JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

INOVASI TEKNOLOGI LAHAN RAWA

INOVASI TEKNOLOGI LAHAN RAWA

Masalah utama pengembangan pertanian di laha rawa adalah: (1) kuantitas air berlebih atau kekurangandan kualitas air buruk karena mengandung unsur atau senyawa racun, (2) kemasaman tanah tinggi, (3)keracunan besi, (4) ketersediaan hara rendah, (5) organisme pengganggu tanaman, dan (6) lain-lain. Dengan demikian maka untuk meningkatkan produktivitas lahan rawa perlu mempertimbangkan permasalahan tersebut di atas. Hingga saat ini telah banyak teknologi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian untuk meningkatkan produktivitas lahan rawa, antara lain: (1) Inpara (Inbrida Padi Rawa, (2) Sistak dan Stoplog, (3) Sistem surjan, (4) Biotara dan Biosure, (5) Ratel.

1. Inpara (InbridaPadiRawa)

Inpara (inbrida padi rawa)adalah varietas padi yang adaptif di lahan rawa. Varietas ini toleran terhadap keracunan Al, Fe, dan rendaman, serta memiliki potensi hasil tinggi sekitar 5,6 ? 7,6 t/ha. Pengembangannya diarahkan untuk lahan rawa pasang surut (potensial dan sulfat masam), lebak (dangkal, sedang) dan lebak irigasi. Ada 6 varietas Inpara yang telah dilepas oleh Badan Litbang Pertanian, yaitu Inpara 1, 2, 3, 4, 5 dan 6. Deskripsi sifat-sifat Inpara tercantum pada Tabel 1.

Sifat-sifat

Varietas

Inpara 1

Inpara 2

Inpara 3

Inpara 4

Inpara 5

Inpara 6

Umur (hari)

131

128

127

135

115

117

Rata-rata hasil (t/ha)

5,0

5,1

4,6

4,7

4,5

4,7

Potensi hasil (t/ha)

6,47

6,08

5,6

7,6

7,2

6,0

Ketahanan terhadap cekaman abiotik

Toleran keracunan Fe dan Al

Toleran keracunan Fe dan Al

Toleran keracunan Fe, Al, rendaman 6 hari fase vegetatif

Toleran rendaman 14 hari fase vegetatif

Toleran rendaman 14 hari fase vegetatif

Toleran keracunan Fe

Anjuran tanam

Pasang surut dan lebak

Pasang surut dan lebak

Pasang surut, lebak sawah irigasi

Pasang surut, lebak, sawah rawan banjir

Lebak dangkal dan sawah rawan banjir

Pasang surut potensial dan lebak

Gambar 1.Inpara varietas padi adaftif lahan rawa

2. Sistak dan Stoplog

Sistak (sistem tata air satuarah dan tabat konservasi) adalah sistem aliran air satu arah pada saluran tersier dengan menggunakan pintu kombinasi, yaitu pintu ayun yang digunakan saat pasang dan pintu stoplog yang digunakan untuk menahan air disaat surut. Stoplog adalah pintu penahan air pada saluran tersier atau pada kuarter. Pintu tersebut sangat berguna untuk mengendalikan muka air sesuai ketinggian yang diinginkan dan berguna untuk menahan air pada musim kemarau. Sistem ini sangat berguna untuk (1) membuang unsur atas senyawa racun, (2) meningkatkan indeks pertanaman (IP), (3) meningkatkan produksi tanaman, dan (4) mengkonservasiair dan tanah.

Gambar 2.Sistak (sistemtata air satu arah dan tabat konservasi

3. Sistem Surjan

Surjan mengandung pengertian meninggikan sebagian tanah dengan menggali atau mengeruk tanah di sekitarnya. Bagian lahan yang ditinggikan disebut tembokan (raise beds), sedang wilayah yang digali atau di bawah disebut tabukan (sunkens beds). Lahan bagian atas di tanami tanaman palawija (jagung, kedelai, kacang-kacangan, dan umbi-umbian), hortikultura, buah-buahan, dan juga tanaman perkebunan, sedang lahan bagian bawah (tabukan) ditanami padi sawah.? Lebar tembokan sekitar 3-5 m dan tinggi 0,5-0,6 m, sedangkan tabukan dibuat dengan lebar 15 m. Setiap ha lahan dapat dibuat sekitar 6-10 tembokan dan 5-9 tabukan.Tujuan pokok dari sistem surjan di lahan pasang surut ini adalah (1) untuk mengurangi risiko kegagalan usaha tani, (2) meningkatkandiversifikasitanaman, dan (3) meningkatkanpendapatanpetanikarenacropping intensitybertambah.

