JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

SISTEM SURJAN DI RAWA UNTUNGKAN PETANI

SISTEM SURJAN DI RAWA UNTUNGKAN PETANI

 

Pernahkah anda mendengar istilah sistem surjan?. Jika belum mari kita bahas terlebih dahulu. Bukan hanya baju daerah, kata surjan digunakan sebagai penamaan sebuah sistem penataan lahan di rawa yaitu gabungan dari pengelolaan lahan basah dan kering dengan bidang permukaaan sejajar dan berselingan pada sebidang lahan layaknya motif baju surjan. Lahan basah dapat ditanami padi, sedangkan pada lahan kering untuk palawija, sayuran, buah, maupun tanaman perkebunan. Lahan basah berada dibawah (sawah) dimana pengaruh air masih ada. Lahan kering berada di atas (surjan) dengan bentuk guludan atau galengan tanah yang menimbun ke atas. Untuk membuat tembokan/guludan/surjan tersebut tanahnya diambil dari lahan antara guludan. Jadi dari lahan antara tersebut dikerok tanahnya dengan lebar 1 depa (1,7 m) dan panjang 10 depa (170 m) kemudian dinaikkan ke lahan guludan hasilnya setengah dari lebar tembokan/guludan. Selanjutnya selebar yang sama dinaikkan ke tembokan sebelahnya sehingga terbentuk guludan (Gambar 1). 

 

Gambar 1. Sketsa model lahan dengan sistem surjan

 

Di Kalimantan Selatan untuk rawa pasang surut dengan menggunakan sistem ini, biasanya ditanami padi pada bagian bawah dan tanaman jeruk, kelapa, kueni di bagian guludan nya. Namun untuk rawa lebak pada bagian sawah ditanami padi sedangkan surjan nya ditanami palawija dan hortikultura. Pembuatan sistem surjan ini dapat dilakukan petani sekaligus maupun secara bertahap atau campuran keduanya tergantung kemampuan permodalan petani. Hal ini karena pembuatan sistem surjan memerlukan modal yang cukup besar. Besarnya biaya pembuatan surjan sangat dipengaruhi oleh tipe  luapan pada rawa pasang surut, serta jenis lahan pada rawa lebak. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Yanti Rina dkk, dapat disimpulkan bahwa pada contoh lokasi penelitian di Rawa Pasang Surut tipe luapan A lahan seluas 1 Ha dengan surjan 0,45 Ha, membutuhkan tenaga kerja 287,2 Hari Orang Kerja (HOK)/Ha. Tipe luapan B dan C seluas 1 Ha dengan surjan 0,35 Ha, membutuhkan tenaga kerja sebesar 160,7 Hari Orang Kerja/Ha. Sedikit berbeda dengan kebutuhan tenaga kerja pada Rawa Lebak, karena kondisi air di lahan lebak sering kebanjiran atau kekeringan daripada di pasang surut, maka tenaga kerja lebih banyak dibutuhkan. Pada lahan lebak tengahan dalam hal ini yang diambil contoh adalah Desa Lokgabang untuk 1 Ha lahan dengan surjan 0,4 Ha, dibutuhkan tenaga kerja sebesar 445,4 HOK/Ha. Jika nilai upah Rp 70.000/hari, maka biaya pembuatan sistem surjan untuk Pasang Surut tipe A sebesar Rp. 20.104.000,- per ha, Pasang Surut tipe B dan C sebesar Rp. 11.249.000,- per ha, dan untuk Lebak Tengahan biayanya sebesar Rp. 31.178.000,- per ha. 

