JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Penyiapan Lahan dan Pengelolaan Jerami Padi untuk Tanaman Padi di Lahan Lahan Pasang Surut Sulfat Masam

Penyiapan Lahan dan Pengelolaan Jerami Padi untuk Tanaman Padi di Lahan Lahan Pasang Surut Sulfat Masam

ABSTRAK

Bahan organik memegang peranan penting dalam sistem produksi padi sawah karena bahan organik menjadi sumber unsur hara bagi tanaman. Pemberian bahan organik jerami padi dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Penyiapan lahan dikaitkan dengan pemberian pupuk organik diharapkan dapat mempercepar proses perubahan kondisi tanah. Penelitian penyiapan lahan dan pengelolaan jerami padi pada pertanaman padi dilaksanakan selama dua musim tanam yakni pada MK. 2002 dan MH. 2002/03 pada lahan sulfat masam di Instalasi Balandean. Dua faktor yakni penyiapan lahan (tajak, tanpa olah tanah dan olah tanah sempurna) dan pengelolaan jerami padi dan interaksi antara penyiapan lahan dan pengelolaan jerami tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman, komponen hasil dan hasilpadi varietas Margasari, kecuali jumlah anakan tanaman 60 hari setelah tanam pada MK. 2002. Dari ketiga bentuk jerami padi, pemberian jerami padi dalam bentuk kompos dapat menghasilkan gabah kering tertinggi yakni sebesar 2,49 t//ha pada MK. 2002 dan 2,62 t/ha pada MH. 2002/03. Sampai 60 hari setelah tanam, C/N-ratio tanah masih relatif tinggi berkisar 21,88 – 27,13 pada MK. 2002 dan 23,82 – 27,41 pada MH. 2002/03, sehingga dapat dikatakan bahwa dekompososo bahan organik masih belum berlangsung sempurna.


PENDAHULUAN

Lahan rawa pasang surut luasnya mencapai 20,1 juta ha, 9,45 juta ha memiliki potensi untuk pembangunan pertanian, dan sekitar 6,70 juta ha merupakan lahan sulfat masam (Widjaja-Adhi et al., 1992). Potensi lahan yang cukup besar tersebut memberikan perspektif bagi pembangunan pertanian dimasa datang, terutama karena lahan-lahansubur di Pulau Jawa telah terkonversi untuk keperluan non pertanian (Matondang et al., 1992; Solahuddin, 1998). Optimalisasi pemanfaatan lahan rawa merupakan upaya strategis dalam rangkapeningkatan produksi pangan, untuk memberikan kontribusi produksi pangan nasional sehingga dapat dicapai kecukupan pangan, memperkuat ketahanan pangan dan mengurangi impor beras. Oleh karena itu perlu didukung oleh inovasi teknologi atau teknologi budidaya yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan mampu mengatasi faktor pembatas yang ada.

Beberapa karakter tahan lahan sulfat masam kurang menguntungkan bagi usaha pertanian pangan, diantaranya kemasaman tanah yang sangat tinggi, tingkat kesuburan tanah rendah terutama kahat unsur hara (NPK) dan timbulnya keracunan besi dan asam-asam organik (Sarwani et al., 1994). Oleh karena itu untuk meningkatkan produktivitas lahan diperlukan pengelolaan tanah dan hara, sehingga lahan yang kurang subur menjadi lahan yang produktif dan hal ini dapat dilakukan melalui pemberian pupuk seperti pupuk organik dan cara penyiapan yang tepat sesuai kondisi lahan.