Gambar 3.Sistem surjan

4. Biotara dan Biosure

Biotara merupakan pupuk hayati rawa agar tanaman tumbuh baik ditanah sulfatmasam. Pupuk ini mampu meningkatkan efisiensi pemupukan N dan Plebihdari 30% dan meningkatkan hasil padi lebih dari 20%. Biosure juga pupuk hayati rawa yang mampu mengurangi kemasaman tanah sehingga dapat mengurangi kebutuhan kapur hingga 80% dan mampu meningkatkan hasil padi lebih dari 20%.

Gambar 4.Pupuk hayat iBiotara dan Biosure

5. Ratel

Ratel (Rat Eliminator) adalah alat untuk mengendalikan hama tikus di lahan sawah dengan cara fumigasi. Alat ini efektif menurunkan populasi tikus hingga 80% sehingga dapat menghindari risiko gagal panen (40-80%) akibat serangan tikus.

Gambar 5.Ratel efektif mengendalikan hama tikus rawa

?

Dedi Nursyamsi

Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (BALITTRA)

Jl Kebun Karet, Lotabat Utara, Banjarbaru, Kalimantan Selatan,

E-mail: ddnursyamsi@yahoo.com

Tilp/fax: 0511 4772534, HP: 081585787696

?

?

?

?

?

?

Inpara: Varietas Padi Adaptif Rawa

Inpara: Varietas Padi Adaptif Rawa

Koesrini dan Dedi Nursyamsi

Lahan rawa merupakan lahan marjinal yang memiliki potensi cukup besar untuk pengembangan padi. Di Indonesia dipekirakan terdapat 33,4 juta ha lahan rawa, 9,5 juta ha diantaranya berpotensi untuk dijadikan lahan pertanian. Lahan yang sudah direklamasi sekitar 5,4 juta ha terdiri dari 4,1 juta ha lahan pasang surut dan 1,3 juta ha lahan lebak. Pengembangan padi ke lahan rawa merupakan salah satu alternatif untuk menunjang program peningkatan produksi beras nasional (P2BN) dan mengantisipasi penciutan lahan produktif yang terus berlangsung di sentra produksi padi di Pulau Jawa. Program tersebut dikembangkan dengan melakukan intensifikasi melalui peningkatan indeks pertanaman atau peningkatan produktivitas dan perluasan areal tanam ke lahan-lahan sub-optimal termasuk ke lahan rawa.

 

Gambar 1. Lahan rawa siap menjadi lumbung pangan nasional

Penanaman padi di lahan rawa terutama diarahkan pada lahan pasang surut tipe luapan air A dan B untuk padi sawah dan lahan tipe luapan air C untuk padi gogo. Di lahan lebak, padi dapat ditanam di lahan lebak dangkal dan tengahan. Indeks pertanaman (IP) padi di lahan rawa saat ini diperkirakan baru 1,05, yaitu umumnya lahan rawa hanya ditanami padi lokal/unggul satu kali dalam setahun. Penggunaan varietas unggul padi rawa yang berumur lebih genjah dan berproduksi lebih tinggi daripada padi lokal dapat meningkatkan indeks pertanaman dan produksi padi nasional. Peningkatan indeks pertanaman dan produksi padi akan memberikan sumbangan yang cukup besar dalam peningkatan produksi beras nasional.

