JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Pengaruh Pupuk NPK dan Kapur pada Tanaman Kubis di Lahan Lebak Dangkal

Pengaruh Pupuk NPK dan Kapur pada Tanaman Kubis di Lahan Lebak Dangkal

ABSTRAK

Lahan lebak dangkal pada umumnya mempunyai kandungan C-organik tinggi dan tanahnya cukup gembur, sehingga mempunyai prospek untuk pengembangan tanaman kubis yang memerlukan kandungan C-organik tinggi. Lahan lebak dangkal selain C-organiknya tinggi juga mempunyai kesuburan tanah yang lebih baik, karena adanya proses pengkayaan dari luapan air sungai yang membawa lumpur dari wilayah hulu. Penelitian pupuk NPK dan kapur pada tanaman kubis di lahan lebak dangkal, bertujuan untuk mendapatkan takaran pupuk NPK dan kapur yang dapat meningkatkan hasil kubis. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Tanggul Kecamatan Simpur Kabupaten Hulu Sungai Selatan mulai bulan Oktober 2002 sampai dengan Januari 2003. Penelitian disusun berdasarkan Rancangan Acak Kelompok, dengan percobaan faktorial tiga ulangan. Sebagai faktor I, dosis kapur dengan 3 taraf : (1) tanpa kapur, (2) 1 t/ha kapur, dan (3) 2 t/ha kapur. Faktor II, 10 taraf takaran pupuk NPK : (1) 0-0-0, (2) 0-90-60, (3) 45-90-60, (4) 90-90-60, (5) 135-90-60, (6) 135-60-60, (7) 135-30-60, (8) 135-0-60, (9) 135-90-0, (10) 135-90-0. Bibit kubis varietas KK-Cross umur 25 hari (berdaun 4) ditanam pada polybag yang diisi 20 kg tanah. Kapur sesuai dosis diberikan 3 minggu sebelum tanam, sedangkan pupuk kandang 2,5 t/ha sebagai pupuk dasar diberikan 1 minggu sebelum tanam. Setengah dosis pupuk N dan setengah dosis pupuk K2O bersama pupuk P2O5 diberikan pada umur satu minggu setelah tanam, sedangkan setengah dosis pupuk N dan K2O berikutnya diberikan pada umur 4 minggu setelah tanam. Hasil bahwa pemberian pupuk NPK dan kapur serta interaksi keduanya berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman, diameter kanopi, longkar krop dan bobot krop kubis. Sedangkan jumlah daun hanya dipengaruhi oleh pemberian pupuk NPK. Kombinasi pemupukan dan pengapuran yang menghasilkan bobot krop tertinggi (593,3 gram) diperoleh pada pemberian pupuk 45 N – 90 P – 60 K dengan kapur 2 t/ha.

 

PENDAHULUAN

Tanaman kubis (Brassica oleraceae) adalah salah satu komoditas sayuran yang sangat potensial untuk dikembangkan di dataran tinggi dan dataran rendah karena tanaman kubis dapat tumbuh pada semua jenis tanah. Di Indonesia pada umumnya kubis banyak ditanam di dataran tinggi, tetapi setelah ditemukan varietas yang tahan suhu panas, tanaman kubis juga dapat diusahakan di dataran rendah. Lahan rawa lebak merupakan salah satu agroekosistem yang potensial untuk tanaman kubis.

Widjaja-Adhi et al., (1992), memperkirakan luas lahan rawa lebak mencapai 13,28 juta ha, yang tersebar di tiga pulau besar Sumatera, Papua dan Kalimantan. Lahan rawa lebak mempunyai karakter yang khas yaitu terdapatnya genangan air pada periode waktu yang cukup lama. Berdasarkan lama dan ketinggian air, lahan rawa lebak dapat dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu lebak dangkal, lebak tengahan dan lebak dalam. Daerah yang dikategorikan lebak dangkal , dicirikan oleh ketinggian genangan air ? 50 cm, dengan lama genangan < 3 bulan. Lahan ini umumnya mempunyai kesuburan tanah lebih baik, karena adanya proses pengkayaan dari luapan air sungai yang membawa lumpur dari wilayak hulu (Ismail et al., 1993). Selain itu dari hasil penelitian Hairunsyah et al. (1996), menunjukkan bahwa lahan rawa lebak umumnya mempunyai kandungan bahan organik tinggi, dengan C/N juga tinggi sehingga bahan organik tersebut lambat terdekomposisi, sedangkan reaksi tanah tergantung dengan reaksi pH berkisar antara 3,25 – 4,35.

