JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Respositas 12 Genotipe Kedelai Terhadap Pengapuran di Lahan Rawa Pasang Surut Sulfat Masam

Respositas 12 Genotipe Kedelai terhadap Pengapuran di Lahan Rawa Pasang Surut Sulfat Masam

Koesrini dan Eddy William
Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

Abstrak

Salah satu kendala yang dihadapi di klahan rawa pasang surut sulfat masam adalah reaksi tanah yang sangat masam, sehingga berdampak pada hasil yang sangat rendah. Salah satu upaya untuk meningkatkan hasil kedelai di lahan tersebut adalah dengan pemberian kapur. Tujuan penelitian adalah mengetahui responsitas 12 genotipe kedelai terhadap pengapuran di lahan sulfat masam. Penelitian dilaksanakan di lahan sulfat masam di Barambai-Kabupaten Batola, Kalimantan Selatan pada MH 2002/03. Rancangan petak terpisah dengan 4 ulangan digunakan untuk menata perlakuan. Sebagai petak utama adalah perlakuan kapur, yaitu kapur 1 t/ha dan kapur 2 t/ha. Sedangkan sebagai anak petak adalah 12 genotipe kedelai yaitu terdiri dari 8 galur kedelai dan 4 varietas pembanding (lawit, Menyapa, Wilis dan Slamet). Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi respon genotipe kedelai terhadap pengapuran. Genotipe Msc  9234-d-3 dikategorikan paling respon terhadap pengapuran, dengan nilai peningkatan hasil 21,7%.


Kata kunci: responsitas, kedelai, lahan sulfat masam

Pendahuluan

Lahan rawa pasang surut memiliki potensi dan prospek yang besar untuk pengembangan areal produksi pertanian ke depan guna mendukung peningkatan ketahanan pangan. Peningkatan ketahanan pangan dapat dilakukan melalui peningkatan produksi maupun perluasan areal tanam dengan pembukaan lahan baru dan meningktanya intensitas tanam pada areal yang sudah diusahakan. Hal ini sangat dimungkinkan, karena areal lahan rawa pasang surut yang berpotensi untuk pertanian tanaman pangan sangat luas dengan ketersediaan air yang cukup, baik dari hujan maupun dari air pasang (Alihamsyah, 2001).

Di Indonesia diperkirakan terdapat 20,11 juta ha lahan rawa pasang surut, yang terdiri dari 2,07 juta ha lahan potensial, 6,71 juta ha lahan sulfat masam, 10,89 juta ha lahan gambut dan 0,44 juta ha lahan salin. Dari luasan tersebut, sekitar 9, 53 juta ha berpotensi untuk dijadikan lahan pertanian dan yang sudah direklamasi sekitar 4,186 juta ha (Widjaja et al., 1992). Saklah satu tipologi lahan rawa pasang surut yang cukup berpotensial untuk pengembangan kedelai adalah tipologi lahan sulfat masam. Di lahan tersebut, kedelai ditanam pada tipe B di bagian surjan dan pada tipe C di hamapar pada awal musim hujan atau pada musim kemarau pertama.

Intensitas pertanaman kedelai di lahan pasang surut relative masih rendah, demikian juga rataan hasil di tingkat petani masih rendah (0, 75 t/ha) (Ramli et al., 19960. Hal ini disebabkan tingginya tingkat kendala yang dihadapi di lahan pasang surut. Kendala utama dalam upaya pemanfaatan lahan rawa pasang surut untuk pertanaman kedelai menyangkut pada masalah air dan tanah. Masalah air merupakan masalah utama, karena dapat mempengaruhi secara langsung  terhadap masalah tanah. Senyawa pirit (FeS2) yang banyak terdapat di lahan rawa pasang surut terutama di lahan sulfat masam, pada kondisi tergenang tidak berbahaya bagi tanaman. Namun pada kondisi kering (seperti halnya budidaya kedelai) akan terjadi oksidasi dan senyawa tersebut akan membentuk asam sulfat, sehingga tanah menjadi sangat masam. Senyawa pirit di dalam tanah yang teroksidasi karena terjadi kekeringan akan mengakibatkan hancurnya kisi-kisi mineral liat dan menghasilkan ion Al3+ dan Fe2+, yang beracun bagi tanaman. Di samping itu juga berakibat tercucinya basa-basa seperti Ca, Mg dan K, sehingga tanah menjadi masam dan miskin hara (Widjaja Adhi et al., 1992; Saragih et al., 2001).

