JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

INPARA BERJAYA DI RAWA

 

INPARA BERJAYA DI RAWA

 

 

Inbrida Padi Rawa atau yang disingkat INPARA adalah varietas padi yang dikembangkan dan direkomendasikan untuk lahan gambut, lahan rawa pasang surut, maupun rawa lebak. Varietas ini memiliki keunggulan mampu hidup bertahan walau dalam keadaan terendam dalam air, tanah salin dan tanah mengandung besi. Inpara 1 dilepas pada Tahun 2009, dan terakhir adalah Inpara 9 dilepas pada Tahun 2014 oleh BB Padi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.

 

Sementara ini, sebagian besar petani kita mengenal dua varietas yang paling banyak ditanam, yaitu Ciherang dan Mekongga. Adaptasi kedua varietas tersebut sangat baik terutama pada lahan irigasi, tadah hujan, dan rawa lebak. Namun berbeda dengan lahan pasang surut, kedua varietas tersebut kurang adaptif, sehingga kurang berkembang di agroekosistem tersebut.  Oleh sebab itu sebagai gantinya introduksi varietas Inpara mulai dilakukan di daerah pasang surut dan ternyata membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. Peneliti Pemuliaan Tanaman pada Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) Ir. Koesrini, MP mengatakan bahwa petani di lahan rawa pasang surut Kabupaten Barito Kuala, mulai mengenal varietas Inpara sekitar tahun 2011. Pada saat itu luas penanaman baru 86 Ha. Perkembangan Inpara semakin luas di kabupaten tersebut, hingga pada tahun 2017 luas penanaman sudah mencapai 5.000 Ha. Permintaan benih terbesar adalah Inpara 2 oleh petani penangkar di Kabupaten Barito Kuala. Selain adaptif dengan hasil produksi yang baik, Inpara 2 menjadi idola masyarakat disana karena rasa yang enak dan tekstur yang pulen, selain itu harga jual stabil dan benih tersedia. 

 

 

Petani pasang surut mulai yakin Inpara merupakan varietas yang dapat diandalkan adaptasinya, meskipun belum mencapai potensi hasilnya. Darsono, anggota poktan Sido Muncul, Desa Karang Bunga, Kecamatan Mandastana, Kabupaten Barito Kuala, menyatakan bahwa menanam Inpara membawa berkah kehidupan untuk keluarganya. Dalam satu tahun, Darsono menanam dua kali pada MH (November-Maret) dan MK (April-Agustus). Varietas yang ditanam Inpara 2, dengan sistem tanam menggunakan jajar legowo 2:1. Hasil yang diperoleh adalah Ton/Ha GKG, dengan harga GKG Rp 4.500.-/kg, pendapatan dalam setahun mencapai 36 juta rupiah/Ha khusus untuk padi, di luar pendapatan dari tanaman jeruk. Kebetulan lahan Darsono, selain ditanam padi pada bagian tabukan, di bagian surjan ditanami jeruk. Sebelumnya lahan miliknya ditanami padi lokal dengan produktivitas 5 Ton/Ha (1 x tanam) atau setara dengan 22,5 juta rupiah dalam setahun.

 

 

Lain halnya yang terjadi pada lahan rawa lebak,  masih banyak yang belum menanam InparaMeskipun demikian Dr. Anna Hairani bersama tim Peneliti Lebak Balittra di Desa Hamayung, Kecamatan Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, mencoba mengenalkan Inpara 2 melalui pendekatan kearifan lokal masyarakat Hamayung yang menggunakan kayapu (Pistia stratiotes) sebagai mulsa. Dengan sentuhan teknologi maka hasil Inpara 2 yang ditanam cukup baik, mencapai 6,3 Ton/ha GKG. Hasil tersebut diperoleh dengan memanfaatkan gulma in situ kayapu, aplikasi biotara 25 kg/ha dan pemupukan menggunakan aplikasi Decision Support System (DSS) rawa lebak.

 

Pak Basran, anggota poktan Cinta Maju di desa tersebut menyatakan bahwa Inpara ternyata bisa bersaing dengan Ciherang dan Mekongga di lahan tersebut. Dengan harga gabah  Rp.5.000.-/kg, petani berhasil mengantongi  31,5 juta rupiah/Ha untuk sekali panenHasil panen petani diluar lokasi penelitian dengan waktu tanam yang sama adalah 4,5 Ton/Ha GKG setara dengan 22,5 juta rupiah/Ha. Artinya produktivitas Inpara 2 lebih besar 40% daripada varietas lain yang ditanam oleh petani dalam kurun waktu yang sama.  Tetap semangat untuk memberikan yang terbaik bagi pertanian Indonesia. Salam Hijau. (Oleh : Ir. Koesrini, MP., Editor : Vika Mayasari, ST)

 

Bawang Merah Komoditi Pilihan di Lahan Gambut

Bawang Merah Komoditi Pilihan di Lahan Gambut

 

 

Siapa yang tidak kenal dengan bawang merah. Bumbu dapur yang sempat menjadi buah bibir akibat harganya yang mahal ini tetaplah fenomenal. Bawang merah sempat berada pada kisaran harga Rp. 40.000/Kg di tingkat pasar, apalagi saat momen bulan Ramadhan atau menjelang Hari Raya Idul Fitri, harga umbi merah pedas ini sangat melambung tinggi. Namun  bawang merah tetap menjadi komoditi pilihan unggulan yang selalu dicari dan dibutuhkan selain cabe tentunya.