Permasalahan

Masalah utama peningkatan produksi padi di lahan rawa adalah kondisi biofisik lahan (terutama masalah air dan kesuburan tanah), kondisi sosial ekonomi yang berhubungan dengan sumber daya manusia (petani), keterbatasan sarana dan prasarana, dan kebijakan yang belum berpihak pada optimasi pemanfaatan lahan marjinal. Padi dapat tumbuh dengan baik di lahan rawa pasang surut dan lebak apabila lahannya dikelola dengan baik. Pada lahan bukaan baru dengan tingkat kemasaman tanah sangat masam (pH<4) dan kandungan Fe2+ cukup tinggi (300-400 ppm), penanaman padi unggul di lokasi tersebut jarang berhasil, karena kondisi cekaman biofisik lahan sangat berat. Perlu teknologi ameliorasi dan pengelolaan air yang tepat agar lahan dapat dimanfaatkan dengan baik untuk penanaman padi unggul. Padi lokal terutama jenis siam cukup adaptif pada kondisi lahan tersebut, tetapi umumnya hasilnya rendah. Petani padi di lahan pasang surut dominan menanam padi lokal, karena kemampuan adaptasinya yang baik, input produksi yang diperlukan rendah, sehingga biaya produksi dapat ditekan. Kebutuhan petani untuk menanam padi sebagian besar masih untuk mencukupi konsumsi keluarga bukan untuk keperluan bisnis.

Teknologi Pengelolaan Lahan Rawa

Dalam rangka peningkatan kesejahteraan petani di lahan rawa, baik lahan rawa pasang surut maupun lahan lebak, perlu adanya inovasi teknologi pengelolaan lahan rawa, sehingga lahan rawa dapat dimanfaatkan dengan lebih baik lagi. Kunci utama pengelolaan lahan rawa adalah pengelolaan lahan, hara dan air yang tepat serta penggunaan varietas yang adaptif. Bila keempat komponen teknologi tersebut dapat saling bersinergi, maka akan menghasilkan pertumbuhan dan produksi padi yang optimum. Perbaikan kondisi biofisik lahan melalui perbaikan sistem tata air, ameliorasi, pemupukan organik maupun anorganik dan penggunaan varietas adaptif dapat meningkatkan kualitas lahan rawa. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan pengelolaan air, ameliorasi dan pupuk dan penggunaan varietas adaptif, hasil padi di lahan rawa dapat ditingkatkan.

Inpara (Inbrida Padi Rawa)

Inpara (inbrida padi rawa) merupakan varietas padi yang dilepas untuk adaptasi di lahan rawa. Sejak tahun 2008, sistem pemberian nama padi unggul mengalami perubahan, tidak lagi menggunakan nama sungai, tetapi berdasarkan agroekosistem. ?Inpara untuk padi rawa, Inpari untuk padi irigasi, dan Inpago untuk padi gogo. Ada 6 varietas padi rawa yang telah dilepas oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, yaitu Inpara 1, 2, 3, 4, 5 dan 6. Deskripsi sifat-sifat Inpara tercantum pada Tabel 1.

Tabel 1. Deskripsi Inpara

Sifat-sifat

Varietas

Inpara 1

Inpara 2

Inpara 3

Inpara 4

Inpara 5

Inpara 6

Asal seleksi

Batang Ombilin/IR9884-54-3

Pucuk/Cisanggarung/Sita

IR69256/IR43524-55-1-3-2

Introduksi dari IRRI

Introduksi dari IRRI

IR64/IRBB21/IR51672

Umur (hari)

131

128

127

135

115

117

Bentuk tanaman

Tegak

Tegak

Tegak

Tegak

Tegak

Tegak

Tinggi tanaman (cm)

111

103

108

94

92

99

Anakan produktif

18

16

17

18

18

13

Kerebahan

Sedang

Sedang

Sedang

Tahan

Sedang

Tahan

Kerontokan

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Bentuk gabah

Sedang

Sedang

Ramping

Sedang

Ramping

Sedang

Tekstur nasi

Pera

Pulen

Pera

Pera

Sedang

Sedang

Kadar amilosa (%)

27,9

22,1

28,6

29

25,2

24,0

Indeks glikemik

-

-

59,2

50,9

59

-

Berat 1000 butir (g)

23,3

25,6

25,7

19,5

25

26

Rata-rata hasil (t/ha)

5,0

5,1

4,6

4,7

4,5

4,7

Potensi hasil (t/ha)

