JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Galur-galur Padi Rawa Toleransi terhadap Rendaman

Galur-galur Padi Rawa Toleransi terhadap Rendaman

ABSTRAK

Genangan air yang cukup lama merupakan salah satu masalah pokok di lahan rawa, terutama lahan lebak di musim hujan. Bibit padi yang terendam cukup lama biasanya akan mati, sehungga diperlukan bibit yang toleran rendaman untuk mengantisipasinya. Sebanyak 70 genotipe padi (38 galur berasal dari IRRI) diuji daya toleransinya terhadap rendaman di dalam bak beton. Sebagai pembanding digunakan varietas Tapus. Lamanya rendaman masing-masing 1 minggu, 2 minggu, dan 3 minggu. Air yang digunakan berupa air leding yang jernih dengan tinggi air rendaman 125 cm. Pengamatan dilakukan terhadap tanaman hidup, tanaman mampu bangkit kembali, tinggi tanaman, hasil per rumpun dan komponen hasilnya. Hasip pengujian menunjukkan bahwa kemampuan tanaman hidup atau bangkit kembali hanya sampai direndap 2 minggu, sedangkan perendaman 3 minggu semua genotipe mati. Pada 2 minggu rendaman terdapat 3 galur berdasarkan persentase hidup 100%, yaitu IR66036-3B-13-2-B, IR70215-2-CPA-2-1-B-1-2, dan IR73047-6-1-1-1-B-2-B. Sedangkan berdasarkan persentase bangkit kembali terdapat 2 galur yang 100% mampu bangkit kembali (recovery), yaitu IR70215-2-CPA-2-1-B-1-2 dan IR73047-6-1-1-1-B-2-B. Potensi hasil per rumpun yang lebih tinggi ditunjukkan oleh galur IR70215-2-CPA-2-1-B-1-2 dan IR70213-10-CPA-2-3-2-1 masing-masing dengan 27 gram dan 25,9 gram. Galur-galur ini disarankan perlu diuji kembali dengan menggunakan air keruh ataupun air dari lahan gambut atau sulfat masam untuk melihat konsistensi toleransinya terhadap rendaman.


PENDAHULUAN

Padi merupakan komiditas strategis, karena sebagian besar penduduk Indonesia bertumpu pada beras sebagai konsumsi utamanya. Selama ini produksi padi ditumpukan pada sawah beririgasi (produktif) di pulau Jawa. Seiring dengan terus menciutnya lahan produktif tersebut untuk kegunaan non pertanian, maka upaya peningkatan produksi padi perlu diarahkan ke lahan-lahan magrinal, seperti lahan rawa yang banyak terdapat di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Irian.

Luas lahan rawa di Indonesia sekitar 33,4 juta ha yang terdiri dari 20,1 juta ha lahan pasang surut dan 13,3 juta ha lahan lebak (Widjaja-Ahdi, et.al., 2000). Dari potensi luasan tersebut tentu tidak semua dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian, terutama padi. Ditjen Pengembangan Pedesaan (2000) menginformasikan hanya 11% dari luasan tersebut yang sudah dikembangkan, 1,3 juta ha atau 3,9% melalui proyek-proyek yang disponsori pemerintah dan 2,4 juta ha atau 7,1% dimanfaatkan oleh pemukiman lokal.

Kendala utama yang sering dihadapi di lahan rawa adalah masalah tanah dan tata air. Genangan yang dalam menyebabkan lahan tidak dapat ditanami dan adanya beberapa unsur beracun seperti Fe dan asam-asam organik. Khusus di lahan lebak, problem utamanya adalah air, sehingga perkiraan fluktuasi air yang tepat akan sangat membantu petani dalam memanfaatkan lahan tersebut untuk pertanaman padi.

Lahan rawa lebak dicirikan oleh genangan air yang melimpah. Air yang menggenang tersebur bukan merupakan air asang tetapi berasal dari limpasan air permukaan di wilayah tersebut dan air dari wilayah sekitarnya akibat topografinya yang lebih rendah dan curah hujan di wilayah sekitarnya (Ismail et.al., 1993). Menurut Widjaja-Adhi et.al. (1992), berdasarkan lama dan ketinggian genangan air, lahan lebak dapat dikelompokkan menkadi lebak dangkal (tinggi genangan <50 cm dan lama genangan 3 bulan), lebak tengahan (tinggi genangan 50-100 cm dan lama genangan 4-6 bulan), dan lebak dalam (tinggi genangan >100 cm dan lama genangan >6 bulan).

Budidaya padi di lahan rawa lebak ada dua macam, yaitu padi rintak dan padi surung (Noorsjamsi dan Hidayat, 1974). Padi rintak adalah pertanaman padi yang dilaksanakan pada musim kemarau. Kendala yang sering dihadapi diantaranya fluktuasi air yang tidak mementu dan sulit diramal, tingkat kesuburan yang heterogen, gulma yang tumbuh cepat dan cekaman kekeringan (Ar-Riza., et.al., 2004). Cekaman kekeringan umumnya terjadi pada saat tanaman memasuki fase berbunga, sehingga panen sering gagal (Sutami et al., 1993). Sedangkan padi surung adalah penanaman padi yang dilaksanakan pada musim hujan. Kendala yang dijumpai adalah datangnya air yang kadang-kadang mendadak sehingga dapat menenggelamkan bibit yang belum tinggi (Ar-Riza, 2000).