Sistem pertanian organik dipandang perlu penerapannya di lahan rawa pasang surut mengingat kondisi lahannya yang riskan terhadap munculnya keracunan besi. Isu kerusakan lahan dan lingkungan akibat penggunaan bahan kimia sintetis secara terus menerus seperti pupuk anorganik (Sugito et al., 1999), konservasi kelestarian sumber daya alam dan degradasi lahan yang tidak terkendali dan berkelanjutan sistem usahatani menjadi perhatian semua pihak. Untuk maksud tersebut menyebabkan penggunaan pupuk organik menjadi penting dan perlu digalakkan, karena selain dapat meningkatkan kandungan bahan organik tanah juga dapat menjadi sumber unsur hara bagi tanaman. Disamping itu bahab organik juga dapat memegang peranan penting dalam sistem produksi padi, dan pelapukannya dapat memperbaiki sifat kimia dan fisik tanah (Widjaja-Adhi, 1997).

Terdapatnya lapisan pirit (FeS2) di dalam tanah pada lahan sulfat masam yang kedalamannya sangat bervariasi dari satu lokasi dan lokasi lainnya dapat menimbulkan masalah terutama dalam kaitannya dengan penyiapan lahan. Pirit perlu dikonservasi dan diusahakan tetep stabil di dalam tanah, karena jika pirit terekspose atau terangkat ke permukaan tanah akan mengalami oksidasi dan dapay memasamkan tanah serta dapat menimbulkan keracunan besi pada tanaman padi (Widjaja-Adhi, 1997).

Hasil penelitian yang telah dilaporkan, bahwa pemberian bahan organik berasal dari jerami padi yang potensinya cukup banyak memberikan pengaruh baik, selain dapat mensuplai kebutuhan unsur-unsur hara bagi tanaman padi juga dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara dalam tanah dan dapat meningkatkan hasil padi serta dapat memperbaiki sifat kimia tanah ditandai dengan menurunnya konsentrasi Al, Fe san SO4 (Indrayati dan Jumberi, 2001). Pertimbangan lainnya, adalah penambahan pupuk organik melalui pemberian pupuk kandang semakin sulit dan mahal. Oleh karena itu konsep pemanfaatan jerami padi yang potensinya besar secara in-situ atau eks-situ akan memberikan manfaat untuk memperbaiki dan meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mengurangi penggunaan pupuk buatan.

Cara penyiapan lahan yang konservatif terutama terhadap pirit yang terdapat di tanah sulfat masam memberikan pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan tanaman padi di lahan pasang surut (Simatupang et al., 1998). Salah satu diantaranya adalah dengan sistem tanpa oleh tanah (TOT) dengan menggunakan herbisida dapat menekan tereksposenya pirit ke permukaan tanah dan mengurangi keracunan besi pada tanaman padi sekaligus dapat mengendalikan gulma yang merupakan faktor pembatas produksi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari cara penyiapan lahan, pengelolaan jerami padi dengan berbagai bentuk yang dapat diaplikasi ke dalam tanah sebagai sumber hara dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman dan hasil padi di lahan pasang surut.


Prosiding Seminar Nasional
Inovasi Telnologi Pengelolaan Sumberdaya Lahan Rawa dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan
Banjarbaru, Kalimantan selatan 5-7 oktober 2004


Strategi Pengendalian Hama Penggerek Batang Padi Tanpa Insektisida Sintetik di Lahan Pasang Surut

Strategi Pengendalian Hama Penggerek Batang Padi Tanpa Insektisida Sintetik di Lahan Pasang Surut

