JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Daya Adaptasi Varietas Tomat di Lahan Rawa Lebak

Daya Adaptasi Varietas Tomat di Lahan Rawa Lebak

ABSTRAK

Tanaman tomat merupakan jenis hortikultura yang mempunyai daya adaptasi yang cukup luas dari dataran tinggi sampai dataran rendah, sehingga perlu diteliti daya adaptasinya pada lahan lebak. Lahan lebak merupakan lahan yang cocok untuk pengembangan tanaman tomat, namun hasil diperlukan jenis-jenis tomat yang sesuai dengan kondisi dan sifat lahan lebak. Untuk maksud tersebut telah diteliti daya adaptasi tomat untuk mendapatkan varietas tomat yang adaptif di lahan rawa lebak. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Tanggul Kecamatan Simpur, Kabupaten Hulu Sungai Selatan pada MK 2002. Sepuluh varietas tomat yaitu; Oval, Idola, Mirah, Geulis, Mutiara, Ratna, Epoch, Permata, Mitra dan Zamrud diteliti dalam Rancangan Acak Kelompok, tiga ulangan. Delapan varietas tomat memberikan hasil cukup tinggi yaitu varietas Mirah 19,28 t/ha, Ratna 13,78 t/ha, Geulis 13,28 t/ha, Epoch 12,12 t/ha, Mitra 12,04 t/ha, Permata 10,65 t/ha, Idola 10,56 t/ha, Mutiara 10,34 t/ha, sedangkan varietas Oval hasilnya lebih rendah, yaitu 6,53 t/ha. Pada penelitian ini varietas Zamrud tidak dapat beradaptasi di lahan lebak. Dari penampilan keragaan tanaman, varietas Idola dinilai paling baik dibandingkan dengan varietas lainnya.


PENDAHULUAN

Terjadinya penyusutan lahan areal pertanian yang subur untuk keperluan pembangunan sektor non pertanian di Pulau Jawa, menjadikan lahan marginal seperti lahan rawa lebak banyak dilirik untuk dijadikan areal pertanian seperti sayur-sayuran. Potensi lahan rawa lebak di Kalimantan Selatan luasnya mencapai 500.000 ha dan yang dinilai sesuai untuk tanaman pertanian sekitar 119.523 ha, dan baru sekitar 60.000 ha yang telah dimanfaatkan (Diperta TK I Kalimantan Selatan, 1999).

Pemanfaatan lahan rawa lebak untuk pertanian khususnya pada musim kemarau oleh petani mulai dimanfaatkan untuk budidaya sayur-sayuran, seperti tanaman tomat. Lebak dangkal atau yang biasa disebut lebak pematang, terletak dibagian tanggul sungai, hanya tergenang dimusim hujan sekitar tiga bulan dengan kedalaman genangan rata-rata kurang dari 50 cm (Badan Litbang Pertanian, 2003), sehingga periode keringnya cocok untuk pertanaman hortikultura. Produktivitas tanaman di lahan lebak masih relatif rendah, karena varietas yang ditanam umumnya adalah varietas lokal dengan teknologi yang juga masih sederhana.

Tomat (lycopersicon esculentum Mill) merupakan tanaman dataran tinggi dan medium, tetapi diantaranya ada yang sesuai untuk dataran rendah. Varietas yang kurang sesuai dapat menyebabkan hasil yang rendah (Djaya, 1994). Oleh karena itu, selain menggunakan varietas yang sesuai, juga perlu diperhatikan beberapa kendala dalam pengembangan tomat di dataran rendah, seperti suhu tinggi, kesuburan tanah rensah, dan kemasaman tanah yang tinggi (Sutapraja dan Sarwani, 1996), dan lingkungan di sekitar akar tanaman (Nurtika dan Abidin, 1997). Menurut Rismunandar (1995), untuk mencapai pertumbuhan dan hasil yang optilak dibutuhkan interaksi dari faktor-faktor seperti ketinggian tempat, tanah, iklim dan pengairan.

Pada tahun 1980 Balai Penelitian Sayuran (Balitsa) telah melepas varietas yang beradaptasi baik di dataran rendah seperti Ratna dan Mutiara (Purwati, 1997). Kemudian pada tahun 1999 dari hasil penelitian perbaikan varietas diperoleh tiga galur unggul tomat dataran rendah yaitu Mirah, Opal dan Zamrud yang memiliki potensi hasil 30-50 t/ha (Purwati et al., 2001).

