JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Teknologi Budidaya Kedelai di Lahan Rawa

Teknologi Budidaya Kedelai di Lahan Rawa

Koesrini
Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

PENDAHULUAN

Pengembangan kedelai di lahan rawa merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produksi kedelai nasional. Secara umum kedelai dapat tumbuh hampir di setiap jenis tanah termasuk tanah rawa, tetapi agar dapat berproduksi maksimal diperlukan kondisi lahan dengan tingkat kemasaman tanah (pH) >4.5 dengan kandungan hara N, P, K pada kriteria sedang-tinggi, dan kejenuhan Al <20% serta tidak tergenang air. Produktivitas kedelai di lahan rawa umumya masih rendah, hanya 1,0 t/ha, padahal potensi hasil kedelai dapat mencapai 2,0-3,7 t/ha. Peningkatan produktivitas kedelai dapat dilakukan melalui penerapan teknologi budidaya kedelai yang tepat untuk lahan rawa.

VARIETAS ADAPTIF

Pemilihan varietas adaptif sangat dianjurkan dalam budidaya kedelai di lahan rawa. Beberapa varietas yang adaptif di lahan rawa antara lain (1) varietas biji besar (Anjasmoro, Argomulyo dan Rajabasa) dan varietas biji sedang (Lawit, Menyapa, Slamet, Seulawah, Wilis, Ijen, Gema, Dering).

BENIH BERMUTU DAN BERLABEL

Penggunaan benih bermutu dan berlabel juga sangat diajurkan dalam budidaya kedelai di lahan rawa. Benih bermutu disyaratkan untuk memiliki kemurnian genetik (tingkat kemurnian benih minimal 97%), mutu fisiologi (daya tumbuh benih 80%) dan mutu fisik (kotoran benih 3,0%), kadar air 11% dan masa berlaku benih belum sampai batas kadaluarsa. Ada empat kelas benih, yaitu benih penjenis (BS), benih dasar (BD), benih pokok (BP) dan benih sebar (BR). Untuk kedelai kelas benih sebar sampai BR-1 dan BR2. Pertanaman untuk produksi benih menggunakan benih satu kelas di atas kelas benih yang akan diproduksi, misalnya ingin menghasilkan benih dasar, maka kelas benih yang digunakan adalah benih penjenis, dst. Pertanaman untuk konsumsi cukup menggunakan benih dari kelas BR, BR-1 atau BR-2.

TEKNOLOGI BUDIDAYA KEDELAI DI LAHAN RAWA:

Penyiapan Lahan

Penyiapan lahan dapat dilakukan secara mekanis dengan rotary atau manual dengan cangkul.Untuk pengaturan air, perlu dibuat saluran drainase dengan jarak antar saluran 6-8 m, panjang sesuai ukuran lahan dengan lebar 0,5 m dan kedalaman 0,3 m. Dolomit dan pupuk kandang kotoran ayam digunakan sebagai amelioran dengan takaran disesuaikan dengan tingkat kemasaman tanah. Takaran dolomit yang dianjurkan bila pH tanah 3,5-4,5 adalah 2-3 t/ha, bila pH tanah >4,5, dolomit yang diberikan dengan takaran 1-2 t/ha, sedangkan takaran pupuk kandang kotoran ayam 1 t/ha. Cara aplikasi dengan cara dilarik pada barisan tanaman.

Tanam

Tanam dilakukan dengan cara membuat lubang tanam dengan jarak tanam 40 x 10-15 cm. Populasi optimum kedelai per hektar 400.000 tanaman per hektar dengan keperluan benih 50-65 kg per hektar tergantung ukuran biji kedelai. Benih ditanam 3 biji per lubang dan setelah tumbuh disisakan 2 tanaman per lubang. Benih perlu diberi perlakuan benih dengan carbosulfan (10 g Marshall 25 ST/kg benih) atau fipronil (10 ml Reagent/kg benih) untuk mengendalikan lalat bibit dan insekta lainnya. Pada lahan yang belum pernah ditanami kedelai, benih juga perlu diberi perlakuan benih dengan rhizobium (20 g/kg benih) untuk membantu pembentukan bintil akar.

