JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Teknologi Budidaya Jagung dan Pemanfaatan Bahan Ameloiran di Lahan Pasang Surut

Teknologi Budidaya Jagung dan Pemanfaatan Bahan Ameloiran di Lahan Pasang Surut

ABSTRAK

Jagung merupakan bahan pangan penting sumber karbohidrat kedua setelah beras. Disamping itu, jagung juga digunakan sebagai bahan makanan ternak (pakan) dan bahan baku industri. Penggunaan sebagai bahan pakan yang sebagian besar untuk ternak ayam ras menunjukkan tendensi makin meningkat setiap tahun dengan laju kenaikan lebih dari 20%. Sebaliknya, penggunaan sebagai bahan pangan menurun. Sejalan dengan telah digalakkannya Gema Palagung 2001 (Gerakan Mandiri Padi, Kedelai, dan Jagung tahun 2001) maka sudah sewajarnya bila upaya perbaikan teknologi budidaya dan peningkatan produksi jagung harus diusahakan dengan perioritas tinggi. Dalam upaya peningkatan produktivitas jagung di lahan pasang surut terutama di lahan gambut, menghadapi beberapa kendala. Kendala utama yang sering dihadapi diantaranya pH tanah masam, kahat hara NPK, kahat hara mikro (Cu, Zn, Fe) dan poros air. Salah satu upaya peningkatan produktivitas jagung di lahan pasang surut yaitu pada lahan gambut dan sulfat masam, diperlukan perbaikan teknologi budidaya jagung dan pemanfaatan bahan amelioran namun in situ sebagai sumber hara organik. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Balittra Banjarbaru pada lahan pasang surut sulfat masan di Inlittra Balabdean, Kalimantan Selatan menunjukkan bahwa dengan pemberian Ipomea aquatica 3,2 t/ha dapat menghasilkan jagung pipilan kering 5,41 t/ha dan pemberian Eceng gondok 3,2 t/ha diperoleh hasil jagung pipilan kering 5,10 t/ha (MK. 2000). Hasil penelitian di lahan gambut yang dilaksanakan di Desa Pangkoh Kalimantan Tengah, menunjukkan bahwa dengan pemberian abu sekam 600 kg/ha diperoleh hasil pipilan kering jagung 5,20 t/ha. Demikian juga hasil penelitian pengapuran (MT. 2000) dengan menggunakan kapur dolomit 0,5 t/ha di lahan gambut diperoleh hasil jagung 3,33 t/ha.


PENDAHULUAN

Jagung merupakan komoditi yang paling potensial untuk dikembangkan di lahan rawa pasang surut setelah padi. Lahan pasang surut merupakan lahan alternatif yang sangat cocok untuk penanaman jagung dimana minat petani untuk menanam jagung cukup positif. Hal ini terlihat dari semakin luasnya pertanaman jagung setiap tahun pada lahan pasang surut. Di Indonesia, jagung merupakan bahan pangan penting sumber karbohidrat kedua setelah beras. Disamping itu, jagung juga digunakan sebagai bahan makanan ternak (pakan) dan bahan baku industri. Penggunaan sebagai bahan pakan yang sebagian besar untuk ternak ayam ras menunjukkan tendensi makin meningkat setiap tahun dengan laju kenaikan lebih dari 20%. Sebaliknya, penggunaan sebagai bahan pangan menurun. Sejalan dengan telah digalakkannya Gema Palagung 2001 (Gerakan Mandiri Padi, Kedelai, dan Jagung tahun 2001) maka sudah sewajarnya bila upaya perbaikan teknologi budidaya dan peningkatan produksi jagung harus diusahakan dengan perioritas tinggi terutama di lahan pasang surut.

Dalam upaya meningkatkan produktivitas jagung khususnya di lahan pasang surut ada beberapa kendala yang perlu diperhatikan, diantaranya kendala fisik lahan dan kendala teknis budidaya. Kendala fisik lahan yang dihadapi pada pertanaman jagung di lahan pasang surut adalah adanya bahan organik yang tipis, kedalaman pirit < 50 cm dari permukaan, kemasaman tanah yang tinggi (pH tanah < 5), kahat hara NPK dan sering terjadi adanya keracunan besi. Dari waktu kewaktu tanah di lahan pasang surut telah mengalami degradasi hara akibat intensifikasi yang berlebih serta akibat sering terjadinya kebakaran di musim kemarau yang panjang.

Selain kendala tersebut diatas, masih banyak masalah yang sering menghambat upaya peningkatan produksi jagung, khususnya di tingkat petani lahan pasang surut. Namun bila penyebabnya telah diketahui secara dini, tindakan antisipasi dapat secepat mungkin dilakukan.


Prosiding Seminar Nasional
Inovasi Telnologi Pengelolaan Sumberdaya Lahan Rawa dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan
Banjarbaru, Kalimantan selatan 5-7 oktober 2004