6,47

6,08

5,6

7,6

7,2

6,0

Ketahanan terhadap cekaman abiotik

Toleran keracunan Fe dan Al

Toleran keracunan Fe dan Al

Toleran keracunan Fe, Al, rendaman 6 hari fase vegetatif

Toleran rendaman 14 hari fase vegetatif

Toleran rendaman 14 hari fase vegetatif

Toleran keracunan Fe

Anjuran tanam

Pasang surut dan lebak

Pasang surut dan lebak

Pasang surut, lebak sawah irigasi

Pasang surut, lebak, sawah rawan banjir

Lebak dangkal dan sawah rawan banjir

Pasang surut potensial dan lebak

Pemulia

Bambang Kustianto dkk

Bambang Kustianto dkk

Hamdan Pane dkk

D.J. Mackill dkk

D.J. Mackill dkk

Aris Hairmansis dkk

Dilepas tahun

2008

2008

2008

2010

2010

2010

Setiap varietas memiliki adaptasi yang spesifik terhadap lingkungannya. Penanaman padi rawa di daerah yang sesuai wilayah adaptasinya akan membuat tanaman tumbuh baik dan produksi padi maksimal. Sebaliknya penanaman padi rawa di luar wilayah adaptasinya, sering mengalami kegagalan. Potensi hasil varietas Inpara rata-rata di atas 5 t/ha dan cukup berpotensi untuk dikembangkan di wilayah adaptasinya masing-masing.

Umur padi rawa relatif lebih genjah dibandingkan padi lokal yang berumur 7-9 bulan. Diantara varietas padi rawa, Inpara 5 tergolong berumur paling genjah, sedangkan Inpara 4 berumur paling dalam. Oleh karena itu, umur panen perlu dipertimbangkan dalam penentuan varietas yang akan ditanam. Selain umur panen, rasa nasi juga turut berperan dalam pengembangan varietas di lahan rawa. Pada umumnya petani di lahan rawa (seperti di Kalimantan Selatan) meyukai rasa nasi yang pera. Varietas dengan rasa nasi pera punya peluang untuk dikembangkan di lahan rawa terutama lahan pasang surut. Inpara 1, 3 dan 4 memiliki rasa nasi pera, Inpara 5 dan 6 rasa nasi sedang dan Inpara 2 rasa nasi pulen.

Adaptasi varietas Inpara di lahan rawa cukup bervariasi. Hasil observasi di lapang menunjukkan bahwa adaptasi varietas Inpara 2, Inpara 3 dan Inpara 4 cukup baik di lahan pasang surut, sedangkan varietas Inpara 5 kurang baik. Varietas Inpara 3 memiliki adaptasi yang luas, dapat ditanam dengan hasil baik di lahan pasang surut sulfat masam dan bergambut, lahan lebak, lahan tadah hujan dan lahan irigasi. Di lahan lebak, selain Inpara 3, pertumbuhan varietas Inpara 2 dan Inpara 4 cukup baik. Varietas Inpara 4 memiliki adaptasi yang cukup baik di lahan lebak, tetapi umurnya lebih panjang dari Inpara 2 dan 3, sehingga pada daerah yang periode keringnya hanya 3-4 bulan, varietas tersebut akan mengalami kekeringan pada periode pengisian biji. Di lahan sawah irigasi, pertumbuhan varietas Inpara 5 cukup baik. Varietas Inpara 5 sangat peka dengan kondisi stress air. Varietas tersebut memerlukan kondisi air tergenang karena bila mengalami fase kekeringan akan muncul gejala mirip penyakit blas.


Inpara 2 cukup adaptif di lahan lebak ?????????? Inpara 3 memiliki adaptasi luas dan pasang surut


Inpara 4 memiliki potensi hasil tinggi????? ?? ?? Inpara 5 cukup adaptif dilahan lebak&lahan irigasi

Saat ini pengembangan padi rawa dinilai masih belum meluas di kalangan petani lahan rawa. Hal ini terlihat dari permintaan benih padi rawa masih terbatas. Dua varietas dominan yang banyak diminati petani adalah Ciherang dan Mekongga. Petani suka kedua varietas tersebut karena produktivitasnya tinggi dan benih cukup tersedia di pasaran. Sedangkan ketersediaan benih padi rawa masih terbatas dan diseminasinya juga belum meluas. Kedua hal tersebut boleh jadi menjadi penyebab belum berkembangnya varietas Inpara di kalangan petani rawa.

