Editor: Vika Mayasari)