JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Pengaruh Ameliorasi Terhadap Tanaman Lobak pada Tanah Gambut Pasang Surut, Kalimantan Tengah

Pengaruh Ameliorasi Terhadap Tanaman Lobak pada Tanah Gambut Pasang Surut, Kalimantan Tengah

Yuli Lestari, Rosmini Humaire, R. Smith Simatupang dan Nurtirtayani

Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

Abstrak

Lahan gambut mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi areal pertanian termasuk sayur-sayuran. Namun pada pengelolaannya perlu perbaikan seperti pemberian bahan amelioran (ameliorasi). Pemberian bahan amelioran dimaksudkan untuk memperbaiki kondisi tanah seperti meningkatkan kesuburan tanah, meningkatkan pH tanah dan menurunkan asam asam organic beracun di dalam tanah sehingga meningkatkan pertumbuhan tanaman. Penelitian lapang yang bertujuan untuk mendapatkan bahan amelioran yang sesuai untuk pertumbuhan dan hasil lobak di tanah gambut pasang surut, dilaksanakan di Desa Kanamit, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan tengah. Perlakuan disusun secara factorial menggunakan rancangan acak dengan kelompok 3 ulangan. Dosis pemberian kompos yaitu (1) Tanpa kompos, (2) Kompos 2,5 t/ha, (3) Kompos 5 t/ha merupakan factor pertama, sedangkan factor kedua yaitu pemberian (1) Dolomit 2 t/ha, (2) Fosfat alam 2 t/ha, (3) Dolomit 1 t/ha + fosfat alam 1 t/ha dan (4) tanpa dolomite dan fosfat alam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya pemberian kompos yang berpengaruh nyata sedangkan pemberian dolomit dan fosfat alam serta interaksinya tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil lobak. Hasil umbi segar yang mendapat perlakuan kompos 5 t/ha adalah 25,17/ha dan nyata lebih tinggi dibandingkan perlakuan tanpa pemberian kompos dan kompos 2,5 t/ha yang hasilnya masing-masing adalah 17,50 t/ha dan 19,89 t/ha.


Kata kunci: lahan gambut pasang surut, ameliorasi, lobak

Pendahuluan

Lahan gambut mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi areal pertanian. Oleh karena tanah gambut mempunyai bobot jenis (BD) yang ringan dan mengandung bahan organic yang tinggi maka sangat sesuai untuk budidaya sayuran.

Permasalahan pada tanah gambut dalam budidaya sayuran adalah kesuburan rendah, kemasaman tinggi dan adanya asam-asam organik hasil dekomposisi anaerob yang bersifat racun bagi tanaman. Oleh karena itu dalam pemanfaatan lahan gambut harus didasarkan pada konsep menyehatkan tanah lebih dahulu (Abdurachman et al., 1998).

Konsep penyehatan tanah gambut dapat dilaksanakan melalui pemberian bahan amelioran (ameliorasi). Ameliorasi tanah gambut bermanfaat untuk menekan kadar asam organik yang beracun, memperbaiki pH tanah, serta meningkatkan ketersediaan hara melalui perbaikan tapak jerapah tanah gambut. Kapur pertanian (kaptan dan dolomite), abu sekam, pupuk kandang, pupuk organic dan fosfat alam (rock-phosphate) dapat digunakan sebagai bahan amelioran (Subiksi, 2000).

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kation polivalen seperti Fe dapat menekan reaksi asam-asam organik dalam tanah gambut (sabiham dan ismangun, 1996; Subiksa, 2000). Asam-asam organik akan membentuk ikatan komplek yang sangat stabil dengan kation Fe, sehingga asam-asam organic tersebut tidak beracun dalam jangka waktu yang lama. Ion fe mempunyai ikatan kompleks dengan asam organic yang lebih kuat dibandingkan dengan ion-ion lainnya. Urutan kekuatan ikatan kompleks tersebut adalah Fe > Cu > Al > Zn = Ca > mn (Abdurachman et al., 1998). Penggunaan bahan ameliorant seperti kompos purun tikus (Eleocharius dulcis) dan kelakai (Stenochlaena palustris), yang banyak tersedia di kawasan rawa pasang surut memberikan prospek yang baik karena kandungan Fe cukup tinggi.

Salah satu jenis sayur-sayuran yang berpotensi untuk dikembangkan di lahan gambut adalah lobak (Raphanus sativus L). Lobak termasuk sayuran umbi dari suku kubis-kubisan (Cruciferae atau brassicaceae). Tanaman lobak dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi (pegunungan). Kondisi tanah yang subur, gembur, mengandung bahan organik, lapisan oleh tanahnya cukup dalam dan tidak mengandung krikil sangat diperlukan untuk pertumbuhannya. Selain itu kemasaman ph tanah yang sesuai berkiasr antara 6-8 (Rukmana, 19950. Oleh karena itu perlu ameliorasi untuk meningkatkan pH dan kesuburan tanah.

Tujuan daripenelitian ini adalah untuk mendapatkan bahan ameliorant yang sesuai untuk pertumbuhan dan hasil lobak di tanah gambut pasang surut.


