JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Pengelolaan Air Sistem Tabat dalam Mitigasi Emisi Co2 dan Kerentanan Terhadap Kebakaran di Lahan Gambut

Pengelolaan Air Sistem Tabat dalam Mitigasi Emisi Co2 dan Kerentanan Terhadap Kebakaran di Lahan Gambut

Siti Nurzakiah
(zakiah_balittra@yahoo.co.id)

Pengelolaan air merupakan salah satu tindakan mitigasi emisi karbon dioksida.  Lahan gambut memerlukan pengelolaan air yang tepat untuk konservasi alam dan mengembalikan kondisi hidrologis seperti mengurangi kerentanan gambut terhadap kebakaran.  Selain itu pengelolaan air diperlukan agar lahan gambut dapat digunakan untuk pertanian

Perubahan tutupan/vegetasi di lahan gambut membuat ekosistem lebih rentan terbakar dan menyebabkan pelepasan karbon yang besar melalui pembakaran pada saat pembukaan lahan.  Besaran kadar air secara vertical dan gugus fungsional bahan organic yang bersifat hidrofobik dapat menjadi indicator kerentanan terhadap kebakaran.

Pada penelitian ini pengelolaan air dilakukan dengan system tabat dan diterapkan pada tiga penggunaan lahan yaitu karet+nenas, karet+semak dan karet terbakar.  Selain itu diamati pula lahan (karet terbakar) yang belum ada pengelolaan air pada saluran drainase.

Gambar 1.  Pengelolaan air system tabat di Desa Jabiren, Kalimantan Tengah.

Gambar 2. Model pintu air pada saluran kuarter

Pengelolaan air system tabat dapat mereduksi emisi CO2 sebesar 38.9%; 46.4% dan 27.7% berturut-turut pada penggunaan lahan karet+nenas, karet+semak dan karet terbakar

Gambar 3.  Fluks CO2.

Gambar 4.

Gambar 5.

Gambar 4 dan 5.  FTIR spectrogram gambut pada salah satu titik pengamatan dan sifat hidrofobik gambut.

Luas area serapan gambut hidrofobik menurun dengan meningkatnya kedalaman tanah.  Hal ini mengindikasikan bahwa gambut pada lapisan permukaan (0-50 cm) lebih rentan terhadap kekeringan dan kebakaran bila tidak ada pengelolaan air.  Tindakan pengelolaan air dapat mengurangi sifat hidrofobik gambut (kedalaman 0-50 cm) sebesar 26.8%; 13.5% dan 8.1% berturut-turut pada penggunaan lahan karet+nenas, karet+semak dan karet terbakar.

Download PDF - HERE

Pengelolaan Bahan Amelioran untuk Pertumbuhan dan Hasil Kacang Panjang di Lahan Sulfat Masam Aktual

Pengelolaan Bahan Amelioran untuk Pertumbuhan dan Hasil Kacang Panjang di Lahan Sulfat Masam Aktual

Dwi Hatmoko, Isri Hayati dan Muhammad Najib

Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

Abstrak

Budidaya kacang panjang pada lahan rawa pasang surut terutama lahan sulfat masam aktual dihadapkan pada tingginya tingkatan cekaman kemasaman tanah yang disebabkan oleh tingginya kandungan Al, Fe dan S. Untuk memperoleh keragaan pertumbuhan dan hasil kacang panjang yang optimal pada lahan tersebut diperlukan upaya perbaikan dengan menggunakan pembenah tanah (ameliorant) tanah dan varietas yang adaptif. Penelitian dilaksanakan di Barambai (Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan) Mk 2006. Rancangan petak Terpisah dengan 3 ulangan digunakan dalam penelitian ini. Petak utama adalah kondisi lingkungan, yaitu K0 = pupuk dasar setara 90 kg N/ha + 90 kg P2O5/ha + 125 kg K2O/ha; Kl = K0 + kapur dolomit 1 t/ha; dan K3 = K0 + kapur dolomit 2 t/ha + pupuk kandang 5,0 t/ha. Sedang sebagai anak petak adaalh varietas, yaitu V777 (V1), EMPE (V2) dan P.M. 121 (V3). Penelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian kapur dan kandang terhadap sifat kimia tanah dan keragaan pertumbuhan dan hasil 3 varietas kacang panjang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ameliorant (kapur dan pupuk kandang) pada lahan sulfat masam aktual dapat memperbaiki sifat tanah, yaitu peningkatan nilai pH dan penurunan nilai Al-dd tanah sehingga keragaan pertumbuhan kacang panjang menjadi lebih baik dan hasil lebih tinggi. Pemberian kapur dan pupuk kandang berpengaruh nyata terhadap skor vegetative, skor generative, tinggi vegetative, tinggi generative, jumlah polong, panjang polong, diameter polong dan hasil. Sedang varietas berpengaru nyata terhadap jumlah polong. Pemberian kapur sebanyak 2 t/ha dan pupuk kandang 5,0 t/ha (K3) memberikan hasil tertinggi (3,68 t/ha). Varietas V777 memberikan hasil yang tertinggi (2,75 t/ha)


Kata kunci: ameliorant, kacang panjang, sulfat masam aktual.

Pendahuluan

Banyak jenis tanaman sayuran yang daspat dikembangkan pada lahan rawa pasang surut diantaranya tomat, cabai, timun, kacang panjang, terong, buncis, kubis, bawang merah, waluh, sawi slada, bayam dan kangkung, tetapi teknik budidayanya lebih rumit dan sangat rentan terhadap kondisi lingkungan yang kurang baik. Komoditas horticultural sayuran yang adaptif di lahan rawa pasang surut memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi dibanding tanaman pangan dapat menjadi sumber pendapatan mingguan karena umur panennya yang lebih dini dan waktu panennya yang bertahap (Alihamsyah et al., 2003).

Upaya pengelolaan lahan sulfat masam aktual untuk dijadikan lahan pertanian yang memiliki produktivitas tinggi berhadapan dengan beberapa kendala yaitu kemasam yang sangat tinggi dan keracunan Al dan fe (Ponnamperuma, 1977) dan kahatnya unsure hara N, P, K, Ca dan Mg (Attanandanan et al., 19820. Oleh karena itu diperlukan perbaikan pada kondisi lahan tersebut agar tanaman dapat tumbuh dengan baik dan memberikan hasil yang optimal. Berbagai upaya perbaikan kondisi lahan sulfat masam aktual dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitasnya sebagai lahan pertanian, diantaranya adalah dengan pemberian kapur dan bahan organic, pemupukan dan penggunaan varietas yang toleran terhadap kondisi tanah (Dent, 1986; Widjaja Adhi, 1997 dan Alihamsyah et al., 2003).

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian bahan amelioran (kapur dan pupuk kandang) terhadap keragaan pertumbuhan hasil 3 varietas kacang panjang di lahan sulfat masam aktual.


Prosiding Seminar Nasional Pertanian Lahan Rawa
Revitalisasi Kawasan PLG dan Lahan Rawa Lainnya untuk Membangun Lumbung Pangan Nasional Kuala Kapuas, 3-4 Agustus 2007
Buku I