 

 

Gambar 2. Sistem surjan padi + sayuran di lahan rawa lebak

 

Menurut pak Semun ketua Gapoktan Margo Mulyo Desa Karang Buah, Kecamatan Belawang, Kabupaten Barito Kuala bahwa melakukan sistem surjan sangat menguntungkan bagi usahatani kami antara lain: (1) meningkatkan hasil usaha sehingga meningkatkan pendapatan, (2) dapat menanam sayuran seperti cabe rawit, jeruk, terong dan sebagainya , (3) meningkatkan efisiensi pemupukan dan (4) memudahkan penataan air sehingga dapat mengurangi keracunan besi. Lebih jauh pak Semun mengungkap bahwa tanaman jeruk yang ditanam sebanyak 125 pohon sekarang sudah menghasilkan 50 kg/ha, jika harga jeruk Rp 5000/kg, maka diperoleh pendapatan  dari tanaman jeruk Rp 25 juta/ha. Pendapatan dari tanaman jeruk semakin besar jika populasi tanamannya banyak. Hasil penelitian Sutikno dkk, pada tahun  2010 menunjukkan bahwa kenaikan pendapatan petani jeruk di Desa Karang Buah,  yang semula belum panen jeruk  sebesar Rp 14.070.000,/KK/Th kemudian setelah panen jeruk menjadi Rp 34.570.000,-/KK/TH atau naik 145,7%. Wow, angka yang sangat fantastis dengan kenaikan pendapatan 2x lipat. Hal yang sama juga dikemukakan oleh kontak tani  Pak H. Suaib di Desa Babirik Hulu, Kecamatan Babirik, Kabupaten Hulu Sungai Utara, bahwa manfaat sistem surjan bukan seratus persen bahkan lebih dari itu. Adanya sistem surjan, kami dapat menanam sayuran seperti ubi alabio, terong, cabai, tomat dsb,  yang hasilnya dapat meningkatkan pendapatan, selain itu ini kami mudah melakukan pemberian air (melalui pompa) pada tanaman padi di musim kemarau. Sedangkan penerapan sistem surjan dengan tanaman sayuran seperti yang telah dilakukan di Desa Hamayung, Kecamatan Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan dengan tipe lahan lebak tengahan, mampu meningkatkan pendapatan bersih petani sebesar 104,98 % dari Rp 2.457.390/ha  (non surjan) menjadi Rp 5.037.196/ha (sistem surjan) dan hasil kelayakan memberikan nilai bahwa keuntungan dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan ini menunjukkan angka lebih dari 1 yang berarti layak dilaksanakan. Senada dengan itu Prof(Riset). Dr. Ir. Muhammad. Noor, MS dalam bukunya yang berjudul ”SISTEM SURJAN, Model Pertanian Lahan Rawa Adaptif Perubahan Iklim” juga berpendapat bahwa dalam sistem surjan,  jeruk dapat menyumbang kenaikan pendapatan rumah tangga petani di lahan lebak tengahan. Selain memiliki keunggulan kompetitif terhadap padi, curahan tenaga kerja juga lebih sedikit. Hasil usahatani padi+jeruk layak secara finansial dengan perbandingan pendapatan dan biaya produksinya lebih dari 1, dengan selisih antara pemasukan dan pengeluaran nya bernilai positif, dan tingkat pengembalian modal dengan konversi bunga yang berlaku ini pada kisaran 3-4 tahun. Bukan main. Sistem surjan ini patut dikembangkan, hanya saja dalam pembuatan surjan perlu bantuan atau subsidi dari pemda karena biaya konstruksinya tidak sedikit. Berminat? Silahkan beralih ke sistem surjan untuk kemakmuran petani. Jayalah terus pertanian indonesia. (Oleh : Ir. Yanti Rina D., MP, tuha13@yahoo.co.idEditor : Vika Mayasari, ST)

 

 

Gambar 3. Sistem surjan padi + jeruk di lahan pasang surut tipe luapan B (kiri) dan padi+kelapa di lahan pasang surut tipe luapan A (kanan)

INPARA BERJAYA DI RAWA

 

INPARA BERJAYA DI RAWA

 

 

Inbrida Padi Rawa atau yang disingkat INPARA adalah varietas padi yang dikembangkan dan direkomendasikan untuk lahan gambut, lahan rawa pasang surut, maupun rawa lebak. Varietas ini memiliki keunggulan mampu hidup bertahan walau dalam keadaan terendam dalam air, tanah salin dan tanah mengandung besi. Inpara 1 dilepas pada Tahun 2009, dan terakhir adalah Inpara 9 dilepas pada Tahun 2014 oleh BB Padi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.

