JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Dominasi Vektor Penyakit Tungro di Lahan Rawa Kalimantan Selatan

Dominasi Vektor Penyakit Tungro di Lahan Rawa Kalimantan Selatan

ABSTRAK

Lahan rawa dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru untuk meningkatkan produksi pangan nasional. Salah satu kendala budidaya tanaman padi di lahan rawa adalah gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT). Penyakit tungro adalah salah satu penyakit penting tanaman padi di Kalimantan Selatan. Penyakit ini dapat menyebar dengan cepat terutama apabila faktor-faktor lingkungan cukup mendukung perkembangannya. Salah satu faktor pendukung penyebaran penyakit tungro adalah wereng hijau. Wereng hijau merupakan vaktor utama penyebaran penyakit tungro. Di Kalimantan Selatan ditemukan dua spesies utama wereng hijau yaitu Nephotettix virescens dan Nephotettix nigropictus. Hasil observasi menunjukan bahwa N. virescens dominan ditemukan di lahan rawa pasang surut, sedangkan N. nigropictus dominan ditemukan di lahan rawa lebak. Intensitas serangan penyakit tungro juga ditemukan lebih tinggi di lahan rawa pasang surut dibandingkan dengan di lahan lebak.


PENDAHULUAN

Lahan rawa (pasang surut dan lebak) merupakan lahan marjinal yang apabila dikelola dnegan baik dapat memberikan kontribusi bagi pengadaan pangan, lapangan kerja, dan kesejahteraan petani. Lahan rawa tersebar luas di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Irian Jaya.

Seperti halnya budidaya tanaman padi di lahan lainnya, hama dan penyakit menjadi salah satu kendala budidaya tanaman padi di lahan rawa. Sejumlah hama dan penyakit penting ditemui menyerang tanaman padi di lahan rawa, salah satu diantaranya adalah penyakit tungro. Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura VIII (BPTPH VIII) Banjarbaru (2002), melaporkan bahwa organisme pengganggu (OPT) utama tanaman pangan di Kalimantan Selatan adalah; tikus, pengerak batang padi (PBP), wereng batang coklat (WBC), tungro dan blas.

Tungro merupakan satu dari sejumlah penyakit padi yang paling merusak di Asia segera setelah diintroduksikannya teknologi-teknologi baru untuk meningkatkan produktivitas pada akhit tahun 1960-an (Suzuki et al., 1992). Di Kalimantan Selatan penyakit ini merupakan penyakit utama pada tanaman padi. Estimasi kehilangan hasil akibat penyakit ini seber 1.823,09 ton/hektar/tahun (BPTPH VIII, 2000). Pada tahun 1962 penyakit ini ditemukan secara sporadis dan gejala serangannya dikenal sebagai “penyakit habang”. Tetapi dari tahun 1969-1971, penyakit ini menyebar secara epidemis dan menyebabkan kerusakan lebih dari 10.000 hektar tanaman padi. Ledakan tungro juga terjadi pada tahun 1997 yang menyerang 2.246 hektar tanaman padi, dan tahun 2000 menyerang 1.999 hektar tanaman padi (BPTPH, 2001).

Penyakit tungro mempunyai gejala khas, yakni daun tanaman terserang barwarna kuning oranye yang dimulai dari ujung daun selanjutnya berkembang ke bagian bawah. Daun yang berwarna kuning oranye selanjutnya akan tampak bintik-bintik karat berwarna hitam. Jumlah anakan tanaman terserang berkurang dan tanaman kerdil serta malai yang terbentuk lebih pendek dan banyak yang hampa.

Tungro, yang berarti degenerasi pertumbuhan, adalah penyakit kompleks yang disebabkan oleh infeksi gabungan dari rice tungro bacilliform virus (RTBV) dan rice tungro spherical virus (RTSV), yang disebarluaskan oleh wereng hijau sebagai vactor utamanya. Di Kalimantan Selatan, Nephotettix virescens dan Nephotettix nigropictus merupakan spesies wereng hijau yang dominan ditemukan. Sekitar 83% dari populasi N. virescens adalah penular virus aktif (Rivera dan Ou, 1965), sedangkan persentase penular aktif N. nigropictus bervariasi dari 0 sampai 45% pada koloni yang berbeda (IRRI, 1968, 1972; Ling, 1970).

Virus tungro ditularkan dengan cara semi persisten atau dikenal juga dengan transitory. Virus disimpan oles serangga vektor dalam waktu yang singkat. Minimum makam akuisisi (acquisition feeling period) dan makan inokulasi (inoculation feeling period) masing-masing 30 menit dan 15 menit. Selama periode laten virus dalam tanaman adalah 6-9 hari (Rivera dan Ou, 1965). Sebagian besar vektor aktif membawa virus dalam waktu satu hari setelah makan akuisisi, sangat jarang terjadi vektor menyimpannya hingga lima hari (Philippine Bereau of Plant Industry, 1988; Ou, 1985). Baik nimfa maupun serangga dewasa dapat menularkan virus tungro, tetapi nimfa akan kehilangan virulensinya setelah mengalami pergantian kulit (Ou, 1985).


