JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Teknologi Budidaya Jagung di Lahan Rawa

Teknologi Budidaya Jagung di Lahan Rawa

Koesrini
Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

 

PENDAHULUAN

Tanaman jagung (Zea mays) memiliki adaptasi yang luas dapat ditanam di lahan kering, lahan tadah hujan, lahan sawah maupun lahan rawa.Tanaman jagung membutuhkan tanah yang bertekstur lempung, lempung berdebu, lempung berpasir dengan struktur tanah remah, aerasi dan drainase baik. Pengembangan jagung di lahan rawa merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produksi jagung nasional. Secara umum tanaman jagung dapat tumbuh hampir di setiap jenis tanah termasuk tanah rawa, tetapi agar dapat berproduksi maksimal diperlukan kondisi lahan dengan tingkat kemasaman tanah (pH)>6,8, dengan kandungan hara N, P, K pada kriteria sedang-tinggi, dan kejenuhan Al <15% serta tidak tergenang air. Produktivitas jagung di lahan rawa umumya masih rendah, hanya 3,4 t/ha, padahal potensi hasil jagung dapat mencapai 4-9 t/ha. Peningkatan produktivitas jagung dapat dilakukan melalui penerapan teknologi budidaya jagung yang tepat untuk lahan rawa.

VARIETAS ADAPTIF

Pemilihan varietas adaptif sangat dianjurkan dalam budidaya jagung di lahan rawa. Beberapa varietas yang adaptif di lahan rawa antara lain (1) Hibrida : Bima 4, Bima 5, Bima 6, Bisi 2 dan Bisi 16, dan (2) Komposit : Sukmaraga, Arjuna, Srikandi Kuning 1.

BENIH BERMUTU DAN BERLABEL

Penggunaan benih bermutu dan berlabel juga sangat dianjurkan dalam budidaya jagung di lahan rawa. Benih bermutu disyaratkan untuk memiliki kemurnian genetik (tingkat kemurnian benih minimal 98%), mutu fisiologi (daya tumbuh benih 80%) dan mutu fisik (kotoran benih 2%), kadar air 12% dan masa berlaku benih belum sampai batas kadaluarsa. Ada empat kelas benih, yaitu benih penjenis (BS), benih dasar (BD), benih pokok (BP) dan benih sebar (BR). Pertanaman untuk produksi benih menggunakan benih satu kelas di atas kelas benih yang akan diproduksi, misalnya ingin menghasilkan benih dasar, maka kelas benih yang digunakan adalah benih penjenis. Pertanaman untuk konsumsi cukup menggunakan benih kelas BR.

TEKNOLOGI BUDIDAYA JAGUNG DI LAHAN RAWA:

Penyiapan Lahan

Penyiapan lahan dapat dilakukan secara mekanis dengan rotary atau manual dengan cangkul.Untuk pengaturan air, perlu dibuat saluran drainase dengan jarak antar saluran 6-8 m, panjang sesuai ukuran lahan dengan lebar 0,5 m dan kedalaman 0,3 m. Jagung tergolong tanaman yang tidak tahan kelebihan atau kekurangan air, karena itu ketersediaan air perlu diperhatikan agar tanaman tumbuh optimal. Dolomit dan pupuk kandang digunakan sebagai amelioran dengan takaran disesuaikan dengan tingkat kemasaman tanah. Bila pH tanah 3,5-4,5 dolomit yang diberikan dengan takaran 2-3 t/ha bila pH tanah >4,5, dolomit yang diberikan dengan takaran 1-2 t/ha, sedangkan takaran pupuk kandang 2-3 t/ha. Cara aplikasi kedua bahan amelioran tersebut dicampur, kemudian diberikan pada lubang tanam.

Tanam

Tanam dilakukan dengan cara membuat lubang tanam dengan jarak tanam 75 x 40 cm dengan 2 tanaman/lubang atau 75 x 20 cm dengan 1 tanaman/lubang. Populasi optimum jagung per hektar 66.600 tanaman. Sebelum tanam, benih perlu diberi perlakuan benih dengan metalaksil 2 gr/kg benih untuk mengendalikan penyakit bulai. Kebutuhan benih 15-20 kg/ha. Penyulaman dapat dilakukan, bila ada benih yang tidak tumbuh agar populasi optimum tercapai.

Pemupukan

Pemupukan dasardilakukandengantakaran75-87,5 kg Urea + 100-200 kg SP36 + 37,5--150 kg KCl per hektar pada 7-10 HST, pupuk kedua 150-175 kg Urea + 12,5-50 kg KCl per hektar pada 28-30 HST, dan pupuk ketiga 75-87,5 kg pupuk Urea per hektar pada 40-45 HST . Pupuk diberikan pada lubang yang berjarak 10 cm dari tanaman, kemudian ditutup tanah.

Pengendalian gulma

Pengendalian gulma dilakukan dengan dua cara, yaitu secara mekanis (manual menggunakan tangan atau alat penyiang gulma), dan secara kimiawi meggunakan herbisida kontak (paraquat) maupun sistemik (glifosat dan sulfosat). Fase kritis tanaman jagung terhadap gulma adalah pada periode dua bulan pertama pertumbuhannya. Oleh karena itu saat pengendalian yang tepat adalah saat fase vegetatif sebelum tanaman berbunga dan fase generatif setelah tanaman berbunga.

Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman

Hama utama yang sering menyerang pertanaman jagung di lahan rawa adalah ulat spodoptera, lalat bibit, ulat tanah, penggerek batang dan tongkol jagung, sedangkan penyakit utamanya adalah penyakit bulai, karat daun, bercak daun, busuk tongkol dan biji. Cara Pengendalian HPT dianjurkan menggunakan konsep pengendalian hama/penyakit terpadu (PHT), yaitu melalui penggunaan varietas tahan, benih bermutu, sanitasi lingkungan, kultur teknis (tanam serempak, pergiliran tanaman, pengelolaan air dan penggunaan pupuk berimbang), pestisida (nabati dan kimiawi).

Panen dan Pasca Panen

Ciri-ciri tanaman jagung siap dipanen adalah biji telah mengeras dan telah terbentuk lapisan hitam (black layer) minimal 50 % di setiap barisan biji, batang tanaman mengering dan klobot jagung berwarna coklat. Sebelum dipanen bagian di atas tongkol bisa dipangkas dan dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi. Jagung pipilan dipanen saat berumur 100-120 HST tergantung varietas dengan Tongkol yang dipanen segera dijemur dan bila kadar air sudah mencapai 20% tongkol dapat dipipil dengan alat pemipil jagung. Biji yang sudah dipipil, dikeringkan kembali sampai kadar air 14%. Biji yang sudah kering dikemas dalam karung dan siap dipasarkan. Bila cuaca tidak memungkinkan untuk pengeringan tongkol, jagung dapat dikeringkan di atas para-para, untuk menghindari kerusakan biji akibat jamur. (Penyusun: Ir.Koesrini, MP.)

Diskripsi Varietas Jagung Adaptif Lahan Rawa

Varietas

Potensi (t/ha)

Umur (HST)

Berat 1000 biji (gr)

Bima 4

10,8

102

265,6

Bima 5

11,4

102

270,0

Bisi 2

13,0

103

265,0

Bisi 16

13,4

107

336

Sukmaraga

8,5

105-110

270

Arjuna

4,3

85-90

272

Srikandi Kuning 1

7,92

105-110

275