 

Sementara ini, sebagian besar petani kita mengenal dua varietas yang paling banyak ditanam, yaitu Ciherang dan Mekongga. Adaptasi kedua varietas tersebut sangat baik terutama pada lahan irigasi, tadah hujan, dan rawa lebak. Namun berbeda dengan lahan pasang surut, kedua varietas tersebut kurang adaptif, sehingga kurang berkembang di agroekosistem tersebut.  Oleh sebab itu sebagai gantinya introduksi varietas Inpara mulai dilakukan di daerah pasang surut dan ternyata membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. Peneliti Pemuliaan Tanaman pada Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) Ir. Koesrini, MP mengatakan bahwa petani di lahan rawa pasang surut Kabupaten Barito Kuala, mulai mengenal varietas Inpara sekitar tahun 2011. Pada saat itu luas penanaman baru 86 Ha. Perkembangan Inpara semakin luas di kabupaten tersebut, hingga pada tahun 2017 luas penanaman sudah mencapai 5.000 Ha. Permintaan benih terbesar adalah Inpara 2 oleh petani penangkar di Kabupaten Barito Kuala. Selain adaptif dengan hasil produksi yang baik, Inpara 2 menjadi idola masyarakat disana karena rasa yang enak dan tekstur yang pulen, selain itu harga jual stabil dan benih tersedia. 

 

 

Petani pasang surut mulai yakin Inpara merupakan varietas yang dapat diandalkan adaptasinya, meskipun belum mencapai potensi hasilnya. Darsono, anggota poktan Sido Muncul, Desa Karang Bunga, Kecamatan Mandastana, Kabupaten Barito Kuala, menyatakan bahwa menanam Inpara membawa berkah kehidupan untuk keluarganya. Dalam satu tahun, Darsono menanam dua kali pada MH (November-Maret) dan MK (April-Agustus). Varietas yang ditanam Inpara 2, dengan sistem tanam menggunakan jajar legowo 2:1. Hasil yang diperoleh adalah Ton/Ha GKG, dengan harga GKG Rp 4.500.-/kg, pendapatan dalam setahun mencapai 36 juta rupiah/Ha khusus untuk padi, di luar pendapatan dari tanaman jeruk. Kebetulan lahan Darsono, selain ditanam padi pada bagian tabukan, di bagian surjan ditanami jeruk. Sebelumnya lahan miliknya ditanami padi lokal dengan produktivitas 5 Ton/Ha (1 x tanam) atau setara dengan 22,5 juta rupiah dalam setahun.

 

 

Lain halnya yang terjadi pada lahan rawa lebak,  masih banyak yang belum menanam InparaMeskipun demikian Dr. Anna Hairani bersama tim Peneliti Lebak Balittra di Desa Hamayung, Kecamatan Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, mencoba mengenalkan Inpara 2 melalui pendekatan kearifan lokal masyarakat Hamayung yang menggunakan kayapu (Pistia stratiotes) sebagai mulsa. Dengan sentuhan teknologi maka hasil Inpara 2 yang ditanam cukup baik, mencapai 6,3 Ton/ha GKG. Hasil tersebut diperoleh dengan memanfaatkan gulma in situ kayapu, aplikasi biotara 25 kg/ha dan pemupukan menggunakan aplikasi Decision Support System (DSS) rawa lebak.

 

Pak Basran, anggota poktan Cinta Maju di desa tersebut menyatakan bahwa Inpara ternyata bisa bersaing dengan Ciherang dan Mekongga di lahan tersebut. Dengan harga gabah  Rp.5.000.-/kg, petani berhasil mengantongi  31,5 juta rupiah/Ha untuk sekali panenHasil panen petani diluar lokasi penelitian dengan waktu tanam yang sama adalah 4,5 Ton/Ha GKG setara dengan 22,5 juta rupiah/Ha. Artinya produktivitas Inpara 2 lebih besar 40% daripada varietas lain yang ditanam oleh petani dalam kurun waktu yang sama.  Tetap semangat untuk memberikan yang terbaik bagi pertanian Indonesia. Salam Hijau. (Oleh : Ir. Koesrini, MP., Editor : Vika Mayasari, ST)