Masalah yang dihadapi dalam usahatani kubis di lahan rawa lebak adalah adanya genangan air pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau yang menyebabkan terjadinya berbagai proses oksidasi di dalam tanah sehingga pH tanah turun dan ketersediaan unsur hara untuk tanaman juga turun, terutama unsur hara N, P dan K (Moehansyah dan Londong, 1983). Menurut Bidwell (1979), kemasaman tanah mempengaruhi ketersediaan berbagai unsur hara dalam tanah dan penyerapan oleh tanaman. Sementara tanaman kubis didalam pertumbuhannya menghendaki tanah yang bertekstur sedang, bertekstur remah (gembur), subur dan banyak mengandung bahan organik dengan pH berkisar antara 6 – 7 (Rukmana, 1995 dan Cahyono, 1995). Oleh karena itu perlu diberikan kapur sebagai amelioran disamping pemberian pupuk yang sesuai dengan kebutuhan tanaman kubis.

Pemupukan dan pengapuran pada dasarnya adalah usaha untuk mencukupi kebutuhan tanaman akan hara agar berbagai proses fisiologis tanaman dapat berjalan dengan baik. Atas dasar pertimbangan tersebut maka penelitian pemberian pupuk NPK dan pengapuran yang bertujuan untuk mengetahui takaran pupuk dan kapur yang tepat sangat penting artinya bagi upaya peningkatan hasil kubis di lahan rawa lebak dangkal.


Prosiding Seminar Nasional
Inovasi Telnologi Pengelolaan Sumberdaya Lahan Rawa dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan
Banjarbaru, Kalimantan selatan 5-7 oktober 2004

Pengaruh Kedalaman Air Tanah terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kacang Hijau di Tanah Sulfat Masam, Kalimantan Selatan

Pengaruh Kedalaman Air Tanah terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kacang Hijau di Tanah Sulfat Masam, Kalimantan Selatan

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kedalaman air tanah yang tepat dalam pengelolaan air untuk mendapatkan hasil kacang hijau yang tinggi. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca BALITTRA Banjarbaru, dari bulan Februari hingga Juni 2000. Tanah yang digunakan sebagai media tanam adalah tanah sulfat masam dari Belandean Kalimantan Selatan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak lengkap, dengan tiga ulangan. Perlakuan yang diteliti adalah perbedaan kedalaman air tanah pada 5 cm, 10 cm, 15 cm, 20 cm, 25 cm dan 30 cm dari permukaan tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan kedalaman air tanah mempengaruhi kadar air permukaan tanah, pertumbuhan, komponen hasil (kecuali jumlah biji per polong dan bobot 100 biji) dan hasil kacang hijau. Semakin dalam air tanah maka kadar air permukaan tanah semakin menurun. Pertumbuhan tanaman paling baik diperoleh pada kedalaman air tanah 15 cm, yang diindikasikan oleh bobot kering tajuk pada fase vegetatif paling tinggi. Komponen hasil seperti jumlah polong per pot dan jumlah biji per pot serta hasil yang ditunjukkan bobot biji per pot paling tinggi diperoleh pada kedalaman air tanah 15 cm. Kedalaman air tanah 15 cm memberikan kondisi yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil kacang hijau di tanah sulfat masam.


PENDAHULUAN

Tanah sulfat masam merupakan jenis tanah mineral yang dijumpai di lahan rawa pasang surut. Dalam kondisi alami, tanah mineral pada lahan rawa merupakan tanah yang umumnya selalu jenuh air atau tergenang. Jenis tanah ini mempunyai potensi yang dapat dikembangkan untuk pertanaman palawija. Namun demikian, keadaan yang selalu jenuh air atau tergenang menyebabkan tanaman mengalami hambatan fisiologis. Oleh karena itu perlu membuang kelebihan air tersebut tanpa menyebabkan lapisan pirit terekspose dan mengalami oksidasi (Abdurachman, 1998).

Menurut Sarwani (2001), kunci keberhasilan pengembangan lahan pasang surut adalah pengelolaan air yang tepat. Prinsip pengelolaan air di lahan pasang surut dapat bersifat pengelolaan air bawah tanah atau pengelolaan air permukaan. Salah satu tujuan pengelolaan air di lahan pasang surut adalah untuk menambah atau mengurangi ketersediaan air permukaan (Saragih dan Noor, 1998). Ketersediaan air dan hara sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Setiap tanaman memerlukan air bagi pertumbuhannya dengan jumlah yang berlainan. Dengan demikian setiap tanaman memerlukan pengelolaan air yang berlainan untuk mencapai pertumbuhan optimal (Suyamto, 1993).

Semua tanaman, termasuk kacang hijau memerlukan ketersediaan air yang cukup. Sebenarnya tanaman kacang hijau merupakan tanaman kacang-kacangan yang tahan kekeringan, sehingga tanaman ini sangat cocok ditanam di lahan kering. Dengan demikian untuk mendapatkan hasil kacang hijau yang optimal pada lahan pasang surut sulfat masam perlu menurunkan genangan air tanah.

Penelitian ini bertujuan untung mengetahui kedalaman air tanah yang sesuai untuk mendapatkan hasil kacang hijau tinggi.


Prosiding Seminar Nasional
Inovasi Telnologi Pengelolaan Sumberdaya Lahan Rawa dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan
Banjarbaru, Kalimantan selatan 5-7 oktober 2004