Pemupukan

Pemupukan dasardilakukanpada 7 HSTdengantakaranberdasarkan Panduan Teknis Budidaya Kedelai di Lahan Rawa Lebak sebagai berikut : Bila satus hara N, P dan K rendah, maka pupuk yang diberikan dengan takaran 50-75 kg Urea + 100-150 kg SP36 + 100-150 kg KCl per hektar. Bila status hara N, P dan K sedang, maka pupuk yang diberikan dengan takaran 25-50 kg Urea + 75-100 kg SP36 + 75-100 kg KCl per hektar. Bila status hara N, P dan K tinggi, maka pupuk yang diberikan dengan takaran 0 kg Urea + 50 kg SP36 + 50-75 kg KCl per hektar. Pupuk diberikan pada larikan di sebelah tanaman (berjarak 10 cm dari tanaman) secara merata, kemudian ditutup tanah.

Pengendalian gulma

Pengendalian gulma dilakukan dengan dua cara, yaitu secara mekanis (manual menggunakan tangan atau alat penyiang gulma), dan secara kimiawi meggunakan herbisida kontak ( paraquat) maupun sistemik (glifosat dan sulfosat). Fase kritis tanaman kedelai terhadap gulma adalah pada periode dua bulan pertama pertumbuhannya. Oleh karena itu saat pengendalian yang tepat adalah saat fase vegetatif sebelum berbunga (20-30 HST) dan fase generatif setelah tanaman berbunga (50-60 HST).

Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman

Hama utama yang sering menyerang pertanaman kedelai di lahan rawa adalah lalat bibit, ulat grayak, ulat helicoverpa, ulat penggulung daun, penggerek/pengisap polong dan kepik polong sedangkan penyakit utamanya adalah penyakit layu semai, penyakit karat, penyakit busuk akar/batang dan virus belang samar kacang panjang. Cara Pengendalian HPT dianjurkan menggunakan konsep pengendalian hama/penyakit terpadu (PHT), yaitu melalui penggunaan varietas tahan, benih bermutu, sanitasi lingkungan, kultur teknis (tanam serempak, pergiliran tanaman, pengelolaan air dan penggunaan pupuk berimbang), pestisida (nabati dan kimiawi).

Panen dan Pasca Panen

Tanaman Kedelai siap dipanen bila 95% polong telah berwarna coklat, batang mulai kering, daun berguguran. Pemanenan kedelai dapat dilakukan secara manual dengan cara dicabut atau dipotong. Pemanenan secara dipotong menggunakan sabit tajam atau sabit bergerigi. Batang kedelai dipotong pada pangkal batang sekitar 10 cm di atas tanah dengan menggunakan sabit. Cara panen dpotong lebih menguntungkan dibandingkan dengan cara panen dicabut, karena lebih cepat, dapat diterapkan pada lahan kondisi basah maupun kering, Rhizobium tetap tertinggal dalam tanah dan brangkasan bersih dari tanah. Pemanenan kedelai sebaiknya dilakukan pagi hari saat cuaca cerah, agar polong tidak pecah dan biji yang dihasilkan berkualitas baik. Apabila cuaca hujan, maka brangkasan yang sudah dipanen segera dikeringanginkan di atas para-para untuk menghindari proses pembusukan polong dan biji yang dapat menurunkan kualitas biji kedelai. Brangkasan segera dijemur 1-2 hari, kemudian dilakukan perontokkan dengan cara manual atau menggunakan mesin perontok serbaguna. Biji segera dikeringkan sampai kadar air 11% dan dibersihkan dari kotoran biji. Biji bersih segera disimpan pada karung dan siap dipasarkan. (Penyusun: Ir.Koesrini, MP.)

Diskripsi Varietas Kedelai Adaptif Lahan Rawa

Varietas

Hasil (t/ha)

Umur (HST)

Berat 100 biji (gr)

Argomulyo

2,0

79

16,0

Rajabasa

2,1

85

15,0

Anjasmoro

2,0

82

14,8

Gema

2,5

73

11,9

Ijen

2,5

83

11,2

Dering

2,8

81

10,7

Lawit

1,9

84

10,5

Wilis

1,6

85

10,0

Seulawah

1,6

93

9,5

Menyapa

2,0

85

9,1