Tingkat kemasaman tanah di lahan rawa pasang surut, umumnya masam, yaitu pH kurang dari 4 dan bervariasi dari satu lokasi ke lokasi lainnya (Suriadikarta et al., 2000). Bervariasinya nilai pH terutama disebabkan oleh perbedaan kondisi tipologi yang dipicu oleh setress lingkungan seperti kekeringan, kebakaran dan pola budidaya yang berbeda. Oleh karena itu diperlukan pemberian bahan ameliorant yang dapat meningkatkan pH tanah dan sekaligus merupakan sumber hara yang dibutuhkan tanaman. Pemberian bahan amelioran merupakan salah satu cara yang cukup efektif untuk memperbaiki tingkat kesuburan lahan, terutama pada lahan-lahan yang baru terbuka. Kapur merupakan sumber bahan ameliorant yang banyak digunakan untuk memperbaikan reaksi tanah, meningkatkan keterseediaan unsure hara dalam tanah, mengefektifkan penambahan hara dari luar, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman (saragih et al., 2001).

Selain dengan pemberian kapur, penggunaan genotipe yang adaptif tehadap  tanah masam, juga merupakan salah satu cara untuk meningkatkan hasil kedelai di lahan sulfat masam. Dua variasi kedelai yang telah dilepas untuk adptasi di lahan rawa pasang surut adalah Lawit dan Menyapa. Keragaan hasil kedua varietas tersebut pada tanam masam (antara pH 4,5-5) dapat mencapai hasil 1,5-2.0 t/ha biji kering (Sabran et al., 2001). Kelemahan dari kedua varietas tersebut adalah ukuran bijinya yang tergolong kecil (7-8 g/100 biji). Ke depan pemilihan galur dengan ukuran biji besar akan menjadi salah satu criteria seleksi.

Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian kapur terhadapat pertumbuhan dan hasil 12 genotipe kedelai di lahan sulfat masam.


Prosiding Seminar Nasional Pertanian Lahan Rawa
Revitalisasi Kawasan PLG dan Lahan Rawa Lainnya untuk Membangun Lumbung Pangan Nasional
Kuala Kapuas, 3-4 Agustus 2007
Buku I

Pemanfaatan Lahan Rawa Lebak untuk Tanaman Palawija

Pemanfaatan Lahan Rawa Lebak untuk Tanaman Palawija

ABSTRAK

Lahan lebak mempunyai potensi yang cukup besar dari 13,2 juta ha hanya sekitar 0,72 juta ha yang telah di manfaatkan untuk budidaya tanaman pangan. Lahan lebak berdasar kedalaman dan lama genangan air dapat dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu lebak dangkal, lebak tengahan dan lebak dalam. Sedangkan berdasarkan jenis tanah dapat dibedakan mebjadi lebak bergambut dengan potensi luas 4,99 juta hektar dan tidak bergambut seluas 8,21 juta hektar. Lahan lebak mempunyai reaksi tanah masam dengan pH 4-4,2, C-organik 10,8 %, N total 0,33 %, sedang P-total 11,3 me/100g, (rendah) dan K-total (rendah) 0,20 mg/100g. Secara agronomis lahan lebak selain dapat dimanfaatkan untuk tanaman padi, juga cocok untuk tanaman palawija seperti jagung dan kedelai. Tanaman jagung telah sejak lama diusahakan oleh petani lahan rawa sedangkan tanaman kedelai merupakan komoditas baru bagi petani rawa sehingga pengusahaannya belum meluas. Pengusahaan tanaman palawija dilaksanakan pada musim kemarau, sehingga peluang pasarnya sangat luas. Namun demikian, karena tingkat produksinya masih relatif rendah yang disebabkan oleh masalah lahan dan organisme pengganggu, maka penerapan teknologi yang sesuai merupakan kunci keberhasilan dari usahatani palawija di lahan lebak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan pemilihan varietas yang sesuai, teknik penyiapan lahan dan pemberian pupuk yang sesuai maka hasil jagung di laham lebak dapat ditingkatkan dari 3,2 t/ha menjadi 4,2 t/ha untuk jagung, kedelai 0,8 t/ha menjadi 1,3 t/ha. Dengan menerapkan teknologi budidaya yang sesuai, potensi tanaman palawija di lahan lebak dapat dikembangkan sebagai salah satu upaya meningkatkan pendapatan petani.