 

Lahan gambut berpeluang untuk dimanfaatkan sebagai areal pengembangan tanaman hortikultura, salah satunya tanaman bawang merah. Bawang merah  dapat tumbuh baik pada lahan gambut dengan pengelolaan lahan yang tepat. Lahan gambut tergolong tidak subur, dengan pH sangat masam (rata-rata kurang dari 4), sehingga diperlukan bahan pembenah tanah (amelioran) yang cukup agar tanaman mampu tumbuh dan berproduksi dengan baik.  Kunci keberhasilan budidaya bawang merah di lahan gambut selain amelioran  adalah pemupukan yang tepat dan pengendalian organime penganggu tanaman (OPT). Pemupukan bawang merah di lahan gambut berbeda dengan pemupukan bawang merah di tanah mineral.  Pada lahan gambut lebih banyak memerlukan unsur Kalium (K) dan lebih sedikit unsur Nitrogen (N). Unsur K diperlukan untuk meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Serangan penyakit pada budidaya bawang merah  di lahan gambut memang lebih tinggi dibandingkan di tanah mineral. Hama yang sering menyerang dari golongan ulat (Spodoptera exiuga), sedangkan penyakit yang umum menyerang disebabkan oleh jamur/cendawan Alternarias Pori, penyakit layu, penyakit moler. Menurut Dr. Maulia Aries Susanti,SP, MP., peneliti Hama Penyakit Tanaman (HPT) di Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), tingkat intensitas serangan penyakit ini lebih tinggi pada musim hujan, dan seringkali menyebabkan kegagalan dalam budidaya bawang merah sehingga diperlukan perawatan lebih intensif jika pertanaman dilakukan pada musim hujan. Pestisida yang bisa digunakan untuk pengendalian hama antara lain menggunakan insektisida berbahan aktif Siromazin (dosis 250 g/ha) dan penggunaan perangkap kuning untuk mengendalikan imago ulat (serangga dewasa). Penyakit yang disebabkan oleh jamur dapat dikendalikan menggunakan fungisida berbahan aktif propinep 70% (1 kg/ha), mankozeb 80% (1 kg/ha), azoksistrobin (0,5 liter/ha).

 

 

Seperti disampaikan oleh Dr. Eni Maftu’ah, SP, MP., peneliti kesuburan tanah pada Balittra ini mengatakan ada beberapa jenis amelioran yang dapat digunakan untuk memperbaiki kesuburan tanah gambut diantaranya adalah : pupuk kandang, arang aktif (biochar), kompos dan abu sekam padi. Menurutnya kombinasi amelioran tersebut dengan komposisi 50% pupuk kandang + kompos/biochar lebih baik dibandingkan penggunaan 100% pupuk kandang dalam meningkatkan produksi dan menekan emisi GRK. Seperti penelitian yang dilakukan di lahan gambut Kelampangan Kalimantan Tengah, produksi bawang merah yang telah dihasilkan dengan menggunakan bahan pembenah tanah  berupa kombinasi pupuk kandang dan biochar mencapai 9 ton/ha berat panen basah, sedangkan di lahan gambut Landasan Ulin mencapai 12 ton/ha berat panen basah. Lahan gambut di Landasan ulin sudah lebih intensif digunakan oleh petani untuk budidaya tanaman, dibandingkan lahan gambut di Kalampangan. Seperti diutarakan  oleh petani di landasan ulin bapak Samiran yang sangat senang karena  produksi bawang merah di lahannya mencapai 12 ton/ha berat panen basah (varietas bauji).  Sebelumnya pak Samiran sering gagal panen akibat banyaknya serangan HPT. Perawatan nya mulai dari pra tanam hingga pasca panen tergolong rumit, seperti merawat bayi. Berkat adanya penelitian ini, saya akhirnya tahu bagaimana harus mengatasinya, begitu pungkas nya mengakhiri pembicaraan.

 

Namun tidak usah berkecil hati, keuntungan yang bisa diperoleh dalam budidaya bawang merah di lahan gambut cukup menjanjikan. Dari hasil penelitian, analisa usaha tani menunjukkan keuntungan berkisar 40-60 juta per ha, pada harga bawang ditingkat petani Rp 20.000,-. Setidaknya petani di lahan gambut seperti di Kalampangan Propinsi Kalimantan Tengah dan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru Propinsi Kalimantan Selatan saat ini sudah bisa memenuhi kebutuhan bawang merah sendiri, karena sebelumnya bawang merah yang masuk ke Kalimantan mengandalkan kiriman dari Jawa. Jayalah Terus Pertanian Indonesia. (Oleh : Dr. Eni Maftu’ah, SP, MP., Editor : Vika Mayasari, ST)