ABSTRAK

Sulitnya mengurangi penggunaan insektisida kimia atau biasa disebut insektisida sintetik disebabkan belum adanya cara pengendalian lain yang efektif. Insektisida sintetik mudah aplikasinya karena siap pakai dan hasilnya lebih cepat terlihat. Padahal telah banyak dilaporkan bahwa insektisida sintetik bukan saja berdampak negatif terhadap lingkungan, namun juga terhadap kesehatan manusia. Akan tetapi di beberapa daerah di lahan pasang surut masih banyak yang tidak menggunakan pestisida dalam berusahatani padi terutama bila menanam padi varietas lokal. Ada beberapa cara bercocok tanam padi yang biasa dilakukan oleh petani di lahan pasang surut yang dapat menekan populasi penggerek batang padi, yaitu memotong turiang padi dan membiarkannya sampai membusuk, tanam pindah yang dilakukan beberapa kali, memotong daun pada saat tanaman akan dipindahkan. Cara-cara tersebut dapat menggagalkan penggerek batang yang berdiapaus untuk menjadi imago, membunuh larva yang ada di dalam batang dan menggagalkan telur menetas menjadi larva. Selain itu dengan adanya tumbuhan Eleocharis dulcis yang secara alami berperan sebagai tanaman perangkap dan melimpahnya musuh alami, maka kerusakan padi yang disebabkan oleh penggerek batang sangat rendah setiap tahun hanya berkisar 0,1 - 1,0 % saja. Berbeda dengan di lahan pasang surut yang menanam padi dua kali setahun (padi lokal-unggul), banyak petani yang menggunakan pestisida diantaranya insektisida sintetik untuk mengendalikan penggerek batang padi. Ada strategi pengendalian penggerek batang padi yang tujuannya menghindari penggunaan insektisida sintetik atau setidaknya mengurangi frekuensi penggunaannya, yaitu melakukan waktu tanam yang serentak, menggunakan pupuk nitrogen yang tidak berlebihan, waktu pemberian kalium yang tepat, menata tumbuhan Eleocharis dulcis sebagai tanaman perangkap dan menggunakan insektisida nabati.


PENDAHULUAN

Peran pengendalian hama serangga dalam kaitannya dengan kehidupan manusia, khususnya sistem pertanian dirasa semakin penting. Pengendalian hama telah berevolusi dari waktu kewaktu sesuai dengan perkembangan pertanian itu sendiri dan perkembangan teknologi pengendalian dan ilmu pengetahuan yang melandasinya. Sekarang pengendalian hama telah mencapai suatu tingkat yang cukup kompleks dalam suatu sistem manajemen pertanian. Penggunaan insektisida sintetik yang sangat luas tidak hanya mempengaruhi kehidupan serangga tetapi juga sistem fauna dan flora, lingkungan fisik dan kesehatan manusia (Manuwoto, 1999). Selain itu insektisida sintetik memiliki sifat non spesifik karena dapat membunuh organisme lain diantaranya adalah musuh alami yang harus dipertahankan keberadaannya (Muller, 1990 dalam Arinafril dan Muller, 1999; Thamrin et al., 1999).

Penyebaran hama penggerek batang padi di lahan pasang surut Kalimantan Selatan dan Tengah sangat luas dan tergolong sebagai hama potensial (Thamrin dan Asikin, 2002). Walaupun demikian, sampai saat ini tidak pernah terjadi serangan yang eksplosif seperti yang terjadi di Jawa. Hal ini disebabkan waktu tanam yang serentak, cara tanam seperti memotong turiang padi dan membiarkannya sampai membusuk, tanam pindah yang dilakukan beberapa kali, memotong daun pada saat tanaman akan dipindahkan, sehingga dapat menggagalkan penggerek batang yang berdiapaus untuk menjadi imago, membunuh larva yang ada di dalam batang dan menggagalkan telur menetas menjadi larva. Cara bercocok tanam seperti ini hanya dilakukan untuk usahatani padi lokal yang umurnya kurang lebih 240 hari. Sedangkan di daerah pasang surut lainnya yang menanam padi dua kali setahun selalu menggunakan pupuk dan insektisida sintetik dengan dosis tinggi terutama untuk varietas unggul, sehingga sering terjadi kerusakan padi yang disebabkan oleh hama serangga (Thamrim et al., 1997).

Makalah ini menyajikan beberapa cara budidaya padi di lahan pasang surut dan faktor-faktor lainnya yang dapat menurunkan populasi hama penggerek batang padi tanpa menggunakan insektisida sintetik.


Prosiding Seminar Nasional
Inovasi Telnologi Pengelolaan Sumberdaya Lahan Rawa dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan
Banjarbaru, Kalimantan selatan 5-7 oktober 2004