PENDAHULUAN

Lahan rawa lebak merupakan salah satu agroekosistem potensial yang pemanfaatannya belum optimal, dari luas 13,2 juta hektar yang telah dimanfaatkan untuk budidaya tanaman pangan baru sekitar 0,72 juta hektar. Lahan rawa lebak tidak saja cocok untuk pertanaman padi, tetapi juga sesuai untuk tanaman palawija seperti jagung, kacang-kacangan, dan ubi-ubian serta hortikulrura (Ar-Riza et al., 1992; Suprihatno et al., 2000).

Tanaman palawija sebagai tanaman utama setelah padi, dibudidayakan pada musim kemarau, bisa dengan pola monokultur, tumpang sari dengan sayuran atau pola pergiliran padi-palawija. Pola pergiliran padi-palawija biasanya dilaksanakan pada wilayah lahan lebak pematang atau lebak dangkal, sedangkan pola tumpang sari jagung + sayuran dilaksanakan pada penataan lahan sistem surjan. Tanaman jagung yang diusahakan masih didominasi oleh pengguna varietas lokal, dan hampir semuanya dipanen muda untuk memenuhi permintaan pangsa pasar yang cukup besar. Upaya untuk mengubah pola panen muda ke panen pipilan kering belum berhasil, dikarenakan panen jagung muda dinilai lebih efisien, karena waktunya lebih singkat, harga jual lebih mahal, dan pangsa pasarnya lebih besar dibandingkan dengan panen pipilan kering (Rosita, 1993).

Tanaman kedelai pada lahan lebak merupakan komoditas baru, sehingga pertanaman yang luas umumnya merupakan pertanaman proyek binaan instansi pemerintah, sedangkan dari swasta nampak masih belum mau memanfaatkan potensi sumberdaya yang ada di lahan lebak. Selain tanaman kedelai, jenis kacang tunggak yang dikenal sebagai kacang negara yang telah banyak diusahakan oleh petani, tetapi belum diketahui secara pasti potensi pasarnya.

Selain jagung dan kacang-kacangan, tanaman ubi-ubian utamanya jenis ubi jalar yang disebut sebagai ubi Negara, dan ubi Alabio (Descorea allata) yaitu jenis Uwi (=Jawa) telah menjadi tanaman khas lahan lebak dan memberikan kontribusi yang cukup besar dalam sistem usahatani di lahan lebak Kalimantan Selatan (Ismail et al., 1993).

Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi bahwa berdasar daya dukung agronomis, dan peluang pasar, komoditas palawija di lahan lebak mempunyai prospek pengembangan yang baik. Namun demikian untuk mencapai tujuan tersebut penerapan teknologi yang sesuai dengan kondisi lahan dan komoditas yang diusahakan akan menjadi kunci keberhasilan.


Prosiding Seminar Nasional
Inovasi Telnologi Pengelolaan Sumberdaya Lahan Rawa dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan
Banjarbaru, Kalimantan selatan 5-7 oktober 2004