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti dan mendapatkan varietas tomat yang mempunyai daya adaptasi baik, dan hasil tinggi di lahan rawa lebak dangkal.

Prosiding Seminar Nasional
Inovasi Telnologi Pengelolaan Sumberdaya Lahan Rawa dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan
Banjarbaru, Kalimantan selatan 5-7 oktober 2004

Keragaman Daya Toleransi dan Hasil Kacang Tanah di Lahan Masam

Keragaman Daya Toleransi dan Hasil Kacang Tanah di Lahan Masam

ABSTRAK

Tingkat kemasaman tanah, rendahnya kandungan unsur kalsium dan tingginya tingkat kejenuhan Al merupakan beberapa faktor penyebab rendahnya hasil kacang tanah di lahan masam. Penggunaan varietas toleran merupajan salah satu upaya untuk meningkatkan hasil kacang tanah di lahan masam. Kacang tanah memiliki toleransi yang baik di lahan masam. Keragaan hasil kacang tanah dipengaruhi oleh kondisi tingkat cekaman lingkungan. Semakin berat tingkat cekaman lingkungan, keragaan hasil semakin rendah. Tingkat kemasaman tanah, kandungan unsur Ca dan Na, kansungan Aldd dan tingkat kejenuhan Al berperan cukup besar dalam menentukan hasil kacang tanah. Kacang tanah akan berproduksi cukup tinggi, pada lahan-lahan dengan tingkat kemasaman tanah (pH) ? 4,5, kandungan unsur Ca ? 2 me/100 g dan tingkat kejenuhan Al < 2%. Terdapat 7 genotipe yaitu GH-2, GH-4, GH-5, GH-8, GH-9, GH-11 dan GH-12 memiliki hasil tinggi, mutu biji baik dan toleran terhadap cekaman kemasaman tanah.


PENDAHULUAN

Di Indonesia kacang tanah sebagian besar (70%) dibudidayakan di lahan kering dan bukaan baru dan sekitar hanya sebesar 30% ditanam di lahan sawah setelah tanaman padi (Adisarwanto et al., 1996). Luas panen kacang tanah selama periode dua dasawarsa terakhir mengalami peningkatan sebesar 39%, sedangkan produktivitas relatif stabil yaitu sekitar 1,0 t/ha (Haerah, 1992). Kacang tanah tergolong tanaman yang serba guna, karena hampir semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan dan mampu memberikan nilai guna yang cukup tinggi. Daun kacang tanah dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik dan bahan pakan ternak. Bijinya dapat simanfaatkan baik sebagai bahan pangan, pakan maupun industri. Dengan semakin beragamnya produk olahan yang dibuat dari kacang tanah, meningkatkan permintaan komoditas tersebut dan tidak dapat dipasok dari dalam negeri. Oleh karena itu, peningkatan produktivitas perlu dipacu baik melalui perluasan areal tanam maupun peningkatan produktivitas tanaman.

Kacang tanah tergolong tanaman yang mudah dibudidayakan, tidak terlalu memerlukan perawatan intensif, resiko kegagalan akibat serangan hama rendah dan nilai ekonominya cukup tinggi serta toleran terhadap cekaman kemasaman (Sudjadi et al., 1990; Sumarno dan Marwan, 1991; Gani et al., 1992). Hasil studi kelayakan usahatani di beberapa ekosistem menunjukkan bahwa nilai R/C usahatani kacang tanah lebih tinggi daripada nilai R/C usahatani jagung, kedelai dan padi. Dengan kata lain budidaya kacang tanah lebih menguntungkan dibandingkan tiga komoditas lainnya (Nur et al., 1996; Saderi dan Ramli, 1995; Rina et al., 2002).

Kacang tanah merupakan tanaman yang memiliki adaptasi luas, dapat tumbuh baik di lahan kering, lahan sawah maupun lahan bukaan baru/marjinal (Adisarwanto et al., 1996). Syarat tumbuh agar kacang tanah dapat tumbuh dan berproduksi baik adalah jumlah curah hujan antara 2000-3000 mm/tahun, jumlah bulan kering < 9,5 bulan/tahun, suhu udara antara 18-30?C, tanah bertekstur ringan dan gembur serta kaya bahan organik (Sumarno, 1986; Rais, 1996). Berdasarkan besarnya manfaat yang dihasilkan dan aspek kesesuaian lahan, kacang tanah memiliki peluang untuk dikembangkan di lahan masam.

