JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Analisis Finansial Usahatani dan Pengelolaan Keripik Salak dari Lahan Pasang Surut

Analisis Finansial Usahatani dan Pengelolaan Keripik Salak dari Lahan Pasang Surut

ABSTRAK

Lahan pasang surut di Kalimantan Tengah cukup luas dan berpotensi untuk pengembangan hortikultura khususnya tanaman salak. Salak diusahakan petani di lahan pekarangan dan di lahan usaha dengan sistem surjan. Pola pertanaman salak dilakukan sengan sistem campuran. Produksi salah melimpah pada musim panen dan harga buah salak murah jika bertepatan dengan musim buah-buahan lainnya. Oleh karena itu perlu diolah menjadi olahan lain agar memberikan nilai tambah bagi pendapatan petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara finansial usahatani salak di tingkat petani cukup layak diusahakan karena memiliki nilai B/C > 1, NPV positif dan IRR > tingkat bunga. Analisis finansial menunjukkan bahwa pada tingkat harga normal, pengelolaan keripik salak baik pada buah salak lokal Kapuas maupun buah salak lokal Kotim tidak memberikan nilai tambah pada petani (volume olah 20 kg salak segar). Namun jika pengelolaan dilakukan pada harga buah salak murah pengolahan keripik salak lokal Kapuas dan salak lokal Kotim berturut-turut memberikan keuntungan sebesar Rp 60.513,5 dan Rp 99.613,5 per 20 kg buah segar dan nilai tambah masing-masing 102 dan 66 %. Dari uji organoleptik terhadap keripik salak adalah disukai, namun secara umum tingkat penilaian panelis terhadap warna, aroma, tekstur dan rasa keripik salak lokal Kapuas lebih tinggi dibandingkan dengan keripik salak lokal Kotim.

Meningkatnya pendapatan dan pertambahan penduduk menyebabkan permintaan bahan makanan dan buah-buahan juga meningkat, sementara lahan-lahan subut di P Jawa menyusut 10.000-30.000 ha per tahun untuk kepentingan non pertanian. Oleh karena itu pengembangan buat-buahan sebaiknya tidak hanya diarahkan pada lahan subur saja, tetapi juga pada lahan marginal seperti lahan pasang surut.

Nilai gizi dan vitamin yang terkandung dalam buah-buahan sangat penting untuk kesehatan, oleh karena itu setiap penduduk Indonesia dianjurkan harus makan buat minimum 32,6 kg buah/tahun (Soenarjono, 2004). Untuk mencukupi kebutuhan 200 juta penduduk Indonesia diperlukan penyediaan buah-buahan 65-265 juta kg/tahun. Hal tersebut menunjukkan besarnya peluang untuk meningkatkan produksi buah-buahan.

Lahan pasang surut memiliki potensi yang besar untuk pengembangan usaha pertanian yang luasnya diperkirakan sekitar 20,1 juta ha dan sekitar 9 juta ha cocok untuk pertanian (Nugroho et al., 1992, Widjaja-Adhi et al., 1992). Khusus luas lahan pasang surut di Kalimantan Tengah adalah 5,5 juta ha, seluas 1.696071 ha terdapat di kabupaten Kapuas dan sekitar 620.000 ha diantaranya berpotensi untuk pengembangan tanaman pangan dan hortikultura.

Pengembangan lahan pasang surut untuk pertanian dihadapkan pada kendala biofisik lahan, seperti sifat lahan yang marginal dan rapuh. Kesalahan dalam mengelola lahan dapat mengakibatkan masalah terhadap kesuburan lahan. Sedangkan kendala sosial ekonomi diantaranya kurangnya tenaga kerja, rendahnya penguasa teknologi, kekurangan modal dan kelembagaan yang kurang mendukung. Besarnya tingkat kendala yang dihadapi menyebabkan rendahnya  tingkat produktivitas salah di Kalimantan Tengah, yaitu 5 ton/ha (Dinas Pertanian Tingkat I, 2002). Oleh karena itu sangat diperlukan cara pengelolaan lahan dan tanam yang tepat karena akan menentukan keberhasilan usahatani di lahan pasang surut (Tampubolon et al., 1990, Adimiharja et al., 1999, Ar-Riza et al., 2001). Penataan lahan dapat dilakukan dengan sistem surjan bertapah pada lahan sulfat masam atau gambut dangkal pada tipe luapan B dan C (Swamps, 1993). Sedangkan menurut Djanika (2003), keberhasilan pengembangan buah-buahan di lahan pasang surut ditentukan oleh tepatnya jenis dan varietas, tersedianya bibit bermutu dan teknologi budidaya yang dibutuhkan serta memadainya sarana dan prasarana penunjangnya.

Pemanfaatan lahan pasang surut dengan komoditas hortikultura seperti salak telah diusahakan petani pendatang di lahan pasang surut kabupaten Kapuas dan Kotawaringin Timur. Pengusahaan salak di Kalimantan Tengah semakin meningkat seiring dengan terbuka lahan transmigran, disamping adanya program pemerintah daerah untuk perluasan areal salak seluas 100 ha di kabupaten Kotawaringin Timur (Oemar, 2003). Luas tanam tanaman salak di Kalimantan Tengah 7.426 ha (Dinas Pertanian Tingkat I, 2002). Hal ini meninjukkan bahwa produksi salak yang dihasilkan Kalimantan Tengah akan meningkat. Oleh karena itu untuk mengatasi harga buah yang murah pada panen raya atau bertepatan dengan musim buah-buahab lainnya maka perlu pengolahan salam bentuk lain. Pemanfaatan buat buah salak selain untuk konsumsi buah segar, juga sebagai manisan atau asinan.

Tulisan ini dimaksudkan untuk memberi informasi kelayakan usahatani salak dan pemanfaatan dalam bentuk olahan keripik salak di lahan pasang surut.

Prosiding Seminar Nasional
Inovasi Telnologi Pengelolaan Sumberdaya Lahan Rawa dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan
Banjarbaru Kalimantan Selatan 5-7 oktober 2004