Prosiding Seminar Nasional Pertanian Lahan Rawa
Revitalisasi Kawasan PLG dan Lahan Rawa Lainnya untuk Membangun Lumbung Pangan Nasional Kuala
Kapuas, 3-4 Agustus 2007
Buku I

Penampilan Lima Galur Harapan Padi Hasil Persilangan Varietas Unggul dan Lokal di Lahan Pasang Surut Potensial

Penampilan Lima Galur Harapan Padi Hasil Persilangan Varietas Unggul dan Lokal di Lahan Pasang Surut Potensial


ABSTRAK

Lahan pasang surut potensial adalah salah satu tipologi lahan pasang surut yang memiliki kondisi spesifik lahan pasang surut. Berbagai kendala ditemukan dalam budidaya tanaman di lahan pasang surut. Untuk mengatasi permasalahan tersebut telah diciptakan berbagai teknologi, salah satu teknologi tersebut adalah penggunaan varietas unggul sebagai teknologi yang mudah dan sering diadopsi petani. Varietas unggul lahan pasang surut yang beradaptasi, berdaya hasil tinggi dan diterima konsumen sangat diperlukan untuk mengganti varietas lokal yang ada yang hasilnya rendah meskipun sangat adaptif. Persilangan varietas unggul dan lokal akan menghasilkan varietas-varietas yang mewarisi sifat-sifat kedua tetuanya yaitu beradaptasi tinggi, hasil tinggi, dan umur pendek. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya adaptasi galur-galur padi di lahan pasang surut potensial. Penelitian observasi galur-galur padi dilaksanakan di Inlitra Handil Manarap Kab. Banjar yang merupakan lingkungan lahan pasang surut potensial, pada musim kemarau 1999. Peelakuan yang diteliti adalah 36 (tiga puluh enam) galur padi dengan varietas pembanding Kapuas, IR64, dan IR66. Penelitian dilakukan dengan metode observasi. Hasil penelitian menunjukan terdapat 5 (lima) galur harapan padi yang beradaptasi bagus di lahan pasang surut potensial memiliki pertumbuhan bagus sampai sangat bagus, tinggi tanaman 117,2 cm – 139,6 cm, umur panen sedang (132 – 139 hari), bentuk gabah panjang dan ramping atau selender sehingga akan sangat disenangi oleh konsumen setempat. Galur-galur tersebut adalah GH137, GH173, GH460, GH149, dan GH505.


PENDAHULUAN

Lahan rawa cukup potensial bagi pengembangan dan peningkatan produksi pertanian arealnya cukup luas. Di Indonesia terdapat 39,40 juta ha lahan rawa, terdiri dari 24,70 lahan rawa pasang surut dan 14,70 juta ha lahan lebak; 14,93 juta ha diperkirakan sesuai untuk pertanian dan terdapat di pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya. Luas lahan rawa di Kalimantan adalah 12,76 juta ha menempati 20% dari luas pulau tersebut (tidak termasuk wilayah Malaysia dan Brunei), 4,757 juta ha dinyatakan sesuai untuk pertanian dan baru 2,170 juta ha yang digunakan untuk lahan pertanian (Sabran et al, 1997).

Tanah-tanah rawa pada dasarnya bertataran piasan bagu budi daya tanaman pada umumnya sehubungan dengan faktor-faktor bahan induk yang miskin hara, bersuasana anaerob, banyak yang bergambut tebal, berpirit dan bila dialih fungsikan akan terusik dan mengeluarkan zat-zat yang dapat meracuni tanaman seperti sulfida, besi fero, dan asam-asam organil yang ditandai pH rendah (Maas, 2002).

Sehubungan dengan kendala-kendala yang dihadapi budidaya tanaman pertanian di lahan rawa pasang surut, berbagai teknologi telah disiptakan seperti pengelolaan air, pemupukan dan ameliorasi, teknologi penyiapan lahan dan pengendalian gulma, alat dan mesin pertanian serta pengendalian hama dan penyakit penggunaan varietas unggul, namun, adopsi teknologi itu oleh petani belum lancar, karena beragamnya tipologi lahan dan keadaan sosial ekonominya.

Salah satu teknologi yang mudah di adopsi dan sering langsung digunakan oleh petani adalah penggunaan varietas unggul. Sudah banyak tersedia varietas unggul pasang surut, namun hanya sebagian yang sudah digunakan. Sebagian besar petani masih menggunakan varietas lokal yang lebih mampu beradaptasi pada kondisi lahan pasang surut dan diterima konsumen setempat.

Persilangan varietas unggul dan lokal menghasilkan varietas-varietas yang memiliki sifat-sifat istimewa tetuanya, yaitu beradaptasi bagus dari varietaslokal dan hasil tinggi serta umur pendek dari varietas unggul.

Varietas unggul dapat dirakit melalui program pemuliaan tanaman konvensional maupun non konvensional, yaitu hibridisasi maupun dengan mentransfer gen-gen dengan sifat-sifat istimewa kedalam suatu spesies tanaman. Adaptasi menunjukan sifat yang memungkinkan suatu varietas menghasilkan hasil tinggi pada lingkungan yang spesifik, adaptasi yang luas dikehendaki pada varietas padi pada saat tumbuh pada areal yang sangat luas dimana terjadi penyimpangan kondisi agroklimat (Poelhman, 1987). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya adaptasi  dan penampilan karakter agronomi galur-galur padi di lahan pasang surut.


Prosiding Seminar Nasional
Inovasi Telnologi Pengelolaan Sumberdaya Lahan Rawa dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan
Banjarbaru, Kalimantan selatan 5-7 oktober 2004