JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Irigasi Tetes untuk Sayuran di Lahan Rawa

Irigasi Tetes untuk Sayuran di Lahan Rawa

 

Berdasarkan pola pemanfaatan lahan rawa pasang surut, selain padi tanaman hortikultura dapat pula dikembangkan di lahan pasang surut tipe B dan C. Tanaman sayuran memberikan tambahan pendapatan bagi petani karena dapat dipanen mingguan. Budidaya tanaman sayuran pada musim kemarau periode kedua, Juni – September, akan dapat meningkatkan intensitas tanam dan menghasilkan tanaman di luar musim sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi.

 

Tanaman sayuran memerlukan ketersediaan air yang lebih banyak di musim kemarau sehingga perlu dilakukan penyiraman yang intensif agar dapat berproduksi dengan baik. Tanaman sayuran yang ditanam (kubis, cabai, tomat, terong, dan mentimun) rata-rata memerlukan air sebanyak 400–600 mm/tahapan pertumbuhannya.  Di lahan pasang surut, air yang tersedia di musim kemarau mempunyai kualitas yang rendah dengan pH < 3,0. Kualitas air yang tergolong baik (pH = 4,0) di musim kemarau hanya tersedia selama  2 – 3 jam dari masa pasang selama 5 – 6 jam  Untuk itu diperlukan cara perbaikan kualitas air dan cara pemberian yang efisien untuk mencukupi keperluan tanaman.

 

Mengingat terbatasnya ketersediaan air yang berkualitas, maka selanjutnya penggunaan air harus dilakukan secara hemat dan sekaligus “kena sasaran” di areal perakaran. Oleh karena itu sistem irigasi tetes sederhana merupakan salah satu solusinya (Gambar 1).

 

 

Gambar 1. sistem irigasi tetes sederhana di lahan sulfat masam aktual.

 

Pembuatan rangkaian irigasi tetes dari bahan yang mudah didapat dan dapat dirakit sendiri oleh petani mampu memberikan keperluan air yang efisien bagi tanaman sayuran selama pertumbuhannya. Selain mengefisienkan penggunaan air, penerapan irigasi tetes juga mengurangi kebutuhan akan tenaga kerja untuk penyiraman.  Pada musim kemarau, penyiraman merupakan komponen yang memerlukan biaya besar dalam budidaya sayuran. Berdasarkan hasil analisa usahatani sayuran (Balittra dan SPFS–FAO, 2004), penerapan irigasi tetes sederhana dapat mengurangi tenaga kerja untuk penyiraman sebesar 39 HOK atau senilai Rp 585.000,- dibandingkan dengan sistem petani/konvensional (penyiraman dengan gembor).

 

Hasil sayuran (Balittra dan SPFS–FAO, 2004) yang diperoleh pada penggunaan irigasi tetes sederhana dengan kualitas air yang diperbaiki  ditunjukkan oleh Gambar 2.  Konsistensi hasil yang lebih baik pada sistem irigasi tetes sederhana dibanding sistem petani/konvensional juga ditunjukkan pada percobaan yang dilakukan pada MK. 2005 ditunjukkan oleh Gambar 3 (Hairani dan Izzuddin, 2005). (Ani Susilawati).

 

Gambar 2.  Hasil tanaman sayuran di lahan sulfat masam aktual, tipologi C, Desa Barambai Kolam Kiri Dalam,

Kecamatan Barambai, Batola pada MK. 2004.

 

Gambar 3.    Hasil tanaman sayuran di lahan sulfat masam aktual, tipologi C, Desa Barambai Kolam Kiri Dalam,

Kecamatan Barambai, Batola pada MK. 2005