JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Galur Padi Toleran Tanah Sulfat Masam di Lahan Pasang Surut

Galur Padi Toleran Tanah Sulfat Masam di Lahan Pasang Surut

ABSTRAK

Lima belas galur padi toleran tanah sulfat masam diuji pada lahan pasang surut sulfat masam Sakalagun dan Belandean, pada Musim Kemarau (MK) 2001. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Deperoleh 7 galur yang toleran tanah sulfat masam dari 15 galut yang diuji. Ketujjuh galut tersebut memperlihatkan hasil tinggi, dan yang berpenampilan baik. 4 galur dengan bentuk gabah ramping (selender) adalah: Kal 9414d-Bj-14-01, Kal 9407d-Bj-18-2, Kal 408d-Bj-28-4; Kal 9408d-Bj-70-4. Dan 3 galur dengan bentuk gabah medium adalah: B10179b-Mr-1-4-1, BW307-6, IR53709-36-10-2. Hasil gabah berkisar 3,5 t/ha-4,0 t/ha. Galur terpilih perlu diuji lebih lanjut sampai dengan dilepas sebagai varietas unggul baru.


PENDAHULUAN

Pengembangan usaha dibidang pertanian di lahan pasang surut pada saat ini belum begitu pesat, terutama tanaman padi, karena kendala lingkungan tumbuh seperti adanya cekaman biotik dan abiotik : Problema tanah bermasalah seperti sulfat masam, bergambut, tata air belum dapat dikontrol (genangan dalam) dan serangan hama penyakit. Varietas unggul yang sudah dilepas sukar diadopsi petani, karena petani lebih suka menanam varietas lokal yang lebih adaptif dan rasa nasinya disukai (KEPAS, 1985).

Problema tanah di lahan pasang surut adalah kemasaman tanah yang tinggi, status hara rendah, defisiensi P dan keracunan besi dan pada tanah gambut terdapat pula masalah defisiensi K, keracunan H2S dan substansi organik, Problema tanah yang terkait dengan keracunan besi adalah pH rendah, kapasitas tukar kation rendah, status basa rendah, suplai Mn rendah dan drainase jelek (Ponnamperuma, 1974; Ponnamperuma dan Solivas, 1982).

Tanaman padi yang peka keracunan biasanya daun berbintik-bintik coklat kemudian mengering, pembentukan anakan terhambat sistem perakaran rusak sampai mematikan tanaman. Keracunan besi terjadi pada tanaman tua walaupun pertumbuhan vegetatifnya tidak terlalu terpengaruh, namun hasil gabah menurun karena persentase gabah hampa meningkat (Benkiser et al,. 1982). Keracunan H2S merusak perakaran. Masalah lain adalah tata air umumnya tidak dapat dikontrol. Bibit yang baru ditanam dapat tergenang cukup lama karena hujan lebat beberapa hari yang menyebabkan banyak tanaman mati. Penggunaan varietas unggul yang adaptif dan dapat diterima petani akan mengurangi biaya perbaikan kondisi lingkungan dan akan mendorong adopsi varietas tersebut. Varietas unggul yang diinginkan petani pasang surut adalah umur pendek, tidak peka fotoperiod, cukup adaptif, potensi hasil tinggi (4 t/ha) dan rasa nasinya sebanding dengan Siam unus.

Penanaman varietas unggul berumur pendek pada musim hujan beresiko tinggi karena itu tidak banyak petani yang melakukannya. Penanaman pada musim hujan menghadapi kendala serangan tikus dan burung mengingat sebagian besar lahan rawa tidak ditanami padi. Selain itu, genangan-dalam sering menyebabkan bibit tidak dapat ditanam, atau bibit yang ditanam terlalu tua karena penundaan tanam. Menurut petani hal ini mengakibatkan hasil menurun, tidak seperti yang diharapkan. Akibat pengaruh diatas, pengembangan lahan pasang surut sulfat masam menjadi lamban.

Pengelolaan lahan pasang surut sulfat masam memerlukan teknologi yang tepat dan berkelanjutan, termasuk tata air dan penggunaan varietas toleran. Penelitian untuk mengetahui toleransi, penampilan dan potensi hasil galur-galur padi pada tanah sulfat masam di lahan pasang surut.


Prosiding Seminar Nasional
Inovasi Telnologi Pengelolaan Sumberdaya Lahan Rawa dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan
Banjarbaru, Kalimantan selatan 5-7 oktober 2004