Badan Penelitian dan Pegembangan Pertanian melalui UPBS di Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) melakukan terobosan dengan memproduksi benih padi rawa dan sekaligus mendesiminasikan varietas Inpara agar lebih dikenal dan diadopsi petani. Varietas Inpara berpeluang dikembangkan di lahan sub-optimal seperti di lahan rawa. Pada lahan lebak dengan kendala genangan air, ternyata varietas Inpara 3 mampu tumbuh dan berproduksi cukup baik, dibandingkan varietas Ciherang yang tidak tahan genangan. Pada lahan pasang surut dengan kendala kemasaman tanah dan keracunan besi, ternyata varietas Inpara 3 dan 4 juga mampu tumbuh dan berproduksi lebih baik dibandingkan dengan varietas Ciherang. Varietas Ciherang akan berproduksi baik pada daerah dengan kondisi lahan yang baik, sedangkan pada daerah dengan kendala kemasaman atau keracunan besi tinggi, varietas ini kurang adaptif.

Hingga saat ini padi lokal masih mendominasi pertanaman padi di lahan rawa terutama lahan pasang surut. Padi lokal berumur 7-9 bulan dengan produktivitas sekitar 2 t/ha sehingga dalam satu tahun lahan rawa hanya bisa ditanami 1 kali (IP 1,00). Kontribusi varietas unggul terhadap peningkatan produksi padi di lahan rawa? sangat signifikan karena selain berpeluang meninkatkan IP, juga dapat meningkatkan produktivitas. Skenario peningkatan produksi padi di lahan rawa seluas 2,7 juta ha (50 % dari 5,4 juta ha lahan rawa yang sudah dikembangkan) disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Perkiraan produksi padi di lahan rawa pada 3 kondisi Indeks Padi (IP)

Kondisi pertanaman

Luas lahan rawa (ha)

Potensi hasil (t) asumsi 1

Potensi hasil (t) asumsi 2

Potensi hasil asumsi 3

Potensi hasil (t) asumsi 4

IP 1,05 (saat ini)

2.700.000

5.670.000

8.505.000

11.340.000

14.175.000

IP 1,50

2.700.000

8.100.000

12.150.000

16.200.000

20.250.000

IP 2,00

2.700.000

10.800.000

16.200.000

21.600.000

27.000.000

Keterangan: (1) asumsi produktivitas 2 t/ha, (2) Asumsi produktivitas? 3 t/ha, (3) asumsi produktivitas 4 t/ha, dan (4) asumsi produktivitas 5 t/ha

Bila saat ini luas lahan rawa yang bisa ditanami padi lokal 2,7 juta ha, IP 1,05, produktivitas 2 t/ha maka potensi hasil padi rawa saat ini hanya sebesar 5,67 juta t/th. Selanjutnya bila Inpara digunakan di lahan yang sama maka sesungguhnya IP berpeluang meningkat dari 1,05 menjadi 1,50 dan produktivitas meningkat dari 2 menjadi 4 t/ha sehingga potensi hasil padi meningkat menjadi 16,20 juta t/th atau ada peningkatan produksi sebesar 10,53 juta t/th. Apalagi bila IP bisa ditingkatkan menjadi 2,00 dengan produktivitas Inpara 5 t/ha maka potensi hasil menjadi 27 juta t/th atau terjadi peningkatan produksi sebesar 21,33 juta t/th. Selanjutnya bila rendemen beras dari gabah sebesar 60%, maka untuk peningkatan IP Inpara menjadi 1,05 dan produktivitas menjadi 4 t/ha akan menghasilkan tambahan produksi beras dari rawa sebesar 6,32 juta t/th atau dalam 2 tahun sebesar 12,64 juta ton. Dengan demikian maka target Kementerian Pertanian untuk surplus beras nasional 10 juta ton pada tahun 2014 dapat tercapai dari lahan rawa.