Salah satu teknologi budidaya yang relatif murah , mudah dan aman adalah penggunaan varietas unggul yang adaptif di lahan rawa lebak. Varietas unggul yang bibitnya mampu terendam cukup lama merupakan aspek penting untuk budidaya padi di lahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan galur-galur padi yang tahan terendam pada fase bibit.


Prosiding Seminar Nasional
Inovasi Telnologi Pengelolaan Sumberdaya Lahan Rawa dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan
Banjarbaru, Kalimantan selatan 5-7 oktober 2004

Penampilan Genotipe Melon di Lahan Rawa Pasang Surut Kalimantan Selatan

Penampilan Genotipe Melon di Lahan Rawa Pasang Surut Kalimantan Selatan

Muhammad Saleh dan Eddy William
Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

Abstrak

Luas lahan rawa pasang surut berkisar 20,1 juta hektar, sekitar 9,5 juta ha sangat potensial untuk pertanian. Selain tanaman padi, tanaman hortikultura juga berpotensi untuk dikembangkan. Tanaman horticultural dapat dikembangkan di lahan rawa pasang surut tipe luapan B dan C. pada tipe luapan B dengan membuat sistem surjan, pada tipe luapan tipologi C sangat memungkinkan dilaksanakan dalam betuk hamparan pada musim kemarau. Melon merupakan tanaman buah, yang umumnya ditanaman pada lahan kering. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi bertujuan untuk mengevaluasi penampilan tanaman melon di lahan rawa pasang surut sulfat masam, dilaksanakan di Kebun Percobaan BAlandean, MH 2006/2007. Tiga genotipe melon yang Galuh, Melon 86 dan Melon 411, ditanam pada surjan dengan satuan percobaan berukuran 3 m x 20 m. jarak tanam 75 cm x 60 cm, 1 buiji/lubang tanam. Kapur dan pupuk kandang diberikan 2 minggu sebelum tanam dengan dosis masing-masing 1,0 dan 20,0 t/ha. Pupuk buatan yang diberikan berupa P2O5, K2O dan NPK Mutiara dengan dan 20,0 t/ha. Penelitian menunjukkan bahwa : hasil yang dicapai genotipe Galuh, Melon 86 dan Melon 411 berturun-turun adalah 15,69 ; 13,3 dan 8,73 t/ha.


Kata kunci: melon rawa pasang surut

Pendahuluan

Lahan rawa pasang surut yang berpotensi untuk pertanian seluas 9,53 juta ha, dari luasan tersebut sekitar 29% berada di Kalimantan (Nugraha et al., 1993 dalam Purwanto, 2006). Dalam pengelolaan pertanian di olahan raw pasang surut, terdapat beberapa kendala, diantaranya kemasaman tanah yang tinggi, terdapatnya kandungan Fe dan Al yang dalam konsentrasi tinggi dapat meracuni tanaman, dan genangan air. Selain tanaman padi, tanaman hortikultura yang berpotensi untuk di kembangkan

Tanaman hortikultura dapat dikembangkan di lahan rawa pasang surut tipe luapan B dan C. Pada tipe luapan B dengan membuat sistem surjan, pada tipe luapan C sangat memungkinkan dilaksanakan dalam bentuk hamparan pada musim kemarau. Melon adalah tanaman buah yang termasuk family Cucurbitaceae. Tanaman melon mempunyai kelebihan dibandingkan semangka dan blewah. Kelebihannya nampak pada rasa dengan aroma yang harum, sedangkan daya tarik pembudidayaan melon adalah nilai ekonomi yang tinggi serta publisitasnya yang tinggi (yamaguchi, 1983 dalam Setiti et al., 1996) Melon merupakan tanaman buah yang mengandung gizi cukup tinggi. Kandungan gizi buah melon adalah vitamin A 350 IU, 6,2% karbohidrat, 0,30% lemak, 0,50% protein dan 92,1% air (Anshari, 2005; Seriadi dan Pauna 2001). Selain dikonsumsi segar sebagai buah meja, melon juga digunakan sebagai bahan penyedap rasa atau pemberi aroma khas, baik untuk sirup maupun untuk permen. Ssebagai tanaman buah,melon mempunyai kelebihan yaitu harga jual yang tinggi dan daya simpan buahnya yang agak lama. Menurut Anshari, (2005), Setiadi dan Pauna (2001), melon akan tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian 300 m – 1.000 m dari permukaan laut.

Hasil suatu tanaman dipengaruhi oleh lingkungan, genotipe dan interaksi antara genotipe x lingkungan. Dengan penanaman genotipe melon yang adaptif dan berdaya hasil tinggi, serta perbaikan lingkungan tumbuh tanaman seperti: pemberian bahan amelioran dan pengaturan tata air, tanaman melon dapat dibudidayakan.

Petani di lahan rawa pasang surut pada umumnya belum membudidayakan tanaman melon, pengujian melon di lahan rawa pasang surut juga belum banyak dilaporkan, serta varietas melon yang dilepas khusus untuk lahan rawa pasang surut juga belum ada.  Karena itu pengujian beberapa genotipe melon di lahan rawa pasang surut perlu dilakukan.

Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi penampilan tanaman melon di lahan rawa pasang surut sulfat masam.


Prosiding Seminar Nasional Pertanian Lahan Rawa
Revitalisasi Kawasan PLG dan Lahan Rawa Lainnya untuk Membangun Lumbung Pangan Nasional
Kuala Kapuas, 3-4 Agustus 2007 Buku I