JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Insektisida Nabati Berbahan Sirih Merah (Piper crocatum) Untuk Mengendalikan Hama Wereng Coklat (Nilavarpata lugen Stal.)

Insektisida Nabati Berbahan Sirih Merah (Piper crocatum) Untuk Mengendalikan Hama Wereng Coklat (Nilavarpata lugen Stal.)

 

 

Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

Wereng batang coklat Nilaparvata lugens Stal (Homoptera: Delphacidae) menyebabkan kerusakan yang serius pada tanaman padi di wilayah Asia (Kuno, 1979; Liu, 1983). Dalam upaya pengendalian wereng batang coklat (WBC), teknologi pengelolaan hama terpadu (PHT) dianggap sebagai teknologi yang tepat dan potensial untuk mengendalikan hama sekaligus mengurangi risiko penggunaan pestisida yang berbahaya bagi lingkungan (Gurr, 2009;  Arif Hermanto et al., 2014)

 Salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai pengendali hama wereng coklat adalah tanaman sirih merah. Daun sirih merah yang mengandung senyawa bioaktif yang diduga daya racunnya mampu menyebabkan kematian wereng coklat sebesar 79,4% yang dilihat dari hasil penelitian Riyadi (2013) aplikasi pestisida daun sirih merah 50 ml mampu mematikan hama Aphis glycines dengan kemampuan mematikan sebesar (91,37%) hal ini dikarenakan daun sirih merah memiliki kandungan senyawa fitokimia yakni alkaloid, saponin, tanin dan flavonoid (Manoi, 2007). selanjutnya Riady (2013) mengatakan aplikasi sebanyak 50 ml larutan daun sirih hijau mampu mematikan hama Aphis glycines sebesar (90,67%), dikarenakan adanya senyawa antifeedant yang terkandung dalam sirih sehingga A. Glycines kehilangan nafsu makan.  (Syaiful Asikin)

 

 

 

 

Dua Jenis Gulma sebagai Pestisida Nabati terhadap Ulat Krop Kubis

Dua Jenis Gulma sebagai Pestisida Nabati terhadap Ulat Krop Kubis

(Crocidolomia pavartata)

 

Hama krop kubis merupakan salah satu hama penting pada pertanaman sayuran sawi di lahan rawa pasang surut. Stadium yang paling merusak adalah pada fase instar 2 dan 3. Adapun tingkat serangan hama ini berkisar antara 70-80% dan bahkan dapat menyebabkan gagal panen pada lokasi yang tidak dikendalikan. Dalam mengendalikan hama ini biasanya selalu bermitra dengan bahan nkimia beracun atau yang disebut dengan pestisida kimiawi. Untuk mengurangi terjadinya dapak negatif dari penggunaan bahan beracun tersebut maka perlu dicari alternatif pengendalian dengan memanfaatkan bahan tanaman atau yang disebut dengan pestisida nabati. Pestisida nabati berasal dari bahan tanaman yang cepat terdegredasi, cepat menguap, murah dan mudah di aplikasikan, tetapi hanya saja penggunaannya relatif lebih sering. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak tumbuhan Babadotan dan Krinyu dapat digunakan untuk menendalikan hama krop kubis dengan mortalitas larva masing-masing 80,0% dan 82,5%. Sedangkan untuk dilapangan kedua jenis ekstrak tersebut masing-masing intensitas kerusakan sekitar 7,5% dan 10,0% pada perlakuan ekstrak tumbuhan krinyu dan Babadotan,dan pada perlakuan kontrol tanpa pengendalian sekitar 60-75,0%. Dengan demikian kedua jenis gulma ini dapat digunakan sebagai pestisida nabati.  (Syaiful Asikin, asikin_balittra@yahoo.co.id)