JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Penampilan Lima Galur Harapan Padi Hasil Persilangan Varietas Unggul dan Lokal di Lahan Pasang Surut Potensial

Penampilan Lima Galur Harapan Padi Hasil Persilangan Varietas Unggul dan Lokal di Lahan Pasang Surut Potensial


ABSTRAK

Lahan pasang surut potensial adalah salah satu tipologi lahan pasang surut yang memiliki kondisi spesifik lahan pasang surut. Berbagai kendala ditemukan dalam budidaya tanaman di lahan pasang surut. Untuk mengatasi permasalahan tersebut telah diciptakan berbagai teknologi, salah satu teknologi tersebut adalah penggunaan varietas unggul sebagai teknologi yang mudah dan sering diadopsi petani. Varietas unggul lahan pasang surut yang beradaptasi, berdaya hasil tinggi dan diterima konsumen sangat diperlukan untuk mengganti varietas lokal yang ada yang hasilnya rendah meskipun sangat adaptif. Persilangan varietas unggul dan lokal akan menghasilkan varietas-varietas yang mewarisi sifat-sifat kedua tetuanya yaitu beradaptasi tinggi, hasil tinggi, dan umur pendek. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya adaptasi galur-galur padi di lahan pasang surut potensial. Penelitian observasi galur-galur padi dilaksanakan di Inlitra Handil Manarap Kab. Banjar yang merupakan lingkungan lahan pasang surut potensial, pada musim kemarau 1999. Peelakuan yang diteliti adalah 36 (tiga puluh enam) galur padi dengan varietas pembanding Kapuas, IR64, dan IR66. Penelitian dilakukan dengan metode observasi. Hasil penelitian menunjukan terdapat 5 (lima) galur harapan padi yang beradaptasi bagus di lahan pasang surut potensial memiliki pertumbuhan bagus sampai sangat bagus, tinggi tanaman 117,2 cm – 139,6 cm, umur panen sedang (132 – 139 hari), bentuk gabah panjang dan ramping atau selender sehingga akan sangat disenangi oleh konsumen setempat. Galur-galur tersebut adalah GH137, GH173, GH460, GH149, dan GH505.


PENDAHULUAN

Lahan rawa cukup potensial bagi pengembangan dan peningkatan produksi pertanian arealnya cukup luas. Di Indonesia terdapat 39,40 juta ha lahan rawa, terdiri dari 24,70 lahan rawa pasang surut dan 14,70 juta ha lahan lebak; 14,93 juta ha diperkirakan sesuai untuk pertanian dan terdapat di pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya. Luas lahan rawa di Kalimantan adalah 12,76 juta ha menempati 20% dari luas pulau tersebut (tidak termasuk wilayah Malaysia dan Brunei), 4,757 juta ha dinyatakan sesuai untuk pertanian dan baru 2,170 juta ha yang digunakan untuk lahan pertanian (Sabran et al, 1997).

Tanah-tanah rawa pada dasarnya bertataran piasan bagu budi daya tanaman pada umumnya sehubungan dengan faktor-faktor bahan induk yang miskin hara, bersuasana anaerob, banyak yang bergambut tebal, berpirit dan bila dialih fungsikan akan terusik dan mengeluarkan zat-zat yang dapat meracuni tanaman seperti sulfida, besi fero, dan asam-asam organil yang ditandai pH rendah (Maas, 2002).

Sehubungan dengan kendala-kendala yang dihadapi budidaya tanaman pertanian di lahan rawa pasang surut, berbagai teknologi telah disiptakan seperti pengelolaan air, pemupukan dan ameliorasi, teknologi penyiapan lahan dan pengendalian gulma, alat dan mesin pertanian serta pengendalian hama dan penyakit penggunaan varietas unggul, namun, adopsi teknologi itu oleh petani belum lancar, karena beragamnya tipologi lahan dan keadaan sosial ekonominya.

Salah satu teknologi yang mudah di adopsi dan sering langsung digunakan oleh petani adalah penggunaan varietas unggul. Sudah banyak tersedia varietas unggul pasang surut, namun hanya sebagian yang sudah digunakan. Sebagian besar petani masih menggunakan varietas lokal yang lebih mampu beradaptasi pada kondisi lahan pasang surut dan diterima konsumen setempat.

Persilangan varietas unggul dan lokal menghasilkan varietas-varietas yang memiliki sifat-sifat istimewa tetuanya, yaitu beradaptasi bagus dari varietaslokal dan hasil tinggi serta umur pendek dari varietas unggul.

Varietas unggul dapat dirakit melalui program pemuliaan tanaman konvensional maupun non konvensional, yaitu hibridisasi maupun dengan mentransfer gen-gen dengan sifat-sifat istimewa kedalam suatu spesies tanaman. Adaptasi menunjukan sifat yang memungkinkan suatu varietas menghasilkan hasil tinggi pada lingkungan yang spesifik, adaptasi yang luas dikehendaki pada varietas padi pada saat tumbuh pada areal yang sangat luas dimana terjadi penyimpangan kondisi agroklimat (Poelhman, 1987). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya adaptasi  dan penampilan karakter agronomi galur-galur padi di lahan pasang surut.


Prosiding Seminar Nasional
Inovasi Telnologi Pengelolaan Sumberdaya Lahan Rawa dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan
Banjarbaru, Kalimantan selatan 5-7 oktober 2004