Tingkat produktivitas kacang tanah di tingkat petani relatif masih rendah yaitu 0.97 t polong kering/ha (Maamun et al., 1996), padahal potensi hasil yang ditunjukkan pada tingkat percobaan dapat mencapai hasil lebihdari 2 t polong kering/hektar (Rais, 1996; Koesrini et al., 1997; Anwar dan Saderi, 2002). Rendahnya hasil ini disebabkan petani jarang melakukan pemupukan, penyiapan lahan dengan baik dan penggunaan varietas unggul serta kondisi biofisik lahan yang cukuh berkendala.

Di Indonesia sebagian besar varietas kacang tanah yang ditanam tergolong tipe spanish dan valensia. Umur panen kedua tipe tersebut relatif lebih pendek dibandingkan dengan tipe virginia. Tipe spanish dan virginia dapat dipanen pada umur 90-110 hari, sehingga tipe virginia baru dapat dipanen pada umur 4-5 bulan. Tipe virginia hanya beradaptasi baik terutama di daerah sub tropik (Purseglove, 1977). Tipe spanish dicirikan dengan kulit polong halus sampai agak kasar, jumlah biji per polong 2 dan bentuk biji oval, sedangkan tipe valensia dicirikan dengan kulit polong agak kasar, jumlah biji per polong 3-4 dan bentuk biji persegi. Petani di Kalimantan Selatan pada umumnya menanam varietas lokal dengan karakteristik biji berwarna merah muda, jumlah biji per polong 2 dan ukuran biji kecil (< 30 g/100 biji). Virietas ini banyak dimanfaatkan baik untuk konsumsi langsung (direbus) maupun sebagai bahan industri makanan ringan kacang jaruk yang cukup terkenal di Kalimantan Selahan.

Empat varietas kacang tanah untuk adaptasi di lahan kering masam telah dilepas oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dengan nama varietas Badak, Landak, Simpai dan Trenggiling. Varietas Badak dan Trenggiling memiliki warna biji merah muda, sedangjan varietas Landak dan Simpai memiliki warna biji merah (Rais, 1996). Petani dapa umumnya lebih menyukai varietas dengan warna biji merah muda, karena lebih laku di pasaran. Sampai saat ini belum ada varietas yang dilepas untuk adaptasi di lahan rawa. Namun demikian beberapa varietas unggul yang dilepas untuk ekosistem lahan lainnya, ternyata dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di lahan pasang surut, seperti dikemukakan oleh Anwar dan Saderi (2002).

Hasil penelitian Anwar dan Saderi menunjukkan bahwa dari 5 varietas yang diuji yaitu Jerapah, Singa, Kelinci, Panther dan Mahesa di lahan sulfat masam menunjukkan bahwa kelima varietas tersebut memiliki potensi hasil sama dengan varietas cek Gajah dengan rataan hasil lebik dari 2 t polong kering/ha, rataan hasil varietas Gajah adalah 1,8 t/ha. Dari pengujian ini juga dapat diinformasikan bahwa pada kondisi ada cekaman lingkungan (kemasaman dan drainase jelek), varietas Jerapah memiliki daya toleransi yang lebih baik. Varietas Gajah dan Jerapah merupakan varietas yang memiliki adaptasi luas. Varietas tersebut dapat tumbuh dan berproduksi tinggi baik di lahan kering, lahan sawah dan lahan pasang surut (Kasno et al., 2001).

Berdasarkan fakta di atas dan dari hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa kacang tanah memiliki potensi dan peluang untuk dikembangkan di lahan masam. Dengan pengelolaan budidaya yang tepat dan penggunaan varietas adaptif, produksi kacang tanah di lahan masam dapat ditingkatkan.


Prosiding Seminar Nasional
Inovasi Telnologi Pengelolaan Sumberdaya Lahan Rawa dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan
Banjarbaru, Kalimantan selatan 5-7 oktober 2004