Prosiding Seminar Nasional
Inovasi Telnologi Pengelolaan Sumberdaya Lahan Rawa dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan
Banjarbaru, Kalimantan selatan 5-7 oktober 2004

Pengelolaan bahan amelioran untuk pertumbuhan dan hasil buncis di lahan sulfat masam aktual

Pengelolaan bahan amelioran untuk pertumbuhan dan hasil buncis di lahan sulfat masam aktual

Fatimah Azzahra dan Muhamad Najib
Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

ABSTRAK

Budidaya buncis pada lahan rawa terutama pada lahan sulfat masam aktual berhadapan dengan beratnya tingkat cekaman kemasan lahan yang disebabkan oleh tingginya kandungan Al, Fe, dan S. Agar buncis dapat tumbuh optimal dengan produksi yang tinggi pada lahan tersebut diperlukan upaya perbaikan terutama pada sifat kimia lahan dan pengguna varietas yang adaptif. Penelitian dilaksanakan pada MK 2006 di Barambai, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Dalam penelitian ini digunakan Rancangan Acak terpisah dengan 3 ulangan. Petak utama adalah kondisi lingkungan, yaitu K0 = Pupuk dasar setara 90 kg N/ha + 90 kg P2O5/ha + 125 kg K2O/ha; K1 = K0 + kapur dolomit 1 t/ha + pupuk kandang 2,5 t/ha; K2= K0 + kapur dolomit 2 t/ha + pupuk kandang 2,5 t/ha; dan K3 = K0 + kapur dolomit 2 t/ha + pupuk kandang  5,0 t/ha. Sedang sebagai anak petak adalah varietas, yaitu Lebat, Bean Cossa Nastra, Dan Perkasa. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kapur dan pupuk kandang terhadap sifat kimia lahan dan keragaan pertumbuhan dan hasil 3 varietas buncis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kapur dan pupuk kandang pada lahan sulfat masam aktual dapat memperbaiki sifat kimia lahan, yaitu peningkatan nilai pH dan penurunan kandungan Al-dd tanah sehingga keragaan tanaman buncis menjadi lebih baik dan hasil lebih tinggi. Pemberian kapur dan pupuk kandang berpengaruh sangat nyata terhadap skor vegetatif, skor generatif, tinggi vegetatif, tinggi generatif, jumlah polong , panjang polong, dan diameter polong. Varietas berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi vegetative dan jumlah polong, serta berpengaruh nyata terhadap hasil. Dalam kondisi tercekam kekeringan, pemberian kapur sebanyak 2 t/ha dan pupuk kandang 2,5 t/ha (K2) memberikan hasil lebih baik (246,67 kg/ha) dibanding K1 dan K3. Vaietas Lebat memberikan hasil lebih baik (0,242 t/ha) dibanding varietas Bean Cossa Nastra (0,118 t/ha) dan varietas Perkasa (0,112 t/ha).


PENDAHULUAN

Untuk mengembangkan lahan sulfat masam aktual menjadi lahan pertanian yang memiliki produktivitas tinggi akan dihadapi beberapa kendala yaitu kemasaman yang sangat tinggi dan keracuanan Al dan Fe (Ponnamperuma. 1977) dan kahatnya unsur hara N, P, K, Ca, dan Mg (Attananda et al., 1982). Oleh karena itu diperlukan perbaikan pada kondisi kimia lahan tersebut seperti penambahan bahan organik, pemupukan NPK, dan pemberian kapur yang dilaksanakan secara simultan.

Tanaman buncis merupakan salah satu jenis kacang-kacangan yang dapat dikembangkan di lahan pasang surut terutama pada musim kemarau. Menurut Alihamsyah et al,. (2003) komoditas holtikultura sayuran teknik budidayanya lebih rumit dan sangat rentan terhadap kondisi lingkungan yang kurang baik. Komoditas hortikultura sayuran yang adaptif di lahan pasang surut memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding tanamanpangan dan dapat menjadi sumber pendapatan mingguan karena umur panennya yang bertahap. Dierolf et al., (20010 melaporkan bahwa kacang-kacangan dapat tumbuh pada lahan dengan kejenuhan Al berkisar 20-40% bergantung pada kandungan bahan organik lahan.

Penelitian produktivitas buncis pada lahan sulfat masam potensial (SMP ) menunjukkan hasil yang baik (Koesrini et al., 2003), tetapi pada lahan sulfat masam actual (SMA) belum pernah dilaksanakan. Namun  karena perbedaan kedua jenis lahan tersebut terletak pada tingkat kemasaman (pH) maka berdasarkan pengalaman pada lahan SMP peluang untuk meningkatkan produktivitas buncis pad lahan SMA diperlukan penambahan bahan amelioran yang lebih besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bahan organic berupa kotoran ayam dan pemberian kapur terhadap pertumbuhan dan hasil buncis pad lahan sulfat masam.


Prosiding,Seminar Nasional,Pertanian Lahan Rawa
Revitalisasi Kawasan PLG dan Lahan Rawa Lainnya untuk Membangun Lumbung Pangan Nasional
Kuala Kapuas, 3-4 Agustus 2007,Buku II